"Dyraaaaaaaaaaaaaaaaaa"
Terdengar panggilan ruh jahat dari arah kantin membuat telinga sang pemilik nama pun bergedik ngeri. Siapa lagi kalau bukan Ibu Rumi,guru yang selalu dijahili oleh Ayuna Dyra Almeera atau akrab di sapa Dyra di kalangan teman dan gurunya.
Dyra,sangat suka membuat onar di sekolah layaknya seperti anak lelaki hingga Dyra pun di juluki "The Strong Woman" oleh para teman-temannya,dan tidak salah lagi pastinya Dyra lebih banyak mengoleksi teman sebaya lelaki dibandingkan teman sebaya perempuan,kecuali Alfira Sisila yang kebal berteman dengan Dyra yang gayanya perawakan lelaki alias tomboy.
"Kan gue udah bilang juga" lirih Fira sembari melihat ke arah Dyra yang tengah cengengesan.
"Slow sister,Ibu Rumi mah ahh kecil" ucapnya enteng dengan memainkan ujung jari kukunya.
Langkah sepatu dengan derap langkah yang panjang pun mulai terdengar dekat, Fira hanya berdoa di dalam hatinya agar sahabatnya tersebut tidak membuat kesalahan yang sama lagi. Tiba-tiba Ibu Rumi pun menjewer telinga kiri Dyra dengan kencang,tapi reaksi Dyra pun biasa saja wajar,karena sudah jatah setiap harinya jika hanya jeweran dari Ibu Rumi.
"Sakita,ha?" Tanya bu Rumi dengan melototkan kedua matanya ke arah Dyra. Dengan sigap Dyra melepaskan jeweran tersebut seperti menantang Ibu Rumi untuk membuat perang dunia lagi.
"Allamak,perang dunia lagi" bisik Fira ke telinga Dyra dengan wajah tegang.
"Ibu Rumi cantik dan terhormat,Ibu kan seorang guru yang sangat saya hormati sepanjang hidup saya" puji Dyra dengan mengambil nafas sebelum melanjutkan perkataannya "Ibu tau tidak?"
Wajah Ibu Rumi pun tiba-tiba berubah menjadi seperti ada hal yang mencurigakan dengan memancingkan matanya "bagaimana saya tau,kalau kamu belum beritahu saya? Kamu mau main-main sama saya lagi Dyra?" Jawab bu Rumi dengan nada yang menantang dan wajah yang sudah memerah.
"Wahhh selow dong bu,buru-buru amat mau mainnya" Dyra tertawa disela pembicaraannya,membuat suasana semakin keruh.
Tidak ada yang bisa menebak,apa yang akan terjadi setelah ucapan Dyra barusan. Ibu Rumi pun sudah kehilangan kesabaran,hingga menyeret paksa Dyra untuk mengikutinya.bukan Dyra namanya jika tidak memberontak,ia mengibaskan tangan Ibu Rumi dengan kasar dan kembali menatap matanya seperti ingin menantang untuk berkelahi.siswa pun semakin greget melihat perseteruan itu,tentu saja Ibu Rumi juga tidak merasa enak menjadi tontonan para siswanya.
"Satu,saya tidak melakukan apapun kepada Ibu,"jedahnya dengan mengangkat jari telunjuknya ke arah wajah Ibu Rumi "Dua,kenapa tiba-tiba saja Ibu menjewer telinga saya tanpa alasan.Tiga,dan saya tidak terima Ibu menyeret paksa saya dengan cara yang kasar tanpa memberikan saya alasan mengapa Ibu kasar terhadap siswanya yaitu saya sendiri Ayuna Dyra Almeera,Ibu tidak malu apa di liatin sama mereka-mereka semua. Cihhh..."
Ibu Rumi yang mendengar pernyataan Dyra pun mengerutkan kedua alisnya dengan gigi yang menggerutu,tampaknya ada kesalah pahaman disini.
"Kamu kan,yang taruh kecoa di mangkuk bakso saya?" Tanyanya dengan intonasi penuh penekanan.
"Cihh...nggak ada kerjaan amat bu saya mau ngasih kecoa di bakso Ibu itu. Ibu,sejahat-jahatnya saya,se nakal-nakalnya saya,saya gak pernah membuat hal sebodoh itu ke orang yang lebih tua dibanding saya.saya juga punya otak kali bu." Jawab Dyra,membuat Ibu Rumi semakin membingung.
"Lalu?" Tanyanya lagi dengan wajah kebingunan ke arah Dyra
"Apa? Lalu apa? Lalu,kalau begitu bukan saya bu pelakunya.mentang-mentang saya sering jahilin ibu juga dikirain saya,lahhh macam mana pula.permisi bu saya mau masuk kelas,capek juga diliatin sama orang banyak hampir tiap hari gini udah kaya artis saya bu. Assalamu'alaikum" Dyra pun bergegas pergi dengan menjabat tangan Ibu Rumi sembari menciumnya membuat Ibu Rumi heran dengan tingkah siswanya satu ini.
YOU ARE READING
Hallo Kapten
Teen FictionAyuna Dyra Almeera, "Memilik Hobby berimajinasi, berangan-angan dan berandai-andai mengenai masa depannya. Masa lalu yang silih berganti berdatangan membuatnya merasa terusik. Perempuan yang memiliki wajah datar namun aslinya sangatlah ceria. Sanga...
