Beberapa saat setelah palang pintu kereta api di jalan yang tua itu terangkat sempurna, Ami melanjutkan langkahnya yang tadinya terhenti akibat kereta yang numpang lewat sesaat. Sepasang netranya meniti seluk beluk jalan.
Genangan air bekas hujan tadi malam, lampu jalan yang berdebu, rerumputan dan ilalang yang tumbuh di sela-sela retakan aspal, oh bahkan warna aspalnya sudah sangat memudar, pikir Ami. Warnanya yang dulu hitam gelap sekarang sudah berubah kelabu.
Semilir angin menyisir lembut bunga sakura hingga jatuh dari rantingnya, beberapa mengenai tubuh Ami yang kecil. Gadis berkulit putih susu itu tengah menuju sekolahnya , SMA Kulkyung, Busan. Perasaannya tenang sekali pagi ini.
Mungkin karena Taehyung tidak ikut nimbrung dengannya sekarang, suasanapun jadi lebih tenang dan damai. Biasanya sih si alien tengik itu dari sebelum fajar menyingsing saja ia sudah bertengger di depan rumah Ami lalu memanggil Ami keras-keras.
Tapi karena malam tadi ia izin ke Ami bahwa ia mendadak terkena flu dan ibu Tae menyuruhnya untuk istirahat jadi Taehyung tidak sekolah hari ini. Sebenarnya Ami bingung kenapa Tae harus izin dengannya. Bukannya dengan wali kelas, Tae selalu saja minta izin duluan kepada Ami. Iya, Ami tahu kalau dia adalah sahabat Tae semenjak taman kanak-kanak tapi sifat manja Tae itu makin lama makin menyusahkan.
Mau sampai kapan dia bersikap kekanak-kanakan begini? Menyebalkan, gumam Ami sembari mengerucutkan bibirnya.
Di depannya, dari kejauhan, sebuah gerbang sekolah mulai kelihatan.
# # #
SMA Kulkyung terkenal sebagai sekolah paling rindang dan indah kalau musim semi di Busan. Lebih tepatnya musim semi menjelang musim panas. Sebenarnya ketika musim berganti, apapun itu, sekolah itu tetap terlihat indah tapi berhubung Ami suka musim semi, sekolahnya terlihat jadi lebih menarik baginya.
Singkat waktu, Ami pun sampai di kelas. Belum ada siapa-siapa, sesuai ekspektasi. Tidak heran, gadis ini memang selalu datang lebih pagi--terlalu pagi, wajar saja kalau kelasnya masih kosong lompong. Gadis itu menaruh tasnya di kursi, melepaskan jaketnya dan mengibas-ibaskan rambut hitamnya yang masih sedikit basah akibat keramas.
Ia mulai melakukan stretching beberapa kali dan menarik tiga meja lainnya lalu menyejajarkannya dengan mejanya. Ia pun merebahkan tubuhnya diatas jajaran meja itu dengan kaki yang menggantung. Ia suka kalau sendiri di kelas seperti ini. Ia bisa tidur-tiduran seperti ini, bersenandung, hingga mencoret-coret papan tulis dengan gambaran absurdnya.
Jika teman kelasnya mulai berdatangan, ia menyusun kembali meja-meja itu ke tempat semula, mempersilakan teman-temannya untuk menempati meja-meja itu, seakan-akan hal itu normal saja. Kemudian ia kembali ke tempat duduknya, di sisi lain temannya yang mejanya tadi dengan sembarangan di "tiduri" olehnya itu pun hanya mendengus pasrah.
Herannya teman-temannya juga tidak pernah protes, laki-laki maupun perempuan. Mungkin karena ia ketua kelas dan juga ketua pengurus organisasi siswa sekolah, ditambah lagi ia terkenal agak galak dan terkadang dingin jadi siapapun pasti tidak akan berani protes. Buru-buru protes, bahkan kalau mau menanyakan sesuatu dengan Ami saja teman-temannya mikir-mikir dulu. Kalimat apa yang sekiranya membuat Ami tidak tersinggung bahkan sampai membuatnya marah.
