#1 The Picasso

157 2 0
                                        

Suara tiupan saxophone yang bersatu padu dengan keyboard, gitar, dan alat musik lainnya, membuat perasaanku damai

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Suara tiupan saxophone yang bersatu padu dengan keyboard, gitar, dan alat musik lainnya, membuat perasaanku damai. Ditambah suasana yang remang-remang dengan aksen lampu biru dan merah neon membuat pengelihatanku tambah arbur. Suhu badanku mulai panas, dan tubuhku terasa ringan.

"No woman no cry!" Pekik sang vocalis melantunkan lirik. Perasaanku makin membuncah.

"No man no cry!" Teriakku, walau pasti tak terdengar, kalah oleh suara musik dan orang-orang sekitar.

Para pengunjung lebih memilih untuk berdansa bersama, menikmati alunan musik. Musim panas memang menyenangkan, karena kau bisa memakai pakaian terbuka, walau sudah malam sekalipun. Dan mereka semua melakukan itu, sambil menari-nari dengan bebasnya.

Aku meneguk gelas besar bir yang tinggal setengah. Baru dua jam ditempat ini, tapi aku sudah menghabiskan dua botol bir berukuran sedang. Aku benar-benar gila hari ini.

Kulihat sepasang kekasih sedang bermesraan sedang duduk didepanku. Seorang lelaki berkulit putih dan berambut pirang, dengan seorang wanita berkulit coklat-aku tidak yakin, apakah dia Asia atau Afrika. Tiba-tiba saja, mereka berpelukan dan berciuman dengan nikmatnya.

Aku memalingkan wajah sambil meneguk gelas birku.

Kepalaku mulai pening. Tapi hatiku terasa sangat plong dan tak ada beban sama sekali. Saking tak ada bebannya, aku mulai tertawa-tawa, padahal tak ada yang lucu. Aku tertawa akan isi kepalaku sendiri.

"Are you okay, Arlee?" Tanya Ben

Aku meletakan gelas bir di meja, sambil menelan birnya. "I'm so good."

Lelaki berambut ikal itu mendekatkan wajahnya sambil tersenyum lucu. "Bagaimana? Menyenangkan, bukan?"

Aku tertawa mendengarnya, dan meletakan kepalaku pelan di lengannya. "Aku belum pernah sebahagia ini sebelumnya!!!"

Baru saja aku berteriak sebahagia itu, tiba-tiba aku ambruk. Kepalaku menghantam meja bar.

"Arlee!" Kudengar samar-samar Ben memekikkan namaku. Aku masih dapat mendengarnya, tapi mataku sangat berat. Seperti dilapisi lem serbaguna, mereka menyatu satu sama lain dengan eratnya. Badanku pun tak bisa bangun, walaupun aku tahu meja ini sungguh keras, dingin, dan tidak nyaman ditiduri.

Musik berganti menjadi yang lebih berdetum. Aku tidak suka musik ini, karena membuat kepalaku seperti mau pecah. Kurasakan badanku melayang, dan musik lama-lama berlalu.

Tiba-tiba saja kakiku mendarat ditanah. Aku membuka mataku, dan pemandangan parkiran yang kudapat. Ben menggendongku keluar.

"Pulang saja ya? Kau sudah terlalu mabuk," ucap pria yang tingginya hanya terpaut 5cm denganku itu.

Kepalaku tidak dapat berpikir walau hanya memikirkan jawaban ya atau tidak, dan tak punya alasan untuk menolak. Akhirnya aku hanya memberi anggukan kecil.

Harmony & SymphonyStories to obsess over. Discover now