Hanenda Djani Padmana
Aku butuh tempat yang enggak ada sebising pun suara-suara manusia, tempat yang tuli ketika mendengar cemoohan orang, yang buta akan pandangan orang-orang tak suka padaku, tetapi realita mendorongku sampai habis kejurang dengan predikat ‘hidup adalah hidup’ hingga menyadarkanku—bahwa aku sedang hidup di bumi; tempat manusia mengeluarkan suara-suaranya.
Ibu menamaiku dengan nama Hanenda yang artinya ‘pantang menyerah’. Katanya supa9ya aku mempunyai daya juang yang tinggi, selalu siap bertempur di segala medan perang tanpa kenal menyerah. Kenyataannya berbalik. Aku selalu ingin menyerah dalam hal apapun, termasuk dalam hidup.
Barangkali hidup hanyalah tetesan embun di pagi hari selepas hujan malam. Barangkali hidup adalah awan yang kadang-kadang putih dan hitam. Barangkali hidup adalah danau yang menampakkan keruh dan genangannya. Bagaimana aku memaknai hidup sedangkan aku saja tidak ingin hidup?
Beberapa kali aku mengunjungi danau ini sambil mengepalkan tangan berisi rapalan do’a, tentang kapan ayah datang ke rumah, Bu? Dari di putusnya tali pusarku oleh bidan Ayu di Desa Cempaka, mengapa aku tak kunjung melihat ayah? Dari di ikrarkannya nama Hanenda Djani Padmana apakah ayah mengetahui namaku, Bu? Apakah ayah mengetahui bagaimana rupa wajahku, Bu? Bu ... sebenarnya aku ini punya ayah atau enggak?
Dua puluh tahun aku hidup tanpa seorang ayah, menjadi hal paling enggan aku jalani. Ku pikir sejak lahir, ayah menginginkan kehadiranku, nyatanya enggak sama sekali. Pundak terasa berat padahal aku sedang nggak membawa apa-apa. Arah pulang juga sangat gelap, padahal aku punya senter. Dan pada akhirnya aku dihempas oleh masa, tersungkur di jalan yang koyak, terpontang-panting oleh tornado.
Jika suatu saat nanti aku jadi seorang ayah, tak akan aku biarkan dunia anakku gelap, Bu. Tak akan aku biarkan ia hancur bersama penderitaan hidup, tak akan aku biarkan ia menangis sendirian di pojokkan kamar, dan tak akan ku biarkan seorang pun menyakiti batinnya.
Hidup isinya hanyalah kesedihan-kesedihan belaka yang berkedok lelucon. Sampai aku terbangun lagi-lagi dengan mimpi yang sama, mimpi yang sebenarnya lebih baik aku tertidur agar masalah tak menodongku, yang aku harap aku punya sesuatu yang bisa aku sebut ‘rumah’, karena rumahku sendiri tiadalah kenyamanan di dalamnya.
VOCÊ ESTÁ LENDO
THE LAKE OF DREAM
Ficção AdolescenteLife is a bubble in a lake, that glitters for an instant, bursts, and leaves not even a blur on the water; it is the leap of a minnow, which sends a tiny ripple trembling for a few inches. Austin O'malley
