The Unexpected Meeting

53 2 0
                                        

"Na, bantuin gue dong!"

Aku, Shina, mengalihkan pandanganku dari layar komputer di hadapanku ke arah sumber suara. Aku mengangkat alisku dengan melemparkan pandangan 'bantuin apa?' pada Edo, rekan kerjaku.

"Jadi gini, Na," Edo menyeret sebuah kursi ke sampingku, "gue hari ini ada janjian meeting sama arsitek yang bakal nanganin cabang ketiga kita. Tapi ternyata gue baru inget kalo gue juga ada janji buat makan malem sama Yuna. Lo tau sendiri kan kalo gue batalin janji tiba-tiba pasti Yuna ngamuk dan lo tau persis gimana kalo dia ngamuk. Sedangkan gue juga gak bisa batalin meeting sama si arsitek ini karena dia mau ke Jepang lusa, jadi dia cuman punya waktu hari ini."

Aku mengangguk mengerti maksud Edo. "Terus lo mau gue yang nggantiin lo meeting sama arsitek itu?"

Edo mengangguk sambil memasang wajah penuh harap. Aku memutar bola mataku kemudian mengangguk setuju.

"Tapi sekali ini aja ya. Lain kali elo yang harus ngurusin sendiri. Kerjaan gue masih banyak." kataku. Edo mengangguk semangat.

"Pasti! Lain kali gue yang bakal ngurusin project ini. Gue janji gak bakal nyuruh lo gantiin gue lagi." katanya semangat sambil mengangkat jari kelingking kanannya.

"Meetingnya dimana dan jam berapa?" tanyaku sambil kembali fokus ke layar komputer.

"Jam 6 sore di Sam's Coffee. Thank you ya, Na. Emang cuman elo yang ngertiin gue."

"Iya, udah. Sana balik ke meja lo, gue mau kerja." kataku sambil mendorong pelan Edo yang sudah bangkit dari duduknya.

Namaku Alfishina Wijaya, 27 tahun. Kini aku bekerja di sebuah perusahaan makanan, oh, lebih tepatnya bakery. Namun aku bekerja di kantornya sebagai manajer pemasaran dan tidak terjun langsung ke dalam pelayanan. Perusahaan ini merupakan cabang dari perusahaan inti di Korea Selatan dan saat ini sudah mempunyai dua gerai yang terletak di pusat kota. Sebentar lagi toko ketiga akan dibuat dan seharusnya Edo-lah yang mengurus perencanaannya. Untungnya aku selalu mendengarkan rencana-rencananya untuk gerai ketiga, jadi setidaknya aku punya gambaran tentang apa saja yang harus aku katakana pada arsiteknya nanti.

Aku kembali melanjutkan pekerjaanku yang tertunda karena rengekan Edo tadi. Laporan bulanan ini harus selesai besok pagi dan aku baru menyelesaikan setengahnya. Aku melirik jam tangan di tangan kiriku. 12:30 PM. Masih ada waktu untuk menyelesaikannya sebelum aku harus bertemu dengan arsitek itu.

***

Aku mendesah lega saat menyadari laporan yang sungguh rumit ini sudah selesai. Aku memencet tombol save dan segera mencetaknya. Aku sedang sibuk membereskan mejaku saat ponselku bergetar. Pesan dari Edo, mengingatkanku untuk segera bersiap dan berangkat meeting. Setelah memastikan semua sudah beres dan sudah menyiapkan apa saja yang harus dibawa, aku berjalan keluar dari ruangan berdinding kaca itu dan segera turun menuju pintu masuk utama sembari memesan taksi online.

Untung saja jalanan tidak terlalu ramai, jadi aku bisa sampai hanya dalam waktu 15 menit dan aku masih punya waktu 10 menit sebelum waktu janjian. Aku segera turun dari taksi online yang mengantarku dan berjalan masuk ke café bernuansa pedesaan Inggris itu. Setelah memesan segelas caramel macchiato, aku memilih untuk duduk di meja di sebelah jendela kaca besar yang menghadap ke jalan raya. Aku merogoh tas tanganku dan berusaha mencari ponselku kemudian membalas pesan yang sudah datang sejak 20 menit yang lalu.

Aku menyesap minumanku dan masih sibuk dengan ponselku ketika seorang laki-laki berdiri di dekat mejaku.

"Permisi. Mbak Shina?" kata lelaki itu dengan suaranya yang begitu rendah.

Aku mengiyakan kemudian mendongak untuk melihat lelaki itu. Aku terdiam. Nafasku tercekat. Mataku membulat kaget melihat sosok lelaki di hadapanku. Pantas saja suaranya terdengar familiar di telingaku. Lelaki yang ada di depanku saat ini adalah lelaki yang sama dengan lelaki yang selama lebih dari 12 tahun aku rindukan. Lelaki pertama yang mengajarkan bagaimana indahnya rasa suka dan bagaimana rasanya jantung berdebar kencang hanya dengan melihat senyumnya. Lelaki pertama yang menggenggam tanganku dan membuat puluhan kupu-kupu berterbangan di dalam perutku.

12:30Stories to obsess over. Discover now