Miss Careless

73 7 0
                                        

Namanya Sita, Di dalam kelas saat jam pelajaran kosong dikarenakan guru tidak dapat hadir, ia sedang sibuk mengerjakan latihan Matematika. Ia senang mengerjakan latihan soal dijam-jam pelajaran kosong. Ia tidak mau posisi sebagai siswa terbaik direbut rivalnya.

Diawal, ia tak pernah menganggap lelaki itu rival, namun sifatnya yang selalu membuat orang mendidih, membuatnya kesal kepadanya dan ia anggap lelaki itu rivalnya. Tapi, Sita  ataupun dia sering bersaing mewakili sekolah untuk mengikuti olimpiade Sains ataupun Matematika. Bukan hanya olimpiade, disekolah mereka selalu berebut posisi juara umum.

Tahun lalu, saat duduk dikelas X Sita yang menempati posisi itu, namun dikelas XI saat semester ganjil, lelaki itu yang mengambil alih posisi tersebut. Semester genap ini? Sita bertekad akan mengambil kembali posisi itu.

Namun, seperti banyak di ketahui, Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Ya, meski Sita memang pintar, teman-temannya mengatakan bahwa ia sedikit ceroboh. Tidak, bukan sedikit, tapi sangat. Namun, anehnya Sita tidak pernah merasa memiliki sifat itu.

Saat ia hampir menyelesaikannya nomor terakhir, tiba-tiba dari luar pintu kelas, Tika temannya berteriak

"Sitaa, dipanggil Kepala Sekolah agar segera ke ruangannya" ucapnya.

Ia pun melihat ke arah Tika

"Oiya. Aku segera kesana." ucapnya dan ia pun berhenti mengerjakan latihan soal dan berdiri dari kursi. Saat mulai melangkahkan kaki, tanpa sengaja ia menginjak tali sepatu yang ternyata terlepas.

Tika yang melihat kearah bawah, agak terkejut karena tali sepatu Sita yang tak terikat dan spontan Tika berkata "Sita, Hati-hati awas ja.." belum selesai Tika memperingatkan, Sita sudah jatuh.

"Aww" ucapnya terjatuh dan dahinya sedikit membentur sisi meja disamping. Ia pun memegang dahinya yang terasa sedikit sakit.

Teman-teman dikelas yang awalnya sibuk dengan dunia mereka masing-masing, langsung menoleh kearah Sita. Menunjukkan ekspresi kekhawatiran karena melihat ia terjatuh. Ini bukan kali pertama ia jatuh. Dua hari yang lalu Sita juga pernah jatuh saat melewati lapangan sambil berlari dengan tali sepatu yang terlepas.

"Sitaa, kamu gapapa? Kebiasaan deh, tali sepatunya ga diiket dengan benar. Pintar sih tapi ceroboh banget" ucap Chika kesal sembari membantunya berdiri.

"Hehe, sorry sorry. I'm okey, Chik. Teman-teman, aku baik-baik saja. Lanjutkan kesibukan kalian masing-masing ya" ucapnya sambil nyengir berusaha menghilangkan ekspresi kekhawatiran mereka.

"Itu dahimu luka karena kebentur sisi meja" ucap lelaki atau yang biasa dianggap Sita rival, namanya Yaris.

Ia pun memegang dahi dan memang mengeluarkan darah namun hanya sedikit.

"Chika, antar Sita ke UKS dulu. Tika sampein ke Kepala Sekolah, Sita jatuh" sambung Yaris dengan ekspresi datar sambil memegang buku pelajaran yang ia baca.

"Aduh, kamu aja deh Yaris, aku mau nemenin Sita. Lagi pun yang dipanggil Kepala sekolah itu Sita dan kamu. Oke ya. Bye" ucap Tika yang sudah menghampiri Sita hendak membawa  ke UKS.

"Yaudah" ucap Yaris bersiap keluar menuju ruangan Kepala Sekolah.

Sesampainya di ruangan UKS, Chika dan Tika sibuk mencari kotak obat di dalam lemari.
Sita? Ia hanya santai karena biasanya memang hal ini sering terjadi.

"Ini sebenarnya cuman lecet doang lo. Gausah ribet banget ngobatinnya dah" ucapnya.

"Sssst. Diem, Ta" ucap Chika sambil membawa kotak obat.

"Besok, aku mau kamu ganti sepatu. Jangan pakai yang bertali deh. Ini keberapa kali dalam 2 tahun kamu jatuh, hah?" ucap Tika mengambil kotak obat dari Chika setelah membersihkan sedikit luka didahinya.

Ia mengambil obat merah dan mengobatinya sambil menekan bekas luka didahi Sita menggunakan kapas.

"Aww, sakit Tikaa" ucapnya sedikit meringis tanda sakit.
"Chikaa, kamu aja deh yang ngobatin. Jangan Tika" ucapnya sedikit kesal.

"Katanya lecet doang, kok sakit?" sindir Chika. Sita pun merengut.

Tiba-tiba Sita tersadar dengan pesan Tika tadi, jadi ia bertanya

"Emm, Kenapa Kepsek manggil kami keruangannya, Tika?"

"Emm, sepertinya ada proyek besar buat kalian berdua, biar kalian ga berantem terus" balasnya sambil perlahan mengobati luka.

"Proyek? Ngawur kamu tuh" balas Sita sambil menyentil dahinya.

"Aduh.." spontan Tika sambil mengelus dahinya dan Chika tertawa melihatnya.

"Oke. Selesai. Udah gih, kamu segera keruangan kepsek" ucap Tika yang telah memberikan plester sebagai sentuhan terakhir.

"Okee. Makasih yaa" ucap Sita tersenyum sambil memegang plester.

"Awas jatuh lagiiii" ancam Tika dan Chika menatap Sita juga dengan tajam agar ia harus berhati-hati.

"Hehe siaaap" balasnya sambil nyengir.

Setelah selesai diobati, Sita pun melangkah keluar dari UKS menuju ruangan kepala Sekolah. Jujur, Sita penasaran apa yang membuat ia dan Yaris dipanggil olehnya. Namun, rasa penasaran itu tentu tidak akan berlangsung lama karena sebentar lagi ia tiba diruangan tersebut.

Sesampainya di didepan pintu ruangan. Ia pun mengetuk dan membuka pintu.

"Assalamu'alaikum, Pak"

"Wa'alaikumussalam. Oh, Sita. Ayo sini, duduk" ucap Kepala Sekolah.

Didalam ruangan, ada Kepala Sekolah, Yaris dan Bu Susi, guru Matematika. Setelah itu, ia pun duduk dihadapan Kepala Sekolah.

"Nah, tadi sudah Bapak jelaskan keseluruhannya kepada Bu Susi dan Yaris, bahwa tiga bulan lagi kamu dan Yaris akan ikut Olimpiade Matematika Nasional di Jakarta" ucapnya.

"Dan, Bu Susi akan membantu kalian selama latihan. Bapak harap kalian bisa bekerja sama dengan baik. Untuk kali ini saja, jangan bertengkar terus. Kerja sama kalian sangat dibutuhkan untuk mengharumkan nama sekolah. Bapak harap kalian bisa memahaminya. Sekarang, kalian boleh kembali kekelas" sambung Kepala Sekolah.

Sita dan Yaris yang mendengarnya saling menatap malas karena mereka harus berada dalam satu projek besar. Benar yang dikatakan Tika.

Miss CarelessWhere stories live. Discover now