"Haruskah kita pindah ke rumah tua ini ma?" ucap gadis remaja itu,
matanya mengedarkan pandangan ke segala arah, rumah itu tampak menyeramkan, sangat tidak terawat, debu dimana-mana dan sangat tebal.
"Kita tidak ada pilihan lain Al," mamanya masih sibuk menata kardus-kardus beirisi barang,
"Tidak bisakah rumah ini dibersihkan sebelum kita datang? ini sangat kotor, kita bisa sakit" Alice masih berdiri mematung, masih dalam proses menerima kenyataan ia akan tinggal dirumah tua yang besar dan kotor ini. Mendengar ucapan Alice tadi mamanya menoleh, bertolak pinggang dan menatap tajam,
"Siapa yang akan membersihkannya? kau tau kondisi keuangan kita sekarang. Bantu mama menata barang-barang ini di pojok, besok kita yang akan membersihkan rumah ini" nada bicara mamanya sedikit meninggi.
Sepertinya mama sudah tak ingin mendengar apapun lagi, ini memang hari yang melelahkan, dan keluhanku hanya menambah beban mama. Pikir Alice.
Setelah menata kardus-kardus itu Alice dan mamanya membersihkan satu ruangan untuk istirahat, baru satu ruangan, tapi sangat melelahkan. Tentu saja, rumah ini sudah kosong selama belasan tahun, setelah nenek Alice meninggal, tak ada lagi yang merawatnya. Bahkan Alice dan mamanya tak pernah berkunjung lagi, mereka juga tak menyewa pekerja untuk merawatnya. Rumah ini dibiarkan begitu saja, diabaikan seperti tak berharga. Setelah selesai membersihkan ruangan itu mereka istirahat. Ruangan yang mereka bersihkan adalah ruangan yang akan menjadi kamar Alice.
Brruukk, terdengar seperti suara benda jatuh, berbeda dengan mamanya yang sudah tertidur lelap, Alice masih setengah sadar, matanya terpejam tapi pikirannya masih bekerja, memikirkan berbagai hal dalam hidupnya, telinganya juga masih dengan jelas mendengar suara tadi. Ia tak menghiraukannya, mungkin hanya tikus pikirnya. Ya,pasti tikus, menjijikan. Tubuhnya bergidik. Dan perlahan ia mulai tidur.
"Al, bangun, ayo kita sarapan, hari ini kita akan sangat sibuk." Teriak mama sambil sibuk membongkar pakaian dalam sebuah kardus diujung ruangan. Perlahan gadis itu membuka matanya, mengumpulkan kesadaran lalu bangkit dengan lunglai.
"Mama masak di dapur kotor?" tanyanya sambil mengucek matanya yang masih enggan terbuka.
"Kita sarapan roti dan susu yang kita beli, tentu mama belum bisa masak dengan keadaan seperti ini, cepat cuci muka dan kita makan," jawab mamanya yang masih sibuk dengan kardus tadi.
"Apa ada airnya? Apa bersih?" Tanya Alice lagi.
"Pakai air botol yang kita bawa dulu. Jangan boros, mama sudah menghubungi seorang tukang untuk membereskanya, dia akan sampai sebentar lagi" jawab mamanya lagi, kemudian ia bangkit dan berjalan menuju dapur.
***
Hari ini mereka bekerja sangat keras, akhirnya rumah yang mereka tinggali sekarang sudah terlihat lebih layak untuk disebut tempat tinggal. Jam dinding sudah menunjukan pukul sepuluh malam, dan mereka baru benar-benar bisa beristirahat. Setelah membersihkan diri dan makan malam Alice pamit untuk pergi tidur. Kali ini ia tidur sendiri, kamar mamanya tepat berada di samping kamarnya.
Rumah ini terdiri dari dua lantai, tidak terlalu besar sebenarnya, tapi untuk ditinggali dua orang, tentu saja ini cukup luas, dan cukup melelahkan untuk membersihkannya. Satu kamar ada dilantai satu, kamar ini dibiarkan kosong, bisa disebut dijadikan kamar tamu, meski mungkin tak akan pernah ada tamu. Dua kamar lain ada di lantai atas, satu kamar Alice dan satu kamar mamanya. Selain itu juga ada ruangan bawah tanah. Ruangan ini tidak dibersihkan, membersihkan dua lantai sudah sangat menguras tenaga, toh ruangan bawah itu juga tak akan terpakai. Karena rumah ini adalah peninggalan orang tuanya, maka mamanya tidak menjualnya, karena bagaimanapun ini adalah rumah masa kecilnya, yang dipenuhi banyak kenangan. Dan pilihan mamanya memang tepat, setidaknya ketika usaha mamanya bangkrut dan tak ada siapapun yang bisa dijadikan sandaran ataupun pegangan, mereka masih punya tempat yang bisa dituju. Meski diawal Alice banyak mengeluh, tapi sebenarnya dia juga bersyukur.
YOU ARE READING
Mirror
FantasyKebangkrutan ibunya membuat mereka kembali ke rumah neneknya yang sudah tak terurus. Suara-suara misterius itu mulai terdengar. Kalung berliontinkan sebuah kunci antik yang diberikan neneknya belasan tahun yang lalu membuatnya masuk kedalam masa la...
