Pagi ini suasana sangat mendukung untuk kembali menarik selimut. Bagaimana tidak? Semalam hujan rintik - rintik cukup lama mengguyur kota kami. Dan alhasil, kondisi yang seperti ini membuat Chelya tak kunjung beranjak dari kasurnya.
Waktu terus berjalan walau chelya tak juga bangun dari tidurnya. Perlahan chelya mulai membuka matanya dan langsung mengintip jam dinding yang tak jauh dari pandangannya. Chelya beberapa kali mengecek waktu yang ditunjukan oleh jam dindingnya. Dan dia mulai histeris ketika benar-benar sadar akan jarum jam yg ditunjukan oleh jam dindingnya.
“MAMPUS..!!!” ujarnya. Chelya langsung berlari ke kamar mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.
“kali ini gue bener-bener bakal mati. Mana pelajaran jam pertama matematika pula. Sial bener gue.” Celotehnya sembari mengenakan seragam sekolahnya.
Chelya buru – buru memasukan buku pelajaran hari ini ke dalam tasnya. Iapun melanjutkan mengikat rambutnya sembari berjalan keluar kamar kost dan menuju tempat sepedanya berada. Tak lupa chelya memastikan kamarnya benar-benar sudah terkunci dan iapun bergegas menggayunkan sepedanya menuju sekolah.
# # #
Hai, kenalin, nama gue chelya. Umur gue sekarang 18 tahun. Gue kelas xii mipa 3. Ya seperti yang kalian baca diatas, gue anak kost. Gue hidup merantau jauh dari nyokap gue. Disini gue juga gak punya sodara sama sekali. Boleh di bilang, gue sebatang kara disini. Tapi semua itu, gak menghalangi gue untuk membahagiakan nyokap gue. Ok, cukup. Kisah gue selanjutnya kayak gimana, baca sampe selese deh ya. Hehheee. Sampai ketemu dalam cerita ya. Dan sebelumnya makasih banyak udah baca yaaa.
# # #
Chelya terus mengayuh sepedanya dengan kecepatan penuh. Berharap dia masih dikasih kesempatan untuk bisa masuk hari ini walau harus menerima sanksi terlebih dahulu. Harapan semakin besar ketika chelya melihat sekolahnya yang tak jauh lagi jaraknya. Chelya berhenti tepat di depan gerbang yang sudah tertutup.
“Pak... paaaaakkk.... pak edi....” teriak chelya dari luar pagar.
Terdengar suara derungan motor dari arah belakang chelya. Motor itu mulai berisik dengan suara klaksonnya. Chelya tak mengiraukan suara klakson dari motor itu. Ia masih tetap berusaha memanggil pak edi, satpam sekolahnya.
Craaattt...
Cipratan air sisa hujan yang menggenang menghantam rok dan juga sepatu chelya. Dan pastinya itu membuat roknya kotor. Chelya kesal bukan main.
“Heh! Kamu bisa liat gak sih ada genangan air disitu?” ujar chelya penuh dengan amarah.
Cowok yang mengendarai motor langsung membuka helm nya.
“gue liat. Emang kenapa?” ujarnya tanpa dosa dan rasa salah.
“ooohh, jadi kamu sengaja?” chelya semakin kesal.
“lu liat tuh, sepeda butut lu, ngalangin jalan. Lagian gue udah klakson juga lu diem aja. Jadi ini bukan salah gue.” Papar cowo itu.
Chelya menggenggam tangannya. Dia masih menahan diri untuk bisa sabar dengan cowok itu. Tanpa banyak ngomong chelya mengambil sisa bekas air minum dan mengambil air genangan dan menumpahkannya ke cowok itu.
“ups.. sorry aku gak sengaja.” Ujar chelya bahagia.
Cowok itu benar – benar kesal dengan apa yang chelya lakukan. Cowok itu langsung mencekik leher chelya. Beruntung karna pak edi langsung datang dan melerai mereka. Cowok itu langsung melepaskan chelya.
“kamu gak apa-apa chelya?” tanya pak edi khawatir.
“gak apa-apa kok pak.”
“kamu juga, laki-laki kok main cekik-cekik saja sama perempuan.”
“dia duluan yang nyari gara-gara” jawab cowok itu.
“kamu tuh yang duluan nyari gara-gara.” Timpal chelya tak mau kalah.
“sudah, berhenti bertengkar. Kalian berdua ikut bapak ke ruang BK”
Mereka pun mengikuti pak edi menuju ruang BK.
# # #
