Liburan.. Masa yang sudah dinantikan oleh sekumpulan remaja perempuan yang bersekolah di sebuah SMA Negeri di Yogyakarta . Segala sesuatu sudah mereka siapkan, ijin orang tua juga sudah mereka kantongi, hingga mau tak mau, para orang tua memberikan uang saku pada anaknya. Dian salah satunya, ia adalah penggagas rencana piknik bersama teman-temannya. Ia memasukan beberapa lembar baju, kerudung, dan juga makanan ke dalam ransel besar berwarna hitam.
"Kamu mau piknik atau mau kemah?" tanya Bu Murli pada Dian ketika melihat tas ransel anaknya yang penuh.
Dian nyengir, membuat lesung pipinya terlihat. "Takut kelaparan, Mak," ujarnya.
Bu Murli merapatkan alis, menatap heran anak gadisnya yang sudah semakin tinggi itu. Terakhir kali Dian bilang bahwa dia tidak tertarik lagi pergi ke kebun binatang. Pantas saja Bu Murli heran. Akan tetapi selama ini, Dian selalu jujur padanya. Dan Bu Murli percaya bahwa Dian tidak akan berbohong.
"Lho kan cuma ke kebun binatang, kalau lapar bisa jajan. Nggak perlu bawa bekal sebanyak itu."
"Teman Dee banyak, Mak. Takut ada yang nggak kebagian nanti."
Bu Murli mengangguk. Ia mengambil Bolu coklat yang baru saja ia panggang dengan Smart Cooker Vienta kesayangannya. Semenjak punya alat itu, Bu Murli jadi suka memasak.
"Kalau begitu, bawa saja ini. Nanti Emak masak lagi untuk Bapak kamu."
Dian sangat ingin membawa Bolu itu, tapi ranselnya sudah cukup berat. Dian tidak mau repot, ia pun hanya mengambil sepotong untuk ia makan. "Nggak usah lah, Mak. Ini sudah banyak bekalnya."
"Tasnya sudah tidak muat?"
Karena merasa Bu Murli ingin memeriksa ranselnya, Dian pun berpamitan dan segera pergi dari rumah, masih mengunyah Bolu yang lembut itu.
"Maafkan Dee, Mak. Sebenarnya Dee hanya Pura-pura mau ke Bonbin, agar Emak mengijinkan Dee pergi," bisik hati Dian.
Berhasil, keinginan Dian dan teman-temannya akan segera terwujud. Sebenarnya sudah lama mereka merencanakan hal ini, tapi selalu saja ada kendala. Dan ini adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk melakukan apa yang sudah sangat ingin mereka lakukan sejak dulu.
"Kamu di mana?" Dian bicara dengan seseorang dengan ponselnya. Dian naik ojek online untuk sampai di terminal.
"Aku sudah di terminal, tapi yang lain belum datang," terdengar suara cempreng dari ponsel Dian.
Dian melihat sekeliling, matanya menangkap sesosok gadis yang memakai kerudung warna abu-abu monyet, tengah menelpon. Kemudian Dian mendekati gadis itu.
"Assalamualaikum, Uji.." Dian menepuk pundak gadis yang ia panggil Uji itu.
Uji terkejut dan hampir menjatuhkan ponselnya, tapi ia menjawab salam.
"Astaga..!! Kamu ngagetin aja, Dee!" Uji menggerutu.
Dian tertawa. Uji memang sedikit latah, dan Dian suka mengganggunya. Dan saat Dian dibuat tertawa oleh tingkah Uji, kenangan pertama kali bertemu Uji pun melintas. Waktu itu mereka masih kelas sepuluh. Saat upacara bendera, keduanya ada di barisan paling belakang. Uji bersin-bersin sampai ingusnya keluar. Dian yang melihat kejadian itu, spontan memberikan tissu yang di simpan di kantong. Akhirnya, Dian ketularan pilek. Lantas Uji begitu merasa bersalah dan terus menerus minta maaf. Mereka pun berteman hingga sekarang.
"Dian..!! Uji..!!"
Dian dan Uji menoleh ke arah orang yang memanggil nama mereka. Tampak Arista, Imas, dan Alfi, menggendong ransel yang berat. Kecuali Vie, sembari membetulkan letak kaca mata, ia menyeret sebuah koper ukuran sedang. Lalu keempatnya bergabung bersama Dian dan Uji.
"Loh, Vie.. Ngapain kamu bawa koper? Kita kan mau ke gunung, bukan nginep di hotel," ucap Uji sedikit berteriak.
Seketika Dian menutup mulut Uji dengan tangannya, "jangan keras-keras!!" Bisiknya.
Kelima gadis itu melihat sekeliling, memastikan bahwa tidak ada yang mendengar ucapan Uji. Walaupun jika ada yang mendengar, takkan peduli.
Setelah merasa aman, Dian menarik tangannya dari mulut Uji.
"Kurang siapa lagi yang belum datang? Fiana ya? Coba telepon dia!" Pinta Dian kepada Vie.
Sebelum Vie sempat menelpon, orang yang di tunggu pun datang.
"Maaf, teman-teman. Tadi aku sewa kamera dulu," ujar Fiana yang masih ngos-ngosan sebab berlari.
Semua memandang ransel Fiana yang tampak enteng, tidak berat seperti tas mereka.
"Kenapa?"
Hampir semua menggeleng, mereka sudah hapal bahwa Fiana hanya membawa bekal seperlunya saja. Jika habis, maka ia akan meminta pada temannya. Semua sudah hapal bahwa Fiana lebih mementingkan kamera DSLR yang ia bawa ketimbang bekal lainnya.
"Arista.. Kamu sudah kasih kabar ke Anis kan?" Dian ingin memastikan.
Arista mengangguk, "sudah. Katanya kita mau di jemput ketika sudah sampai terminal di daerahnya."
"Bagus," Dian meghela napas, lega.
"Baiklah, teman-teman. Sebelum kita berangkat, kita berdo'a dulu. Ini perjalanan yang jauh, semoga kita semua diberi keselamatan. Berdo'a mulai.."
"Bismillahirrahmanirrahim.. Allahuma bari'lana fima rozaqtana waqina adzabannar.. Aamiin.."
Semua menatap Uji yang berdo'a paling lantang.
Uji berbalik menatap teman-temannya, "kenapa? Ada yang salah? Aku kan mau makan."
Dian mendengus, kesal karena Uji membuyarkan kekhusukan Do'anya. Tapi ia tidak jadi marah saat melihat Uji membuka sebungkus makanan ringan.
"Nah, itu bisnya sudah mau berangkat, teman-teman. Ayo kita naik!" Dian tersenyum senang melihat kondektur Bus kelas ekonomi menyuruh para calon penumpang untuk naik.
Seketika wajah Imas pucat, ia ragu tidak akan mabuk saat di perjalanan setelah melihat bus yang akan mereka tumpangi.
"Kamu pasti kuat, Imas!" Alfi meyakinkan temannya itu.
Dan mereka pun berangkat, menuju suatu tempat yang belum pernah di datangi. Merasa senang, walaupun tidak tahu dengan apa yang akan terjadi di tempat yang baru. Mungkin saja, Malapetaka.
Bersambung..
#PuraPuraPiknik
YOU ARE READING
Pura-pura Piknik
AdventureSebuah kebohongan yang dilakukan Dee dan teman-temannya, membawa mereka ke dalam masalah besar. Persahabatan dipertaruhkan demi keselamatan nyawa. Mampukah mereka lolos dari malapetaka?
