2. Senja Yang Pertama

17 1 0
                                        

     1 September 2018...

    Senja hari ini terasa sedikit berbeda dari biasanya. Ya suatu penantian dan kesabaran untuk menunggu kepulangan. Sore itu ku duduk berdua denganmu, menunggu sesuatu yang belum pasti kapan ia akan datang. Namun sore itu terasa sangat menyenangkan dan mungkin berjalan begitu singkat. Suara derit rel Kereta seolah menjadi suara pelengkap di sela-sela obrolan yang kita berdua lantunkan. Menatap langit senja bersamamu seolah menjadi sebuah kebiasaan yang menyenangkan sejak saat itu.
    Berlarian… dan saling melempar canda tawa mungkin adalah hal konyol yang kita lakukan sore itu. Hingga pada akhirnya kita lelah dan jatuh untuk daling bersandar dan menatap arah mata angin yang berbeda, dimana aku puas menikmati senja sedang kau puas dengan terlelap di punggungku. Angin musim panas pun datang dan seolah berbisik kepadaku
“Bisakah kita seperti lebih lama lagi ?”. dalam hati ragu… seolah tak percaya mungkin… namun hal itu nyata bukan bayangan maya yang dahulu sering singgah lagi.
    Hangat dan lembut genggam tanganmu sore itu seolah menguatkan ragaku, aku tak lagi sendiri untuk menikmati senja. Kini aku bersamamu, seseorang dengan bayangan yang tak lagi maya, yang dulu selalu aku inginkan kehadirannya. Kau genggam tanganku erat-erat seakan kau tak akan pernah melepasnya lagi. Bayangan kita yang tergambar oleh senja perlahan hilang, dan memudar seiring disertai dengan datangnya kereta yang kita tunggu selama itu di sebuah peron.
Bahumu saat itu seolah menjadi sandaran jiwa yang paling nyaman (mungkin…). Senja perlahan menghilang dan akupun mulai terlelap di tengah perjalanan untuk pulang. Bahumu memang tempat ternyaman untukku menyandarkan semua lelah hari itu, tampak sesekali aku mendengarmu sedang bergumam dan sedikit bernyanyi kecil, yang membuatku semakin nyaman dalam lelapku (mungkin…).
“Aku nyaman bersamamu…”. Seolah menjadi kata yang sering terucap di batin saat itu.
“Apa mungkin kamu juga merasakan hal yang sama denganku ?”.
“lantas apa yag membuatmu bertahan hingga selama ini  ?”. tanyaku dalam hati
“Entahlah… canggung mungkin. Dengan aku yang belum terlalu mengenalmu dan dirimu
mungkin yang belum terlalu mengerti denganku pula. ”
“ah… bodo amat lah. Aku terlanjur nyaman denganmu…”. Entah pertanyaan itu selalu saja singgah di setiap menit.
    Senja sore itu Aku merasa tenang untuk sekedar singgah dan mungkin suatu saat kemudian menetap denganmu. Dimana ketika jari menemukan genggamnya, jiwa yang menemukan sandarannya, dan punggung yang menemukan rusuknya. Disitupun kedua insan manusia akan bertemu dengan takdirnya…  

Menua BersamaStories to obsess over. Discover now