Chapter 1.

28 2 0
                                        

Happy Reading guys:*

___________

"Kringg!!"

Berisik!!! Nggak tau apa kalo gue lagi mimpiin Shawn Mendes.

Padahal baru berapa jam gue tidur udah pagi aja. Mau nggak mau gue harus bangun, mandi, siap-siap buat sekolah.

Gue menuju kamar mandi dengan mata yang masih setia gue pejemin, asli mager bangat gue. Setelah mandi gue memakai seragam putih abu-abu, dan mengikat rambut gue yang lumayan panjang.

"Thalia turun! ayo sarapan." begitulah nyokap gue di setiap pagi. Pintu kamar masih gue tutup rapet, nyokap manggil dari luar.

"Iya." jawab gue singkat.

Nathalia Anggraini Wijaya. Ya itu nama gue. Gue biasa dipanggil Thalia, Umur gue 17 tahun.

Di pagi hari yang cukup sejuk ini gue sibuk dengan mengikat tali sepatu. Biasa lah berangkat school masa nanem padi.

Seorang gadis cantik dengan Rambutnya yang lurus seperti duta shampoo, lembut. Dia masuk ke kamar gue dengan wajah sumringah. Wajah yang serupa dengan gue.

Namun kecantikan bertolak belakang dengan gue.

"Thal, gue duluan ya" gadis itu pun beranjak pergi meninggalkan gue di kamar yang sibuk memakai sepatu.

"Iya udah sono mpo," gue pun tertawa pelan.

Gadis yang gue panggil 'mpo' itu panggil aja Thania. Wajah yang serupa dengan gue cuman bedanya dia lebih cantik dibanding gue.

Nama panjang nya ga beda jauh dari gue Nathania Anggraeni Wijaya. Entah kenapa gue bisa kembar sama gadis cerewet dan nyebelin kayak dia.

Thania memutar tubuh nya menghadap ke gue.

Gue menutup kedua telinga gue dengan tangan, soalnya toa masjid bakalan pindah ke rumah.

"berhenti manggil gue mpo Thal! Panggil gue kakak apa susah nya sih!" wajah nya mungkin mirip kepiting busuk, eh maksut gue kepiting rebus lah.

dia emang kesel kalo gue panggil 'mpo' katanya nggak cocok.

"Masih pagi udah marah-marah aja. Nanti cantik nya ilang lho."Gue terkekeh geli melihat wajahnya. Lalu mendahului dia yang masih marah.

Gue menuju meja makan yang sudah di tunggu oleh seseorang yang membuat gue ada di dunia ini.

Di Bangku lain nya seorang pria berparas tampan dan mata sayu yang membuat gue ingin mencakar-cakar wajah ngeselin nya.

Gue duduk di samping kakak cowok gue yang amat super nyebelin, ngomong sama dia itu selalu serba salah, jawaban nya bikin naik darah.

"Bang, lo nggak ke kampus?" tanya gue sambil mengambil roti tawar yang sudah dibaluri selai coklat sama nyokap.

Abang gue hari ini tumben masih make celana pendek se lutut dan kaos oblong.

"Gue berangkat nya siang ya. dasar!" sambil menarik rambut panjang gue yang gue kuncir kuda.

Padahal gue cuman nanya malah di jambak. Sensi an bangat jadi orang.

"Sakit ogeb!" gue menepis tangan nya.

"Gilang, udah jangan ribut" kata nyokap gue alus, sealus kulit mu. Eaaa, tapi boong.

Gue menjulurkan lidah. Sedangkan abang gue cuman melirik.

Ya abang gue namanya Gilang, nama panjang nya Gilang Saputra Wijaya. Umur dia 3 tahun di atas gue.

Nama Wijaya temurun dari nama bokap gue Yusuf Andika Wijaya.

Without YouWhere stories live. Discover now