1. DI HUKUM

153 32 54
                                        

Gadis mungil berkacamata itu berlarian di sepanjang koridor. Sesekali dia membenarkan letak kacamatanya. Dia harus sampai di kelasnya sebelum keduluan sama guru galak yang satu itu. Tapi naas, nasib buruk menimpanya.

"Alletta kamu terlambat!" suara tegas di belakang Atta mengintrupsinya untuk berhenti.

Takut takut dia menengok dan memandang pak Suripto yang sudah siap memberinya hukuman. Guru itu sangat menyebalkan karena dia dapat muncul tiba tiba. Atta tidak yakin setelah ini dia masih hidup.

"I- iya pak, kan bapak liat sendiri," jawab Atta cengengesan.

"Bagus banget jawaban kamu, nak," pak Suripto menepuk nepuk bahu Atta.

Sialan, modus nih pasti! Atta kan cantik.

"Kamu lari keliling lapangan lima kali kemudian bersihkan toilet!"

Atta cengo menatap kepergian perjaka tua di sekolahnya. Dia menghentakan kaki berjalan menuju lapangan kemudian melaksanakan hukumannya. Sebenarnya Atta tidak perlu capek berlari karena Suripto tidak mengawasi. Tetapi kembali lagi pada teori Suripto suka muncul seenaknya. Lagian itu orang pasti sedang mencari korban lagi.

"Huh, baru sekali putaran kok capek banget ya" gerutu Atta.

"Dasar nih jomblo abadi. Seenaknya aja ngasih hukuman ke Atta padahal hari ini kan Atta ada ulangan."

Atta masih melanjutkan larinya tapi di putaran ketiga dia merasa sangat pening dan mual. Dia baru ingat tadi pagi tidak sempat untuk sarapan karena sudah benar benar terlambat. Sial sekali Atta hari ini.

Larinya semakin melambat. Tidak peduli jika Suripto akan menambah hukuman untuknya. Dia menjatuhkan diri ditengah lapangan dan menutup matanya. Dalam hatinya tidak berhenti mengutuk si tua dari lembah hantu tersebut.

Sedang menikmati udara yang semilir ada sebuah benda yang mendarat tepat di kepalanya. Membuat Atta bangun dan membelalakan matanya. Ia menatap segerombol orang berdiri di depannya mengenakan baju merah menyala. Jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan, bukan karena sehabis lari tetapi-

"Astaga, ini mau ada tawuran ya? ini pasti di belakang Atta ada anak dari sekolah lain nih!" kata Atta kelewat polos.

"Heh!! ngapain bengong di situ?!"

Atta terkejut menyadari pemilik suara seksi yang menyapa telinganya. Kakak kelasnya, Dio adalah si pemilik suara tersebut. Orang yang selama ini membuat jantung Atta jedag jedug setiap berhadapan dengan cowok itu.

"Kak Dio jangan tawuran!"

Teriakan ringan Atta sukses membuat semua orang yang ada di lapangan melongo tetapi kemudian tertawa terbahak bahak. Untung saja Dio sedang bersama sahabatnya jadi tidak ada orang lain yang mendengar ucapan asal gadis itu. Dio menghampiri Atta dan menoyor dahinya.

"Kayaknya otak lo ketinggalan deh di rumah"tutur Dio jengkel.

Bukannya sadar Atta malah memeluk Dio erat.

"Kak Dio jangan tawuran, ntar kalo kak Dio mati Atta sama siapa?"

Teman teman Dio mengedipkan matanya berulang kali. Batin mereka mengatakan turut berduka cita pada sahabatnya yang satu itu. Mereka tahu Atta bukan gadis yang mudah menyerah. Buktinya saja dari awal masuk sekolah gadis itu selalu menganggu Dio.

"Modus lo! jauh jauh sana! Hushhh... Hushhhh..."

Tubuh Atta mundur beberapa langkah akibat dorongan dari Dio. Dia memasang wajah kesal pada cowok di depannya ini. Matanya menatap sekelilingnya dan berhenti pada benda bulat yang mengenai kepalanya. Atta menyadari mereka bukan tawuran melainkan akan bermain basket.

