Prolog

171 59 12
                                        

Dengan menggunakan baju tidur dan sandal jepit, gadis itu, ia berlari menuju jalan raya dan memberhentikan sebuah taksi lalu memasukinya.

Langit yang gelap ditambah angin yang kencang dan suara gemuruh memberikan ketakutan berkali lipat pada gadis itu. Sambil menggenggam tangannya sendiri dengan sangat erat hingga memutih ia merapalkan doa didalam hati berharap ini semua hanya mimpi. Mimpi? Tidak mungkin! Ini terasa sangat nyata untuk dikatakan mimpi. Ia hanya berharap berita yang ia terima sore ini hanya sebuah kejutan karena film yang dimainkannya sukses besar.

Gadis itu mengumpat ketika taksi yang dinaikinya terjebak macet. Ibukota Jakarta sudah akrab dengan kata macet da- Apa? Kalian sudah tau? Ah.. maafkan aku.

Jarak antara taksi dan tempat tujuannya lebih kurang 100 meter lagi. Jika ia menunggu jalanan kembali normal----tidak macet lagi, akan memakan watu sekitar satu jam. Gadis itu segera memberikan uang kepada supir dan keluar dari taksi.

Kegiatan berlarinya pun berlanjut. Ia berlari dengan kaki yang pincang, lengan kiri diperban dan dihisai luka-luka disekitarnya, wajah merah nan pucat, rambut yang berantakan dan bahkan air mata yang sudah ia tahan sedari tadi kini sudah mengalir dengan deras dipipi.

Hampir sampai, ia terus berlari tanpa memperdulikan keterkejutan orang-orang saat melihat dirinya. Yap, siapa yang tak kenal dengannya. Untuk sekedar informasi. Dia, gadis itu adalah salah satu anggota grup yang sedang naik daun 3 tahun belakangan ini.

Kini ia berdiri didepan gedung yang terdapat tulisan besar Rumah Sakit Pelita Jakarta. Dengan nafas yang ter engah-engah ia memasuki gedung tersebut. Berjalan pelan menaiki satu persatu anak tangga dengan tatapan yang kosong. Ia tak siap jika harus menerima kenyataan yang sangat ingin dilenyapkan olehnya agar di dunia ini tak ada lagi kenyataan pahit seperti sekarang.

Tubuhnya merosot, terduduk di atas lantai yang dingin. Kecepatan jantungnya berdetak berkali-kali lipat saat melihat pemandangan didepannya. Seseorang yang ditutupi kain putih hingga kepala dan hanya menyisakan telapak kakinya saja yang terlihat, membuat tangisan gadis itu kini pecah. Tak bisa menerima kenyataan bahwa seorang yang sangat berharga telah dahulu meninggalkannya.

'I'm not ready to let go'

✨✨✨

Halo semua, ini cerita ku yang pertama. Awalnya aku ragu buat menulis cerita ini, aku takut tidak ada yang mendukung atau menyukai karya ku.

Jadi aku sangat berharap kalian meninggalkan komentar dan vote agar aku bisa percaya diri dan melanjutkan ceritanya:)

Terimakasih❣

GALAXYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang