London, agustus, jam 07.00
Matahari menerobos masuk jendela kamarku, memancarkan cahaya putih kemenangan atas hitamnya malam di london. Cahaya terang segera menyinari wajahku. Saat ini agustus, meskipun masih terbilang musim panas di london, suhu disini hanya 13° berbeda dengan musim panas di tanah air yang bisa sampai lebih dari 35°, jelas ini masih terasa seperti musim dingin dibandung, bahkan lebih dingin. Walaupun cuaca di london sangat “labil”, bisa tiba-tiba panas hingga 27° dan 30° saat gelombang panas dan lebih sering tiba-tiba hujan, karena itu perkiraan cuaca di BBC weather sangat membantu disini, persis seperti ucapan seorang mahasiswi oxford asal jawa tengah yang duduk disampingku selama 14 jam dipesawat garuda indonesia menuju london. Aku bahkan tidak menanyakan namanya, bodohnya aku. Aroma musim gugur september sudah mulai terasa. Cuaca akan lebih tidak menentu di musim gugur, kadang hangat dan kering atau basah dan berangin. Dimusim gugur nanti adalah ketika daun mulai berguguran dari pohon-pohon dan temperatur akan mulai turun drastis sebagai peralihan musim dingin bulan desember nanti, pertanda akan turunnya salju pertama di eropa.
Tak jauh tampak jam legendaris big ben, penunjuk waktu yang dibuat sangat tinggi sekitar 96 meter rancangan Edmund Beckett Denison dan George Airy dan dibuat oleh Edward Jonh Dent ini pertama kali digunakan pada 1859. Sejak itu menara jam ini menjadi bangunan ikonik kota london yang sangat mendunia yang selalu muncul pada film-film detektif sherlock holmes. Tingginya bangunan yang dibuat khusus hanya untuk jam, bagiku sangat berefleksi sebagai pentingnya waktu untuk umat manusia, waktu kadang dapat sangat terasa lambat dan suatu waktu kadang bisa terasa cepat tergantung bagaimana kita menggunakannya. Jalan raya london sudah dipadati oleh mobil-mobil karyawan yang berhilir mudik berangkat bekerja dan klakson mobil yang saling bersautan dan sekali-sekali suara sirine ambulan dan mobil polisi menggretak mewarnai padatnya pagi kota london.
London merupakan salah satu kota paling maju di eropa yang punya daya pikat luar biasa bagi semua orang. Kotanya yang tertata dengan baik dan banyaknya wisata sejarah yang menyuguhkan bangunan-bangun bersejarah yang terawat dengan baik hingga kini menjadi daya tarik tersendiri untuk hidup dilondon.
Waktu sudah menunjukan pukul 09.45 waktu itu, saat aku masih terpikat oleh history kota london, cuaca sudah mulai hangat menyelimuti kota london. Suasana ramai, hilir mudik lalu lalang warga london ditengah hangatnya kota london layaknya derby panas klub sepak bola kota london bagian utara Arsenal dan Totenham Hotspurs yang selalu menarik untuk disaksikan, pertandingan sepak bola yang tidak hanya menampilkan skill mengolah bola para pemain kelas dunia yang menghuni klub tersebut tapi juga syarat akan gengsi siapa yang menjadi penguasa kota london. Sepak bola adalah salah satu olah raga kegemaran warga inggris khusunya london, supporter bola inggris dikenal sangat fanatik dengan klub kesayangannya, tidak jarang terjadi sedikit kerusuhan akibat pertandingan sepak bola, kurang lebih sama dengan apa yang terjadi di indonesia.
Aku hampir lupa dengan apa yang harus aku lakukan hari ini disini, karena terbius oleh kota yang sangat lama aku dambakan untuk kudatangi. Pagi ini aku harus mereview buku novel buatanku kepada salah satu penerbit di inggris, untuk itu aku datang jauh-jauh melewati ribuan kilometer bandung – London untuk mepresentasikan karya anak bangsa kepada dunia. Tujuan pertamaku hari ini adalah London cornery UK, penerbit yang akan menerbitkan novel kebangganku ini. Lokasi penerbit itu terletak dekat dengan travalgar square yang berada dijantung kota London di Westminster, Greater London WC2N 5DN yang dibuat untuk mengenang kemenangan angkatan laut inggris yang memenangkan pertempuran travalgar pada perang napoleon tahun 1805, sebuah kisah heroik namun tragis yang mengakibatkan terbunuhnya laksamana horatio nelson pada perang tersebut yang menjadikan namanya terus tekenang pada sebuah pahatan patung yang berdiri tegak ditengah-tengah travalgar square yaitu monument nelson atau nelson column. Sebuah monumen yang membuatku memandanginya sejenak setelah turun dari stasiun charing cross rute barkerloo.
Awan yang bergulung-gulung di inggris seakan menyambut kedatanganku di travalgar square, seperti mimpi yang entah bagaimana tiba-tiba jadi kenyataan, aku sampai di inggris. Tempat dimana band paling legendaris di inggris the beatles memulai karir gemilangnya, dan tempat dimana grup music british yang sering kali kunyanyikan lagunya, oasis pertamakali menghentakan drumnya. Seketika lagu don’t look back in anger seakan bernyanyi di kepalaku.Disini juga tempat dimana penyanyi Indonesia berbakat kesukaanku maudy ayunda melakukan studynya di oxford university, aku harap mungkin suatu moment aku dapat bertemu dengannya secara kebetulan disini. Tempat dimana perjalanan baru untuk penaku juga dimulai, tepat didepan London cornery UK akupun menghela nafas panjang, sebelum kumasuki langkah demi langkah ruang kantor ini. Aku seorang penulis Indonesia yang tulisannya akan diterbitkan oleh penerbit inggris, hatiku bergetar.
Kumasuki langkah pertamaku di industry inggris, aku harus menemui Mrs. Shine lennon direktur penerbitan london cornery UK. Namamnya mirip dengan vocalis idola seluruh dunia, john lennon, pikirku. Baru masuk beberapa langkah, langkahku terhenti oleh sapaan resepsionis cantik berambut pirang yang mirip pemeran black widow di film avengers, scarlett Johansson, she is so pretty.
“morning sir, my name is lucy, may I help you sir?” sapanya dengan lembut, seraya menyebutkan nama dan menanyakan keperluanku.
“I’d like to meet mrs.shine lennon” jawabku dengan senyum khas orang Indonesia yang ramah.
“are you have appointment sir? What is your name?” tuturnya kembali dengan lembut. Kali ini sambil menanyakan namaku.
“yes sure, my name is rendy hermansyah we have an appointment to meet in here on 11 oclock” jawabku, dengan sedikit gugup karena ini pertama kalinya aku berada dikantor penerbit luar negri walaupun berkali-kali berkelliling penerbit Indonesia yang menolak tulisanku dulu.
“alright, come with me sir” tuturnya seraya berbalik badan mengajakku keruangan mrs. lennon, memperlihatkan tubuh bagian belakangnya yang langsing dan sangat tinggi bak model, pikirku dalam hati.
Sampailah aku didepan pintu ruangan mrs. Lennon, setelah lucy masuk kedalam terlebih dulu untuk memberitahu bahwa aku telah datang, aku deg-degan. Aku mnghela nafas panjang untuk menenangkan diriku sendiri dan mengepalkan tanganku kuat-kuat karena aku tidak dapat menahan rasa gugup yang menjalar ini, seperti saat sd dulu ada seorang anak perempuan yang tiba-tiba mencium pipiku dan aku menangis karena malu kejadian itu dilihat ibuku sambil tertawa. Anak laki-laki yang polos. Sedetik kemudian lucy pun keluar dari dalam ruangan mrs. Shine dan mempersilahkanku masuk. Tidak lupa aku bilang terima kasih kepada lucy, khas keramahan warga indonesia.
Masuklah aku kedalam ruangan mrs. lennon, sambil mngingat-ingat tata cara masuk ruangan saat akan wawancara kerja yang aku pelajari di internet setelah lulus kuliah dulu dan berkali-kali pula gagal wawancara. Aku masih ingat. Ucapkan salam, tutup pintu pelan-pelan dan jangan membelakangi pewawancara dan setelah itu jadilah ramah dan percaya diri. Aku hampir sukses melewati semua tahapan itu dengan benar kecuali yang terakhir, aku masih saja gugup, kakiku lemas. Tapi sedetik kemudian aku sudah duduk didepan mrs. lennon. Dengan rambut blonde yang diikat khas wanita karir inggris, kerut disekitar matanya yang dilapisi kacamata berbingkai hitam klasik sedikit membuatku menebak usianya, mungkin sekitar 40 tahun dan dia sudah menjadi direktur di salah satu penerbit terkenal di britania raya. Karir yang cemerlang, pikirku.
“good morning, mr. rendy hermansyah? How are you today?” sapanya dengan logat british yang kental, hampir aku tidak dengar karena masih menebak-nebak kepribadian calon rekan kerjaku ini.
