Prolog

11 2 0
                                        


    Hujan deras masih belum berhenti mengguyur. Seorang gadis berdiri di koridor lantai 1 sebuah unversitas swasta di kota kecil itu.

    Dia sedikit bersembunyi dari keramaian mahasiswa-mahasiswa yang juga sedang menunggu hujan reda.

Matanya melihat tak tentu arah memperhatikan sekitar, tiba-tiba pandangannya bertemu dengan mata setajam elang yang juga tanpa sengaja sedang melihat ke arahnya.

Tampan, batinnya. Lalu dia langsung memutuskan aksi tatap-tatapan itu. Entah kenapa ada yang berdesir di hatinya. Dia mencoba mengabaikan hal itu.

Apaan sih, kenal aja enggak. Gadis itu mencoba biasa saja.

Merasa hujannya sudah agak reda, dia menimbang-nimbang apakah masih mau menunggu atau menerobos saja. Akhirnya karena sebentar lagi langit akan gelap, dia nekat menerobos gerimis itu.
 
Tanpa disadarinya, dari jauh ada yang sepasang mata yang memperhatikan pergerakan demi pergerakan gadis itu. Sampai gadis itu menghilang di belokan, baru dia mengalihkan pandangannya. Pikirannya mengelana, bersamaan dengan bibirnya yang tertarik ke atas.

Cantik, batinnya berkata.

"Bi, lihatin apa sih?" Bahunya ditepuk oleh salah satu temannya.

"Apaan sih bikin kaget aja."

"Lo tuh, dari tadi ngelamun aja. Kesambet baru tahu rasa." Temannya menasehati.

"Iya-iya sorry. Yaudah lanjut deh, sampai apa tadi lo ngomonginnya?"

"Gini nih..."

Abi mencoba mengembalikan pikirannya dari perempuan yang sempat dilihatnya tadi. Dia mulai serius mendengarkan apa yang dibicarakan oleh temannya. Tapi sayangnya mau dipaksa bagaimanapun, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau pikirannya belum teralihkan semuanya.

Tunggu dulu, ini baru pikirannya kan? Belum hatinya?


ismnf, 240321

SABTU MINGGUStories to obsess over. Discover now