Dear Langit 1

18 3 1
                                        

Hai langit. Bagaimana kondisimu sekarang? Maksudku kabarmu? apa kau baik?. Langit kau tahu aku sedang kesal denganmu.

Kau tahu apa yang membuatku kesal?

Pertama kau selalu memalingkan mata saat kau melihatku.
Kedua kau selalu diam.
Ketiga kau membuatku.... jatuh cinta. Kedengaranya bodoh memang. Tapi entahlah pesonamu membuatku jatuh hati.

Langit aku dan kau mempunyai banyak kesamaan bukan? Dan aku merindukan masa dimana kau menceritakan tentang karangan sang raja padaku. Kau juga suka puisi. Lalu kau mau belajar membuat puisi.

Tapi Langit menurutku puisimu lebih pantas disebut quotes daripada puisi. Alasanya? Karna kau tidak memaki kata kias maupun kata konotaif. Mungkin kau tidak berbakat di dalam berpuisi, tapi kau punya bakat lain. Kau suka menggambar bukan? Menurutku bakatmu lebih condong ke gambar. Aku selalu suka dengan gambaran anime mu itu. Pertama kali ku lihat gambarmu saat kau menggambar Hinta.

Lalu kenapa kau malah ingin belajar puisi?

"Kenapa memangnya salah?" Nadamu naik pitam.

"Tidak salah memang. Bukannya aku membatasimun untuk melebarkan sayapmu ke sastra tapi... untuk apa kau belajar puisi?"

Lalu kau hanya diam. Tatapan elangmu itu mengerikan langit. Saat ku tanya apakah kau sedang jatuh cinta?

Lalu kau berdiri dan pergi dari hadapanku.

Baiklah biarku tebak. Kau sedang jatuh cinta dengan seorang gadis, apa gadis itu menyukai puisi sampai kau rela belajar puisi? Sunggu beruntung sekali gadis itu.

Ngomong-ngomong soal belajar puisi, apa kah kamu sudah menemukan guru puisimu itu? Bukankah dulu ku sarankan kau untuk menghubungi abangku? Aku juga menyarankanmu untuk belajar dengan teman satu tujuan ku?

Jika kau sudah belajar sastra puisi, aku ingin sekali mendengarkannya. Lalu akan ku komentari lagi. Walaupun aku juga tak pandai puisi.

Tapi tak apa lah aku ini salah satu penggemar puisi. Hei apakah kau marah? Duduk lah sebentar aku masih ingin berbicara denganmu.

"Stop panggil aku Langit. Panggil saja nama asliku"

"Hah?! Kau bodoh? Kalu aku menyebut nama asli mu aku akan mendapat masalah"

"Apa masalahnya?"

"Malu. Aku malu kalau orang lain tahu ternyata dirimu ada didunia nyata bukan fiksi dan juga bukan diksi"

Sudahlah Langit mari kita lanjutkan menulis. Banyak sekali pertanyaan untukmu ku harap kau bisa menjawabnya.

Kau punya mulut kan. Kenapa hanya mengangguk? Ku anggap gerakan itu iya.

"Apa alasanmu memanggilku Langit?"

"Hei ferguso. Disini aku yang akan bertanya padamu bukan kau yang bertanya padaku"

"Jawab atau aku enyah dari sini" lihat dia naik pitam lagi.

"Baiklah Ferguso. Kau memiliki jubah dengan warna langit. Warna langit pagi, mendung, dan warna langit malam. Dan jubah itu kau padukan dengan kepala keras darahmu, dimana disitu tertera digit kedua dari tanggal kelahiranku"

Sekarang kau diam. Jawab saja pertanyaan dari ku.

Kenapa kau selalu hadir dimimpiku? Tapi kau selalu diam tersenyum pun tidak pernah. Padahal senyuamanmu itu seperti caya-caya senja.

Walaupun kau belum punya jubah senja itu, Tuhan sudah menciptakan senja itu disenyumanmu.

Bukankah agamamu mengajarkan kalau senyum itu adalah ibadah, tapi kenapa kau selalu mengunci bibirmu, ditambah mata elang yang bisa membunuh siapa saja yang melihatnya.

Kau hanya menjawab dengan diam. Itu lah dirimu sangat  menyebalkan. Aku sudah membuat banyak list pertanyaaa  untukmu. Tapi lihat, kau tidak menjawab pertanyaanku.

Aku tahu kau belum siap. Mari kita lanjut saja minggu depan. Bersiaplah kau akan ku hujani pertanyaan langit.

Dan.

Kau tidak bisa menghidar lagi Ferguso.

Dear LangitTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang