1. CUMA ANGAN

15 5 1
                                        

   Pernahkah kamu jatuh cinta pada cinta pertamamu?

   Kalau pernah, apakah kamu sudah ditembak atau tidak ditembak cinta pertamamu?

   Kalau tidak ditembak, apakah kamu berani mengungkapkan perasaanmu pada cinta pertamamu? Atau justru kamu lebih menyembunyikan perasaanmu?

   Kalau kalian bertanya padaku apakah aku punya cinta pertama tentu aku punya. Aku sudah jatuh cinta pada cinta pertamaku sejak aku duduk di kelas VIII. Sudah tiga tahun lamanya aku menyukai cinta pertamaku hingga saat ini rasa itu masih sama.

   Selama itu, aku hanya bisa mencintainya dalam diam. Aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya. Meskipun aku sudah tahu resikonya yaitu cinta bertepuk sebelah tangan. Rasanya memang sakit apalagi ketika melihat dia berulang kali menggandeng orang lain.

   Hah, memang aku kelihatan pengecut tetapi, aku menikmatinya. Menikmati rasa sakit itu. Aneh kan?

   Cinta memang bikin orang gak waras.

   “Nana!”

   “...”

   “Delonna!”

   “...”

   “Delonna Milena Ozera!”

   “...”

Bugh!

   “Aduh!!” aku meringis saat pantatku meluncur indah yang tadinya berada di bangku taman sekarang mendarat di tanah berumput teki karena didorong seseorang. “Sialan kamu, Za!” aku terbangun sambil menepuk rok abu-abu yang kotor terkena tanah lalu kembali duduk di bangku semula.

   Elizabeth atau biasa dipanggil Izza menyunggingkan senyum miring.

   “Gak usah senyum kaya gitu, pasti omonganmu pedes.” Aku sudah hafal sikapnya kalau sudah senyum miring 45 derajat pasti omongan ala-ala sambel mercon keluar.

   “Liatin aja si Julio, di cap pelakor baru tahu rasa!” Tuh, seperti yang aku bilang kan? Izza satu-satunya sahabatku yang kadang sekali ngomong keluar cabe. Pedesnya kebangetan. Untung aku sayang.

   “RONIIIII, DAPAT SALAM DARI IZ-“ teriakku yang langsung dibekap mulutku oleh telapak tangan Izza.

   Aku menjilat telapak tangannya. “Iyuwh, Nana, jijik tauk!”pekik  Izza mengusap tangannya di lengan seragamku.

   Aku tertawa terbahak-bahak. “Aku gak bisa napas tauk, Za! Nanti aku mati kamu kesepian, kan kasihan.”

   “Bodo amat, Na!” Izza mengambil tisu di kantong seragam putihku lalu menariknya selembar dan mengusapkan pada telapak tangan kanannya yang kujilat tadi. “Kamu ngapain sih teriak-teriak manggil cowok cungkring itu?”

   “Cungkring katanya, Roni atletis tauk! Setiap hari minggu dia nge-gym.”

   “Bodo amat!”

   “Sekali-kali terima lah cintanya. Capek tauk jadi tukang pos dia.”

   “Ogah, kamu aja pacaran sama dia daripada ngarepin Julio bertahun-tahun.” Izza melempar tisu bekasnya asal.

   “Buang sampah pada tempatnya kek!” Huft, kebiasaan buang sampah sembarangan. Aku memungut tisu itu dan membuangnya di tempat sampah disebelahku. “Izza, ingat! Roni itu saudara iparku. Adiknya istri Mas aku. Aku gak naksir dia dan dia gak naksir aku. Dia naksirnya sama kamu.”

   Izza mengibaskan tangannya. “Ora ngurus.

   Aku mengerucutkan bibirku. “Lagipula ngapain sih kamu  ngomong-ngomong pelakor segala, aku kan bukan pelakor.”

DELONNAHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora