19. Lemah

1.2K 262 159
                                    

kok saya kerajinan update sih? gpp deh, biar cepet kelar wkwkwk...

Warning: sedia tisu!

###

Juna memacu sepeda motornya cepat, mencari jalan terpendek menuju gua Selarong yang ada di kabuaten Bantul. Sampai disana, semua sudah selesai. Pasien baru saja dimasukkan ke dalam ambulans dengan si baba yang ada didalam. Juna mendekati pak Guntur, seorang kepala polisi yang juga karib babanya.

"Pak, gimana? Pelakunya sudah tertangkap?" tanya Juna, membiarkan mobil ambulans lebih dulu pergi. Pak Guntur kelihatan kaget saat melihat cowok itu, menatap mobil ambulans dengan raut cemas sebelum menyahuti pertanyaan Juna.

"Kamu lagi apa disini, Jun? Di sini bahaya! Baba mu bisa marah, nanti." omel pak Guntur, khawatir. Juna nggak mau mendengarkan.

"Pelakunya sudah ditangkap, pak?" tukasnya, mengulang pertanyaan tadi. Pak Guntur menghela napas letih.

"Belum. Dia nggak ada ditempat saat kami datang. Kamu pulang saja, ya? jagain adekmu. Bapak harus ke RS sekarang." jawab pak Guntur, terburu-buru masuk ke mobil polisi seolah menghindari pertanyaan-pertanyaan Juna.

Cowok itu mengacak rambut hitamnya frustasi. Dia melihat sekeliling dan hanya mendapati pepohonan yang disekitar sebuah rumah kecil. Nggak ada saksi mata yang bisa dia mintai info atau apapun. Mendengus sebal, Juna lalu kembali memacu motornya menuju RS. Dia bertekad untuk mencari tau info sekecil apapun tentang si penculik, pasien Baby Breath dan kejadian hari ini.

Sampai di RS, Juna kaget melihat banyak orang berkumpul didepan ruang Baby Breath. Bahkan pamannya—yang Juna tau bisa membaca pikiran orang, Daniel. Juna buru-buru mendekat, bersamaan dengan si baba yang keluar dari bangsal itu.

"Gimana keadaannya?" tanya pak Guntur, tampak cemas.

"Untungnya nggak apa-apa." jawab si baba, membuat orang-orang itu lega.

"JIH sudah nggak aman. Kita harus pindahkan dia ke tempat lain." ucap salah seorang dokter yang juga bekerja di JIH.

"RSIJ? Atau mau aku reservasikan RS terpercaya dia Bandung?" paman Dan menyahut.

"Kang, kamu tau aku nggak bisa jauh dari dia, kan? Apalagi anak-anak dirumah sendiri." tukas si baba, membuat Juna mengerutkan kening.

"Pindah saja sekalian ke Bandung. Yenni pasti mau bantu jagain anak-anak." balas paman Dan lagi.

"Benar! Ke Belanda atau ke Korea sekalian kalau perlu. Sampai masalah ini selesai dan bajingan itu ditangkap." sahut pak Guntur.

"Tapi kondisi JIH juga nggak sebagus itu untuk ditinggal, pak. Keuangan kami mengalami masalah. Pak Juki nggak bisa pergi begitu saja saat ini." timpal seorang staff JIH. "Sekarang, yang kita hadapi nggak hanya masalah keluarga pak Juki, tapi JIH dan pasien disini juga." tambah staff itu, membuat semua orang dewasa yang berkumpul membentuk lingkaran kecil itu terdiam.

"Benar juga. Kalau dia bisa melakukan pengeboman massal sebelas tahun lalu hanya untuk Eunha, lalu berhasil nemuin dia dan nyulik dari JIH. Bisa saja dia juga melakukan hal nekad dengan rumah sakit ini." gumam pak Guntur, setuju.

'Eunha? Bunda?' pikir Juna, kaget dan bingung.

Paman Dan langsung menoleh dan menatap Juna horor. "Kamu dari kapan ada disitu, Jun?" tegurnya, membuat yang lain juga ikut menoleh. Juna bisa melihat wajah babanya yang memucat saat dia berjalan mendekat.

"Kenapa nama bunda disebut-sebut? Dan, apa maksud kata-kata baba tadi?" tanyanya dengan nada datar. Semua orang langsung salah tingkah, tampak kesulitan menjawab pertanyaan Juna.

Arjuna & Srikandi {√}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang