Untuk suamiku tercinta, Min Yoongi, aku hendak bertanya pada hatimu, Sayang. Aku tidak akan meminta izin darimu terlebih dahulu seperti biasanya karena kupikir itu semua tidak penting lagi. Kau yang dulu selalu datang sembari membekap tubuhku begitu hangat bersama sederet kelimat manis melebihi butiran halus gula entah mengapa kurasakan berubah.
Memangnya apa yang telah aku lewatkan selama lima tahun kebersamaan kita? Dalam sekali kedipan mata, telapak tanganmu berubah dingin. Dan tahukah engkau bila hatiku pedih karenanya? Ah ... kurasa tidak. Bukankah begitu? Dirimu tidak lagi menempatkan pusat atensi pada raga ini. Jiwamu yang dulu bersanding bersamaku berlalu secara tersirat, seolah ikatan kita hanya sebatas simpul sepatu yang dapat leluasa kau ikat-lepas.
Aku beruaha lapang meski di balik semua ketegaran palsu ini terselip perih pada luka menganga yang tersirami garam. Melihatmu selalu mengabaikan dan tak pernah lagi sudi mengungkap cinta telah banyak membuat air mata ini membendung. Dan seolah semua itu belum cukup, hatiku serasa jatuh berkeping begitu manikku menangkap bayangmu tengah mencumbu wanita lain di kamar milik kita.
Aku bersama angkara yang meluap hanya mampu diam membisu. Cukup hatiku saja yang menjerit pilu. Bibir ini tak kuiznkan mengungkap semua kegundahan. Karena air mataku telah menggambarkan betapa laranya hati di balik sosok tegar ini.
Jika kau yang menjadi priaku tidak lagi mampu memberi cinta, maka aku yang menjadi wanitamu akan melakukan hal serupa. Jangan pernah anggap semua yang ada pada diriku hanyalah sebuah lelucon hingga dapat kau permainkan sesuka hati. Aku bukan wanita bodoh, asal kau tahu. Bukan pula sosok munafik yang dengan keteguhan hati menerima setiap tindak apatismu.
Maka, kala fajar masih meraja ditemani hembusan angin yang menerbangkan helaian anak rambut kita, kau yang berdiri di sisi jendela sementara aku yang duduk di tepi ranjang saling memunggungi, masih terjebak dalam jalan pikiran masing-masing.
Aku hanya melirikmu sekilas lewat ekor mata, diam-diam menahan rindu yang membuncah meski pada akhirnya aku memilih berujar bersama vokalku yang terdengar lirih, "Mari akhiri semua ini, Min Yoongi. Rumah kita telah berubah menjadi ruangan kosong dan aku rasa kita sama-sama enggan untuk menempatinya lebih lama lagi." []
YOU ARE READING
Empty ✔
FanfictionHari ini aku berkunjung ke rumah yang kau bangun untuk kita. Bersama harap yang menyentuh angkasa, kutarik tuas pintu hingga derit memilukan terdengar samar, kala hampa menyambutku membawa hambar. Di sana, kau tak ada menyambutku dengan rona, memili...