“I’m fine, thank you, nice to meet you mrs. Shine lennon” ucapku yang masih sedikit terbata karena perasan gugup yang mulai sedikit hilang ini, karena dia menyambutku dengan ramah. Dalam sehari-hari tentu kita lebih banyak menggunakan nama depan dalam menyapa seseorang, baik yang muda maupun yang tua. Namun bila kita berada di negara yang menggunakan bahasa Inggris, beda cerita. Bila kita belum mengenal seseorang dengan dekat, khususnya orang yang lebih tua, memanggil dengan nama depan dianggap tidak sopan, berbeda dengan indonesia, walaupun ini masih tergantung budaya negara tersebut. Tapi panggilan mrs.lennon terdengar sangat keren. Hey jude..
“nice to meet you to mr. rendy. I loved about the theme of your novel, friendship, adventure and Indonesian culture is so amazing to described and to share around the world” sahutnya dengan sangat antusias dengan tidak meninggalkan tata krama bicara ala britishnya.
Seketika aku merinding oleh pujiannya, aku tidak tahu orang inggris tulen sepeti dia akan sangat menyukai tulisanku terutama kultur dari bangsaku. Seketika aku masih terpana oleh jawabannya.
“thanks mrs. Shine lennon, I’m so glad about you say. I loved about the british culture too” dengan hati yang masih bergetar akupun menjawab penyataannya dan memuji kembali tentang inggris. Khas tata krama sunda yang melekat padaku. Dan sedikit basa-basi.
“so, enjoyed your flight yestrday? And i hope your enjoyed london atmosphere this morning.” Dengan senyum dari bibir tipisnya memperpanjang obrolan kami pagi ini.
“i enjoyed every hour i’m doing in the plan, thanks for invited me to here, cause this the first time i fly in the plane and take a breath of london oxygen, it’s awsome haha” ujarku memecah suasana dan mencoba mengakrabkan diri.
“amazing.. it my pleasure could give you the first experience and i hope we will be good relation, oke I think you know what the purpose we invite you here, we will translate your novel in English and publish your novel” ucap mrs.lennon menjelaskan tujuannya dan aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum tanda mengerti.
“and then in October we should promotion our novel to Frankfurt book fair for the first step and the other city of Europe for the next” ucapnya dengan nada yang lebih rendah tapi menekan.
“Frankfurt? Germany you mean?” ucapku dengan nada yang sdikit tinggi karena kaget. Belum selesai takjubku akan London dan sekarang dia bilang akan membawa novelku pada pameran buku terbesar di eropa sebagai langkah awal di jerman, ini bahkan terlalu besar dari yang aku bayangkan.
Seketika obrolan kami menjadi lebih hangat dan membahas lebih tentang teknis sesaat ketika aku menytujui kontrak kami. Aku masih terharan-heran tentang apa yang baru saja aku alami ini, begitu cepat dan begitu besar. Aku yakin ini jawaban tuhan akan doa-doaku selama ini. Ini terlalu besar. Sesaat aku berpikir tentang jerman, tempat dimana ilmuan-ilmuan besar dibidang teknologi dan ilmu pengetahuan telahir, tempat dimana seorang anak bangsa yang kemudian menjadi presiden ke 3 kita Prof. B.J.Habibie menemukan teori keretakan pesawat dan mempunyai ratusan paten akan namanya di bidang aeroplan. Aku akan berdiri ditanah yang sama tempat dia dulu mondar-mandir. Dan kemudian masih akan berkeliling eropa untuk mempromosikan novelku dan bercerita tentang Indonesia yang aku banggakan. Aku tak dapat berhenti merinding. Hampir ku tak bisa membedakan aku merinding karena aku takjub atau karena inggris mulai bertambah dingin karena sudah mulai sore, setelah cukup lama aku diajak ngobrol oleh mrs. lennon dan diteraktir makan siang sambil ngobrol lagi. Sesaat kemudian pikiranku terlempar lagi dimana aku akan tinggal di inggris selama 2 bulan, yang tadinya aku hanya mengira ini akan berlangsung cepat selama 2 atau 3 hari sebelum kemudian aku terbang kembali ribuan kilometer untuk kembali ke tanah air.
Seraya berjalan ke hotel tempat aku menginap semalam pikiranku masih terbang kepada hal-hal menabjubkan yang aku bayangkan akan terjadi dan terlintas sedikit aku harus belanja baju karena aku hanya bawa baju sedikit sampai aku terlupa bahwa 2 bulan ini akan sangat berat dan mungkin akan terasa cepat juga karena aku harus menerjemahkan novel karanganku ke bahasa inggris bersama tim penerjamah London cornery UK. Tapi aku rasa ini akan jadi hal yang hebat.
Frankfurt? I got you.
YOU ARE READING
Lambeth
RomanceAku pikir kamu adalah mimpi yang dapat kukejar, ternyata kamu hanyalah rembulan yang hanya bisa kupandang dari jauh.