"Kak Dio ga boleh ngusir Atta ntar kak Dio kangen sama Atta loh" ancam gadis itu kemudian menyambar tasnya dan berlari meninggalkan Dio yang meringis kesakitan akibat cubitan Atta di pinggangnya.

"Sialan, cewek gila!!!" teriak Dio.

Atta berlari sembari cekikikan. Seperti biasa dunia harus tau dia senang sekali bisa bertemu Dio. Sebenarnya setiap pagi selalu bertemu, bukan bertemu. Tepatnya Dia akan menunggu Dio di depan kelas cowok itu. Katanya hanya memastikan tidak terjadi apapun pada Dionya karena setiap malam Atta itu selalu risau memikirkan Dio. Pagi ini Atta sedih karena datang terlambat dia tidak bisa berdiri di depan kelas Dio. Namun memang jodoh, tanpa Atta menghampiri Dio. Cowok itu menemuinya di lapangan basket.

"Darimana Dio tau kalo Atta lagi di hukum?" pikirnya sambil terus berjalan.

Jangan mengira Atta pergi ke kelas. Setelah berlarian kesana kemari dia tidak akan mau mengikuti pelajaran. Bukan karena malas tetapi jika Atta ke kelas kemudian ada bu Winda maka habis sudah dia oleh guru itu. Dia akan mendapat hadiah ceramah dan hukuman yang ketiga kalinya. Jadi untuk menghindari hukumannya Atta lebih baik duduk di kantin untuk makan bakso pak Soman. Tentu saja sebelumnya Atta mengirimkan pesan pada sahabatnya untuk mengizinkannya.

***

"Kadi!!" Atta menghampiri Dio yang baru saja selesai bermain.

"Nih minum" ujarnya menyodorkan air mineral yang hanya di tatap oleh cowok itu.

"Iihh, Kadi jangan cuek sama Atta. Yang nunggu kita putus itu banyak!" rengek Atta.

"Gila ya lo! gue bukan pacar lo," seperti inilah Dio, sangat ketus.

Atta menggembungkan pipinya sontak membuat Raka mencubitnya gemas. Raka adalah sepupu Dio, dia sangat menyayangi Atta sekaligus menyayangkan sikap Dio pada gadis itu. Menurutnya, Atta itu gadis yang lucu dan polos namun tidak seperti yang di bayangkan. Gadis itu bisa saja brutal sewaktu waktu.

"Kak Raka ga boleh sentuh Atta, nanti Dio marah."

"Atta sayang, mending lo sama gue aja. Tuh liat Dio malah pergi gitu aja" Raka meraih botol di tangan gadis itu kemudian meminumnya.

"Dasar Dionya Atta, Beku mulu sih kayak gunung es!!"

Usai berteriak Atta kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Dia datang ke kelas dengan wajah berseri sekaligus sedih. Berseri karena bagaimana pun dia berhasil mengganggu cowok itu. Sedihnya masih seperti hari sebelumnya, Dio tidak mau menerima pemberiannya.

"Alletta!!!"

"Sabil!!" balas Atta.

"Atta ih, Salsa kek jangan Sabil" protes Salsabila, sahabat Atta.

"Bagusan Sabil tau, lebih kiyoth."

Salsa menatap kesal Atta yang tidak merasa bersalah. Sedangkan Hana menepuk pundak Salsa menenangkan cewek itu. Hana memang lebih tenang di banding kedua temanya. Tetapi dia juga bukan cewek cupu, dia sangat tomboy dan jutek. Sifat juteknya akan muncul jika berhadapan dengan sahabat Dio.

"Hana dul set, liat peer kimia dong, gue banyak yang belum nih" ujar Atta memasang wajah imut di depan Hana.

Bukannya terlihat imut bagi Hana malah membuatnya mual. Dan ke berapa kali menimpuk wajah Atta menggunakan bukunya. Untung saja bukunya tidak setebal buku sejarah milik Atta yang hampir 8 cm.

Salsa terkikik melihat wajah sedih Atta yang di buat buat. Baru saja ingin meneriaki sesuatu pak Jongki, eh salah, Pak Yos ganteng masuk ke kelas kemudian mulai mengajar. Bersyukur Pak Yos selalu menanyakan peer di akhir karena kalau di awal sudah pasti Atta akan di semprot oleh guru ganteng tersebut.

ALLETTAStories to obsess over. Discover now