°1

3.7K 116 5
                                        

Annyeonghaseyo yeorobun!

Welcome to my first story^^
I hope you guys like it

Happy reading!

Rambut sebahu yang sudah kusisir rapi kini berbalik 180° menjadi berantakan bak rumput liar setelah mempertaruhkan tenaga untuk berlari menempuh jarak 2 kilometer agar bisa sampai ke sekolah

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

Rambut sebahu yang sudah kusisir rapi kini berbalik 180° menjadi berantakan bak rumput liar setelah mempertaruhkan tenaga untuk berlari menempuh jarak 2 kilometer agar bisa sampai ke sekolah.

Sialnya, semua sia-sia. Gerbang sekolah sudah ditutup dan kini aku hanya bisa berdiri di depan gerbang bak orang bodoh yang tak tahu harus apa. Kulirik arloji yang melingkar di pergelangan tanganku.

Astaga, aku hanya terlambat 5 menit, apa aku tetap tidak bisa masuk, eoh?

Tanganku berkeringat, kakiku gemetaran.

Tentu saja, sebagai siswi yang menjabat menjadi wakil ketua osis di Geumjeong High School, ini pertama kalinya aku terlambat datang ke sekolah.

Aish, harga diriku bisa hancur kalau sampai satu sekolah tahu bahwa wakil ketua osis mereka terlambat masuk sekolah. Setelah ini aku pasti akan dicap sebagai murid bermasalah sampai kelulusan.

"Ck, selalu."

Aku tersentak kaget. Atensiku seketika beralih pada suara yang baru saja ditangkap oleh telingaku.

Mood ku semakin buruk kala mendapati sosok laki-laki dengan rambut coklat sedikit acak, seragamnya sangat berantakan, tidak memakai dasi, dan dua kancing teratas seragamnya yang terbuka memperlihatkan seuntai kalung dari tali hitam yang tergantung di lehernya.

Kuhela napas seraya memutar bola mataku jengah.

Sudah keberapa kalinya dia?

Sungguh, aku sudah terlampau bosan setiap kali melihat wajahnya karena laki-laki yang berdiri tak jauh dariku ini adalah penyandang rekor murni terlambat di sekolah.

Oh, bukan hanya itu saja, ia juga banyak mencatat rekor pelanggaran di sekolah. Itu sebabnya ia selalu berurusan dengan anggota osis terutama aku dan sang ketua osis.

"Kau ini sebenarnya niat sekolah atau tidak, sih?" Tanyaku sarkatis.

Mendengar itu, ia lantas menoleh ke arahku. Melempar tatapan bingung dengan telunjuk terangkat pun menunjuk dirinya sendiri seraya mengangkat satu alis.

"Aku?"

"Tentu saja kau, bodoh! Lihatlah, hanya ada kita berdua disini." Ketusku.

Ia kemudian memicingkan mata seraya memiringkan kepala. Menatapku cukup lama sampai akhirnya berjalan mendekatiku, mengikis jarak diantara kami dengan netra pekatnya yang masih menatapku. Lekat.

"Berhenti menatapku seperti itu!" Kudorong dadanya yang tadi hanya berjarak beberapa centi dariku.

Dasar gila!

SCHURKEDonde viven las historias. Descúbrelo ahora