Satu

63.9K 2.3K 24
                                        

Gadis itu sudah sekian kalinya menghembuskan nafasnya berat. Ia memandang pria di sampingnya dengan lelah. Namun, sepertinya pria itu tidak merasakan apa yang gadis itu rasakan, terlalu acuh.

Adeeva menyenderkan kepalanya di bahu tegap miliknya. Pandangannya lurus ke satu titik. Ada perasaan yang sulit ia deskripsikan. Terlalu sakit bila di beberkan.

"Kita makan, yuk. Nanti kamu sakit, loh. Emangnya mau?"

Kaafi memutar matanya malas. Sudah sekian kalinya ia terus memutar bola matanya. Cerewet, iya Adeeva begitu cerewet dan Kaafi tidak menyukai itu.

"Kalo lo mau makan! Ya tinggal makan." ketus Kaafi jengah.

Adeeva menatap Kaafi. Yang di tatap justru merubah mimik wajahnya. Begitu datar membuat Adeeva tersenyum tipis.

"Kok gitu, sih? Nanti sakit gimana?" bujuk Adeeva lembut.

Kaafi berdecak pelan,"Gue yang sakit, kenapa lo yang ribet?"

Adeeva mengulum senyumnya saat mendengar suaranya yang begitu ketus. Fakta lain dari seorang Kaafi. Dia gampang luluh saat Adeeva tersenyum manis padanya.

"Lo yang makan! Gue nganterin lo, aja." putus Kaafi beranjak dari duduknya. Senyuman lebar langsung terbit di wajahnya, Adeeva mengangguk dan memeluk lengan Kaafi yang sebelah.

Kaafi dan Adeeva selalu di perbincangkan oleh semua murid SMA Gaskara 01 ini. Keduanya di juluki Couple Goals. Kaafi yang sejuta pesona membuat para cewek-cewek yang lain tergila-gila dengannya, sama halnya dengan Adeeva, gadis yang berperawakan manis itu telah di kagum-kagumi oleh para pria.

Seperti saat ini, banyak sepasang mata yang memandang Kaafi dan Adeeva dengan jeritan khas mereka. Apalagi saat Adeeva mengenggam tangan Kaafi, semakin menambah suara jeritan itu.

"Lo cepet pesen, jangan sampai terlambat." kata Kaafi sambil sibuk dengan genggaman ponselnya itu. Adeeva mengangguk.

"Ibu, pop mie satu ya."

"Oke,"

Adeeva langsung beralih memandang Kaafi yang sibuk dengan ponselnya. Tak lama kemudian, pesanannya pun datang dan Adeeva menerimanya dengan senyuman lebar di wajahnya.

Asap pop mie itu menguap membuat Adeeva mengendus-ngendus aromanya ini.

"Kaafi mau gak?"

Dia menggeleng.

"Nanti kalo sakit gimana?"

"Gak bakal,"

"Tapi kamu belum sarapan pagi, loh."

"Gapapa,"

"Sesuap aja yang penting ke masuk makanan."

Rahang Kaafi mengeras. Ia menggeram tertahan. Kaafi menatap Adeeva tajam, membuat Adeeva menciut dan bungkam.

"Lo bisa diem gak?! Tadi gue bilang apa, lo aja yang makan!!" dengus Kaafi terdengar kasar.

Adeeva tertunduk, nyalinya ciut ketika Kaafi sudah menatapnya tajam. Pandangan matanya terlihat sedih, ia menatap pop mie sudah tidak selera lagi.

"Makan abisin! Gak usah buang-buang duit," seolah tau, Kaafi berkata demikian. Adeeva mengangguk pelan mendengar nada peringatan darinya.

....

Kaafi mengacak rambutnya kasar. Wajahnya terlihat begitu lelah, rahang yang mengeras dengan gigi yang bergemelatuk. Sungguh, Kaafi sudah tidak tahan dengan semua ini. Ia ingin keluar dari rengkuhan ini, Kaafi ingin bebas tanpa ada yang cerewet padanya.

Stay With Me!Место, где живут истории. Откройте их для себя