Terik matahari di bulan Agustus terasa begitu menyengat. Tiap sudut kota Yogyakarta dipenuhi orang yang berlalu-lalang. Beberapa mengenakan topi untuk menghalau panas langsung di kepala mereka. Bahkan, suhu sepanas itu tak mampu menghentikan manusia yang sudah berambisi. Langit cerah tanpa awan tak membuat manusia takut berada di bawahnya.
Siang itu, Candi Borobudur begitu ramai. Tak kurang dari tiga-ribu-orang. Mulai dari pengunjung lokal hingga turis mancanegara. Hanya untuk melihat satu dari banyak keajaiban dunia.
Seorang gadis melintas di antara bangunan candi. Dia mengenakan kaos, celana bahan, dan kacamata hitam ala turis lokal. Jalan melenggang di antara bangunan candi. Sesekali mengambil foto dengan kamera SLR yang menggantung di dadanya.
Menyenangkan. Cukup satu kata itu untuk mewakili perasaannya. Dia tak pernah merasa sesenang itu. Terlebih karena dia memohon cuti dari pekerjaannya sebagai arkeolog.
Dua tahun bekerja dengan pengalaman yang menegangkan. Mulai dari membongkar makam kuno di Mesir, menelusuri pertambangan di Amerika, hingga reruntuhan kerajaan Sriwijaya. Tiap kali ekspedisi selesai dilakukan, gadis itu harus bersiap untuk ekspedisi selanjutnya. Tidak ada waktu untuk liburan. Namun, kali ini dia benar-benar mengambil liburannya sendiri. Dia tidak datang ke Candi Borobudur untuk mencari rangka dari manusia purba ataupun mengungkap sejarah misteri pembangunan candi ini. Dia hanya sekadar liburan. Liburan biasa untuk sejenak mengenyahkan sebentar kewajibannya.
Nama gadis itu Irumi. Seorang arkeolog, lulusan universitas ternama di Amerika. Rambutnya lurus sebahu berwarna hitam, dengan poni yang disisir ke kanan. Matanya menatap tegas, tanpa keraguan--menunjukkan wawasannya yang luas. Tangannya saat ini sedang memegang kamera SLR. Kamera itu merekam apapun yang ditangkap oleh lensanya dalam sebuah video. Irumi terlalu fokus pada kameranya.
Bruk ....
Irumi terhempas ke lantai batu di depannya. Sedangkan, kameranya sudah terguling lima meter di depan. Dia benar-benar tidak melihat jalan
"Apa ini?" Tangannya mencoba meraih benda yang membuatnya tersandung.
Sepasang mata itu melotot tidak percaya. Sekarang, di tangan Irumi sudah ada sebuah batu kristal bercahaya hijau. Kristal itu berbentuk seperti belah ketupat yang agak memanjang ke atas. Panjangnya hanya empat sentimeter. Cahaya hijau memancar cukup terang dari kristal itu. Aneh, sepertinya bukan kristal biasa. Gumam Irumi dalam hati.
Ekor matanya melirik ke kiri dan ke kanan. Tidak ada seorang pun yang melintas. Dengan cepat, kristal itu dimasukkan ke saku.
"Sudah cukup liburannya." Dia harus bekerja lagi. Kristal itu benar-benar harus diselidiki.
***
Pesawat dengan maskapai lokal baru saja mendarat di Bandara Husein Sastranegara. Penumpang dari Yogyakarta meninggalkan kabin dan menuju tempat pengambilan bagasi. Gadis itu menolak untuk berbelok ke arah pengambilan bagasi. Seseorang di luar sana sudah menunggunya.
Laki-laki itu melambaikan tangan. Dia setengah duduk di kap mobil sedan berwarna abu-abu. Kacamata hitam diturunkannya dari wajahnya.
"Cepat sekali liburanmu selesai. Apa kau sudah bosan liburan?" Mondi terkekeh ke arah Irumi.
"Sudah, jangan banyak tanya. Aku harus memastikan sesuatu. Kita pergi ke lab sekarang."
"Hei, ada apa ini. Bukannya sebaiknya kau pulang dulu untuk istirahat. Ceritakan dulu apa yang terjadi!"
Irumi menolak untuk memberitahu. Dia sudah masuk ke mobil sedan abu-abu itu. Mondi kehabisan akal. Mau tak mau dia harus masuk juga.
YOU ARE READING
Void
FantasySebuah cerita fantasi. [Revisi beberapa hari lagi] Irumi secara tidak sengaja menemukan sebuah kristal bercahaya hijau saat berada di Borobudur. Saat pulang ke Bandung, dia menemukan bahwa kristal itu telah berumur 15 miliar tahun dari hasil uji ka...
