The Kampret Moment

1.3K 86 2

Tiga bulan berlalu, Ben telah selesai dengan ujiannya tetapi urusannya dengan Cleo masih belum selesai. Sejak kejadian itu Cleo lebih memilih diam dan menghindar saat bertemu dengan Ben. Keduanya masih tidak saling bicara, bahkan maaf Ben saja sepertinya sia-sia.

Ketiga sahabat Cleo sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan mereka yang menyembunyikan Cleo jika Ben mencarinya.

Salah memang, tapi keputusan ini yang menurut Cleo tepat. Ia  tidak mau mengganggu Ben karena saat itu Ben akan segera ujian.

Terlihat seorang gadis sedang duduk menatap pergelangan tangannya-bukan- tapi sesuatu yang berasa disana.

Gelang pemberian Ben masih saja melingkar manis di tangan kanan Cleo. Ia menatap lirih bandul yang berada disana, sesuatu yang menjadi saingannya selama ini, DotA.

Gadis itu menjatuhkan diri ke atas kasur lalu menatap nanar langit-langit kamarnya. Ben telah menyelesaikan ujiannya tetapi ia tidak mau hubungannya dengan Ben selesai. Laki-laki itu masih tidak mencarinya padahal ujian selesai tiga hari yang lalu. Tidak mencarinya? Bukankah itu mau Cleo?

Ia mengambil jaket lalu keluar dari kamar yang membuatnya semakin terlihat menyedihkan, lalu memberhentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat didepan rumahnya.

Entah kemana ia pergi, Cleo hanya ingin mendinginkan kepalanya yang siap untuk meledak.

.

.

.

"Ada billing atas nama Gilang?"

Tanya Cleo kepada orang asing didepannya sambil menyunggingkan sebuah senyuman.

"Nyari Ben ya? Ben baru aja balik tadi."

Belum sempat orang itu menjawab, seseorang menyahutinya dari kejauhan. Orang yang tidak asing bagi Cleo, operator warnet yang pernah mengobrol dengannya beberapa waktu lalu dam orang itu kini berjalan menuju meja kasir.

"Gue cari Gilang, ada?" Tanya Cleo kepada operator itu.

"Lah tumben ga nyari Ben, Gilang ada diatas. Lu tunggu sini aja, biar Gilang yang gue suruh kesini. Keenakan dia disamperin cewek." Jawabnya sambil mengetik sesuatu di komputernya.

'Woi homo sini lu turun ada cewe nyariin lu'

Saat sedang asik bermain, tiba-tiba saja layar monitor Gilang berubah gelap dan muncul tulisan yang menyuruhnya turun karena ada yang mencarinya.

"OP sialan. Awas aja gue dikerjain lagi, gue suruh makan bata depan ruko!" Gerutu Gilang sambil berjalan menuju lantai bawah.

"Cleo?"

.

.

.

"Gimana lo sama Ben?" Tanya Gilang sambil memasang senyum simpul.

Keduanya kini telah berada di kedai kecil samping warnet. Kedatangan Cleo memang membuatnya bingung terlebih karena perempuan itu mencarinya.

"Gue kesini justru untuk ngelupain itu." Jawab Cleo seadanya sambil mengaduk jus alpukat yang kini ada didepannya.

"Ahh sorry." Ujar Gilang merasa bersalah.

"Ajarin gue main dota."

Nyaris saja Gilang tersedak jika ia tidak segera minum. Jelas saja kalimat Cleo tadi membuatnya kaget, sangat.

"Main dota? Ini, ini serius?" Gilang kembali bertanya, meyakinkan perkataan yang baru saja terlontar dari mulut gadis 17 tahun itu.

"Iya, gue bosen kak kefikiran temen lo terus. Dia aja bisa sering lupa sama gue gara-gara game itu, gue mau kayak dia." Jawab Cleo menjelaskan maksudnya.

My DotA StoryBaca cerita ini secara GRATIS!