Iya, biasanya jika Ami tengah dibebankan banyak tugas, ia akan mulai mengoceh tidak jelas dan menjadi lebih peka dengan kesalahan yang temannya lakukan. Ia bakal mondar mandir di lorong kelas dengan membawa tumpukan kertas, wajahnya mengerut dan berkeringat, mulai menggerutu jika ada sampah di lorong, dan lain lain.
Walaupun begitu, semua orang di sekolah selalu respect dan memaklumi sifat gadis itu. Kerja kerasnya sebagai ketua pengurus dan ketua kelas sungguh berat. Semua beban event kelas, ajang lomba sekolah, pameran sekolah, hampir semua ia ikut berkonstribusi didalamnya. Ia memang sosok pekerja keras dan berkemauan besar.
Parasnya juga cantik, sampai-sampai katanya ia terpilih menjadi ketua karena ia terlihat menarik di foto poster. Hampir 60% siswa disekolahnya adalah laki-laki dan juga hampir dari mereka semua mengaku memilih Ami sebagai ketua. Usut punya usut, itu semua agar mereka bisa melihat Ami mondar mandir tiap pagi. Terkenal-lah ia dengan sebutan "Ketua Cagak" alias ketua cantik galak. Ada ada saja memang, tapi Ami tidak pernah menggubris hal-hal seperti itu. Ia hanya ingin dirinya yang masih muda ini berguna dan menolong banyak orang sekitarnya.
Selang sepuluh menit berlalu, suasana kelas hingga lorong masih sepi-sepi saja. Belum ada tanda-tanda kedatangan teman-teman lain. Ami pun beranjak pergi ke kantin, seperti biasa, membeli roti isi pisang untuk sarapan. Ami memang suka roti isi pisang, ditambah lagi kalau sambil minum susu pisang, perfecto!
Belum satu menit berjalan, ia bertabrakan dengan tubuh seseorang di persimpangan dekat kelas. Keduanya datang dari arah berlawanan lalu membelok pada saat dan posisi yang tepat hingga wajah Ami benar-benar pas mengenai dada laki-laki itu.
Ketika ia sadar yang ditabrak adalah laki-laki, buru-buru ia mundur menjauh. "Mohon hati-hati kalau jalan. Ini jalur dua arah, harusnya kau jalan di bagian kiri", ucap Ami.
Sebelah alis lelaki itu terangkat. Wajahnya (yang imut, tampan, hot, dan cool secara bersamaan) juga sama dinginnya dengan Ami. Namun akhirnya dia tidak membalas perkataan Ami melainkan mendengus sambil menggaruki bagian belakang kepalanya (dan itu terlihat cool juga). Dua detik kemudian orang itu pergi begitu saja meninggalkan gadis itu.
"Wahh sombong sekali? Anak baru udah sok-sokan", ujar Ami geram sambil tertawa terintimidasi. Hampir saja ia mau melayangkan pukulan ke orang itu tapi ia urungkan niatnya karena tentu saja, menjaga image, didepan anak baru.
Iya, Ami tahu kalau lelaki yang bername tag Jeon Jungkook itu adalah siswa baru. Ketahuan dari seragamnya yang masih baru, name tag nya kinclong dan sepertinya si Jeon itu mau pergi ke kesiswaan, karena memang biasanya anak baru hari pertama akan mendatangi ruang kesiswaan terlebih dahulu. Tapi sikap manusia es tadi itu lumayan membuat kesal.
Maksudku, Hey, ini masih pagi? Bisa tidak sih jangan membuat darahku mendidih pagi-pagi ini? ,pikir Ami heran sekaligus kesal.
"..wanJeon jjajeungna (benar-benar menyebalkan).." gerutunya.
Di sisi lain, sang manusia es yang baru saja ditemui Ami tadi berjalan menjauhi Ami, tersenyum.
Sifatnya masih sama, persis seperti dulu.
YOU ARE READING
Wrong Side
RomanceJeon Ami, seorang gadis yang cukup dingin namun disegani banyak orang. Menonjol di lingkungan organisasi di sekolahnya, SMA Kulkyung, Busan. Terkadang sifatnya berkebalikan dari yang biasanya. Itu efek pertemanannya dengan sosok Kim Taehyung, temann...
