Part 3

1.1K 220 11

Mereka berjalan mengelilingi taman. Tidak ada pertanyaan atau pembicaraan di antara mereka. Lucas terdiam dan dahinya mengerut dalam seperti ada sesuatu yang dipikirkan. Sedangkan Angelica yang disebelahnya menjaga jarak. Ia sungguh ketakutan saat ini. Bagaimana jika ia akan di bawa ke suatu tempat untuk diberi perhitungan oleh Lucas gara-gara kejadian tadi sore?

Lucas memintanya untuk duduk di kursi taman. Angelica menurutinya karena jika membantah pasti Lucas marah dan itu sangat menyeramkan. Mereka lagi-lagi diam menikmati keheningan malam. Angelica duduk dengan perasaan gelisah. Untuk apa mengajaknya berkeliling tanpa menjelaskan atau bicara apapun. Dari sudut matanya ia bisa melihat sedikit wajah Lucas yang tampan. Rahang yang tegas ditumbuhi bulu-bulu halus.

"Kau mau minum?"

"Ya?" Angelica merubah posisi duduknya menjadi tegap. "Disini tidak ada minuman."

"Ikuti aku," ucap Lucas sambil berdiri. Angelica seperti robot menuruti apa yang dikatakan pria itu. Ia mengikuti di belakang Lucas. Melewati lorong-lorong dan dipojok terdapat sebuah pintu. Lucas membukanya, ternyata itu sebuah perpustakaan yang sangat besar. Buku-buku yang berada di setiap lemari disusun rapih. Angelica terpana dengan ruangan itu.  "Duduklah," Lucas mengambil botol wine dari lemari khususnya. Tak lupa mengambil gelas untuk mereka. Angelica sudah duduk manis meskipun matanya berkeliaran kemana-mana. Pria itu duduk tidak jauh dengannya sambil membuka botol wine. Menuangkannya sampai setengah gelas. Ia menyerahkan gelas untuk Angelica. "Ini."

Angelica segera meraihnya dengan gugup. Ia seperti orang bodoh saja, pikirnya. Dengan gaya yang begitu jantan Lucas menyesapnya sedikit demi sedikit. Ia menopang kakinya seraya matanya meneliti Angelica.

"Apa kau kerja di kantor Robert?" tanyanya ingin tahu. Lucas tidak mengenali wajah Angelica. Saat pengawalnya memberikan semua daftar yang kerja di kantor Robert tidak ada Angelica.

"Eum," Angelica menelan salivanya dengan susah payah. "Aku hanya menemani seseorang yang bekerja di kantor Robert."

"Siapa?"

"James Daxton."

Lucas terdiam. "Kau kekasihnya?"

Tangan Angelica terangkat, "bukan, bukan seperti itu. Kami hanya sahabat," ucapnya melambat. Tangannya seketika lemas dan jatuh di pahanya saat mengingat perasaannya.

Lucas berdehem, bisa tahu jika ada sesuatu di antara mereka. Ia pandai membaca wajah seseorang. "Kau menyukainya," ucapnya.

Mata Angelica melebar, "tidak!"

"Kau tidak bisa membohongiku."

"Aku tidak menyukainya!" Angelica mulai terpancing emosi.

Lucas terkekeh, "tapi dari matamu itu tidak bisa bohong."

Angelica tertegun, "kau tidak tahu apa-apa." Ia meneguk winenya sampai habis.

Lucas tersenyum miring. "Mau nambah?"

"Boleh."

Lucas bergerak menuangkan kembali winenya. "Kalau kurang kau bisa menambah beberapa botol lagi."

"Sungguh baiknya dirimu," ucap Angelica kesal. Ia meminum kembali. Menyinggung perasaannya pada James membuatnya lupa diri. Terutama jika ada yang tahu tentang perasaannya.

Lucas memperhatikan Angelica dari atas sampai bawah. Make up natural membuatnya terkesan tidak seperti tamunya yang lain. Belum lagi lekukan dada Angelica yang membuatnya memanas. Sedari tadi matanya tidak lepas dari itu. "Terimakasih. Siapa namamu?"

"Angelica.." ucapnya.

"Angel.. Seperti orangnya.." ucap Lucas dengan penuh arti.

"Namamu?" tanya Angelica.

Love Me (In Google Play Book)Baca cerita ini secara GRATIS!