#1 CURAHAT HATI
Dia dikenal dengan Kalilla, KALILLA AL ADZRA jelasnya. Gadis berusia 18 tahun yang hendak mendidik bakti ke sebuah pesantren. Dia gadis periang dan memang selalu mengenakan pakaian yang mini kala di rumah maupun di sekolah. Tak jarang banyak pria meliriknya, namun tak berani mendekatinya sebab ia sosok yang memang dibanggakan oleh sekolahnya masa itu, termasuk diriku. Sebelum berangkat ia memintaku agar menemuinya di sudut taman kota yang tahu kalau aku ada di rumah.
“Kenapa kamu bersedih, Sahabatku? Bukankan pesantren itu tempat yang baik untuk memperbaiki diri mulai tingkah laku, adab, bahkan sopan santun serta ilmu. Kau sendiri dulu yang meminta pada orang tuamu untuk menjadi anak yang sholihah serta berbakti dan paham agama. Kenapa saat masa itu tiba kamu menangis, Sahabatku? Apa kau tak lagi menggebu-gebu untuk meraih cita-citamu kala itu? Janjimu padaku selepas kau lulus dari sekolah ini. Apa kau masih sakit hati atau tidak rela atas ketidak-setujuan orang tuamu atas hubungan yang kau bina dengan Faiq, ABDUL FAIQ.” Sambutku mengusik lamunannya yang sudah cukup lama menungguku.
Gadis itu terbelalak kaget akan kedatangan suaraku, “Sobatku, aku adalah anak gadis yang tak tahu diuntung. Dulu ketika kamu berangkat ke pesantren lebih dulu – aku sempat menemani ibumu mengunjungimu ke pesantren. Bahkan aku merengek meminta orang tuaku agar ke pesantren namun di tampiknya – sebab aku masih seperti bocah dan malah merepotkanmu. Namun setelah aku kembali meneruskan sekolah di jenjang atas, kau satu-satunya orang yang sering ku kirimi surat lewat ibumu menceritakan kisahku dengan teman priaku ‘anggaplah ia pacarku’. Kau selalu membalasnya dengan singkat agar berhati-hati jangan sampai terjerumus sesuatu yang tidak baik. Namun ...”
Gadis itu pun menghentikan kecapan bibirnya, nampak di pipinya mulai basah oleh air mata. Aku yang memandanginya pun ikut merasakan kesedihannya yang ia tampakkan lewat wajah dan matanya. Ku coba berikan sebuah sapu tangan untuknya, walau dia terima tanpa sebatas kata terucap di bibir merahnya.
Gadis itu pun mulai menarik nafasnya dalam-dalam, seolah ingin mengeluarkan segala penatnya kepadaku. Bahkan bola matanya nampak mulai berubah terpancar emosi jiwanya yang selama ini ia tahan sendirian. “Sobatku, maukah kau mendengar ceritaku namun tidak untuk menghinaku serta menjauhiku setelah ini.” Ia memandang wajahku dengan keputus-asaan serta untuk mengetahui kesetujuanku terhadap tawarannya yakni dengan anggukan kepalaku bersamaan helaan nafas panjangnya keluar. “Begini Sobatku, kekawatiranmu saat itu sudah terjadi padaku. Aku tak lagi bisa disebut seorang gadis bahkan untuk menyebut perawan pun tidak pantas buatku. Aku sudah sangat jauh melampaui batas dalam cinta bersama Faiq. Bukan sebatas pegangan tangan, bahkan ciuman pipi dan bibir pun kami anggap wajar – tanda cinta kita. Bahkan lebih dari itu, permintaan bukti cinta pun harus ku layani sebagaimana layaknya seorang suami meminta jatah kenikmatan istrinya.” Tangis gadis itu pun semakin menjadi-jadi dan isakannya terdengar menyesakkan dada. Tak berani ku sentuh hatinya yang sangat rapuh kala itu. Tak ada kata yang sanggup ku ucapkan untuk menenangkannya.
“Kau tahu Sobatku, pantaskah perempuan zina ini memasuki pesantren yang konon terkenal dengan kealimannya bahkan tegas menghukum. Dan kau tentu tahu hukuman apa yang pantas menggantikan rajaman sampai mati kepada wanita zina sepertiku. Tentu tidak ada bukan!” Gadis itu meneruskan luapan emosi sekaligus penyesalannya.
“Kau Sobatku, kau paling mengerti aku – kau selalu menasehati diriku. Namun aku yang khianat kepadamu, Kahlil. Apa kau tak jijik kepada pendusta seperti ku? Wanita hina macam aku! Jawab, Lil.” Katanya disertai amarah besar nampak menghiasi mukanya yang cantik itu.
“Sahabatku, aku bukan seorang hakim yang bijak dan adil. Bahkan ku pikir tidak ada satu pun manusia saat ini bisa bersikap bijak dan adil seperti pintamu. Kau tahu, banyak yang jahat terlindungi oleh sisi luarnya yang nampak baik, terlindungi oleh keluarga yang tahu hakikatnya salah namun seolah mendiamkan saja sebab membahayakan nama baiknya, terlindungi oleh hukum-hukum adat tentang belas kasihan dan toleran. Kau tetap Sahabatku, tetap temanku. Ketahui lah, hukum sekeji itu tak berlaku di Indonesia yang arif ini, negara ini anti Intoleransi. Jadi kau tetap bisa hidup dengan bebas, tinggal hukum Tuhanmu saja yang berlaku untukmu, nanti atau saat ini. Pesantren bagiku adalah sebuah jeruji yang mengajarkan hati untuk mengerti hakikatnya kebaikan dalam hidup yang sebenarnya. Pesantren rata-rata di tempati orang-orang yang belum baik kemudian sadar ingin berproses menjadi baik, jadi bukan berarti pesantren itu hasil jadinya kebaikan, melainkan proses memberlakukan kebaikan. Kau tidak perlu takut, andai kau serius memohon ampun – kemudian berpindah dari comberan ke mata air, bukankah itu akan menjadikanmu lebih baik lagi.” Jawabku sejadi-jadinya.
YOU ARE READING
Rahasia Hati Kalilla
RomanceKalilla Al Adzra Gadis remaja yang beranjak dewasa. Mengenal cinta yang penuh intrik di masa smp hingga dewasa. Kisah ini terinspirasi dari seorang teman yang menceritakan masa lalunya menemui cinta dan keteguhan hatinya. Walau hanya berakhir pada s...
