Kedai

52 6 5
                                        

Hembusan angin yang mengajak para dedaunan menari, udara dingin yang menusuk dan matahari yang siap berganti tugas dengan sang bulan, menjadi penanda akan datangnya sang malam.

Secangkir kopi hitam hangat yang berada pada meja usang di sebuah kedai kopi. "Kedai kehidupan" itulah namanya. Disinilah aku berada, dengan pikiran yang berkecamuk akan segala hal.

Slurp...

Rasa kopi mulai merambati ujung lidahku. Pahit. Lalu cairan itu pun melewati batang tenggorokku dan menyisakan rasa hangat disana. Rasa yang mengingatkan ku akan kopi buatan rumah.

•••••

Rintik-rintik hujan perlahan-lahan menusukku. Dingin. Jikalau saja ada tempat untuk berteduh... Pandanganku tertuju pada sebuah kedai klasik berornamen kayu dengan ukiran-ukiran menarik dan beberapa pahatan indah sebagai penghias kedai tersebut.

Menarik. Tempat yang bagus untuk berteduh di cuaca dingin.

Krek...

Aroma kopi mulai menyeruak ke dalam indra penciumanku. Begitu pekat dan khas baunya.

Tidak banyak kursi terisi disini. Bagaimana mungkin kedai seperti ini sedikit peminat? Pikirku seraya melangkah dan duduk ke tempat duduk dengan meja panjang yang berhadapan dengan sang bartender.

"Yahh... Mau bagaimana lagi mas, sekarang kita ada di zaman dimana dunia nyata kalah dengan dunia maya." ujar sang bartender yang membuatku memiringkan kepala. Kaget. Bingung. Dua kata itu mungkin cocok mewakiliku.

"Gorden Exner, seorang psikolog berkebangsaan Amerika mengatakan "hanyalah 6 milyar manifesta yang berbeda dari (satu orang). Semua orang adalah sama." sekali lagi ucapan dari sang bartender membuatku bingung.

"Eh? Maaf mas saya bukan peramal ataupun cenayang, saya hanya tau dari ekspresi mas yang mengatakan penilaian tentang kafe ini." Dan sekali lagi, sang bartender dapat menjawab pertanyaan di otakku.

Tidak mau memperpanjang percakapan ini. Aku memutuskan untuk mengakhirinya.

"mas, tolong kopi espressonya satu ya" ujarku seraya memerhatikan sekeliling ku. Sepi. Wajar saja, hanya ada aku, sang pemilik kedai, 3 orang kakek-kakek, dan sepasang kekasih yang terlihat sedang dimabuk asmara.

"Jangan takut berbeda dengan orang lain, percayalah, yang sama bukan berarti baik, yang berbeda bukan berarti buruk. Seperti espresso, hitam pekat, kental, pahit, tapi banyak pecintanya. Silakan dinikmati kopinya mas." ujar sang bartender menyuguhkan kopi seraya tersenyum.

"Terima kasih mas." ujarku yang senang dengan filosofi kopi espresso yang diberikannya.

Perlahan aku mulai menyeruput kopi ini. Rasa hangat mulai merambati ujung lidahku. Dan juga rasa pahit. Layaknya hidupku.

Pahit. Kata itu mengingatkan ku akan hal yang sedang ku lalui. Kenangan-kenangan perlahan terlintas di pikiranku layaknya video yang bergerak cepat dan tidak bisa berhenti.

"Kenapa hidup ini tidak adil?!" bentakku tanpa sadar sambil memukul meja.

Sontak kata-kataku menarik perhatian tamu-tamu lain beserta sang bartender.

"Kita tidak bisa menyamakan kopi dan susu. Masing-masing memiliki rasa tersendiri. Tapi kita bisa membuatnya berbeda. Bukan manis ataupun pahit saja. Jangan melihat sesuatu hanya dari pahitnya ataupun manisnya saja. Kita bisa membuatnya menjadi enak untuk dinikmati." Layaknya sedikit air yg memadamkan kobaran api. Ucapan sang bartender yang sebenarnya untuk memadamkanku, malah menjadikanku semakin tersulut akan emosiku sendiri

"Tau apa kamu tentang hidupku! Yang kamu tau hanya mengolah dan menyajikan kopi!."

Tidak marah sedikitpun. Sang bartender berkata "kita tahu kopi itu pahit. Tapi sudah menjadi tugas sang bartender untuk membuat rasa pahit itu menjadi sesuatu yang dapat dinikmati semua orang. Lalu, untuk apa kita pusing, kesal, marah, emosi, kalap? Yakinlah bahwa kita bisa mengubah kepahitan itu menjadi suatu keindahan. Tergantung cara kita menghadapinya."

Seperti tau hal apa yang sedang membebani ku, kata-kata dari sang pemilik kedai sontak membuatku tak bergeming dan juga membuat perasaan ku bercampur aduk.

"Layaknya anda yang sudah berjalan jauh, dan berhenti karna bingung untuk melewati sebuah bongkahan batu yang besar. Jika saja anda tengok kebelakang sudah seberapa jauh anda berjalan. Sudah seberapa banyak rintangan. Masalah. Kebahagiaan. Dan bahkan keajaiban yang membantu anda melewati semua itu. Akankah anda berhenti dan menyerah? Ataukan melanjutkan perjalanan anda?. Itu semua kembali kepada diri anda."

Kata-kata yang diucapkan sang bartender membuatku tersadar. Apakah sampai sini? Apakah aku menyerah begitu saja?

Langkah kakiku meninggalkan sang bartender dan kopiku yang belum sepenuhnya kuhabiskan.

"kopi itu layaknya sebuah kehidupan, terlihat sederhana namun penuh makna." gumam sang pemilik kedai seraya tersenyum.

•••••

"Kopi lattenya satu mas." ujarku sambil tersenyum kepada sang bartender.

"siap laksanakan!" ujar sang pemilik kedai sambil tersenyum dan memberikan gaya seolah sedang hormat.

Aroma biji kopi menyeruak ke indra penciumanku. Membuat diri ku semakin rileks.

Masih tidak banyak tamu yang datang ke kedai ini. Apakah kedai ini tidak mau memasang wifi?.

"Silakan kopi lattenya dengan rasio susu dan kopi 3:1 mas." ujar sang bartender tersenyum.

Vous avez atteint le dernier des chapitres publiés.

⏰ Dernière mise à jour : Dec 21, 2022 ⏰

Ajoutez cette histoire à votre Bibliothèque pour être informé des nouveaux chapitres !

Owaranai MonogatariOù les histoires vivent. Découvrez maintenant