Di atas hamparan pasir putih, ombak terus menggeliat tidak peduli. remang remang cahaya matahari mulai memamerkan pesona nya, Pesona yang tidak akan di tolak sang penikmat senja. Angin pantai Dengan genit menyibakkan jilbab birunya, tapi gadis itu tidak peduli. Larut dalam pikirannya. Matanya terus fokus pada liontin berbentuk bintang biru di tangannya. senyum samar, ia bersyukur dirinya masih bisa kembali ke pantai ini.
Tatapannya berubah fokus ke arah aliran ombak yang semakin tinggi. Di atasnya langit mulai kehilangan cahaya. Bintang bintang mulai terlihat. Bintang.. Seperti masa lalu, selalu ada walau tidak di inginkan. Tidak banyak yang membencinya tapi bagi gadis itu, bintang seperti sebuah bom mematikan skala besar di hatinya.
Sesak. Seakan akan bintang bintang itu sedang mengoloknya. Menertawakan nya atas takdir yang tidak dapat di ubah.
Matanya mulai berkaca kaca tapi ia tidak ingin bulan melihatnya. Ia tidak ingin bulan melihatnya menangis. Ia tidak ingin terlihat lemah. Seperti bertahun tahun lalu, kali ini ia tidak menangis.
Angin pantai mulai menusuk tulang, ia rapatkan jaket biru navy yang ia kenakan. jaket ini selalu ia bawa jika ingin pergi ke pantai ini. Seperti ritual tapi bukan ritual. Bagaimanapun baginya itu sangat penting. Selalu di lakukan seakan, orang yang ia tunggu akan kembali dan melihatnya mengenakannya. Tapi itu hal yang mustahil, karena orang itu tidak akan pernah kembali.
pantai ini selalu sepih. Terutama di hari senin. Tidak buruk baginya. Karena suasana inilah yang ia inginkan. ia melihat jam di tangannya. Pukul 19.02. Sudah saatnya, ia menaruh liontin itu di samping kanan nya. Ia mengambil kotak berwarna pink dengan motif bunga bunga, di kotak itu tertulis nama toko di mana ia membelinya. vanya strawberrycake's. Kue strawberry itu ia tancapkan lilin angka 1 dan 8. Hari ini hari ulang tahunnya. Tepat 6 november 2034. Ia menyalakan api di atasnya.
Mulai berdoa. Ia meniupnya. Ia kembali mengambil liontin itu. Walau membenci bentuknya tapi liontin itu cukup berharga baginya. Benda itu satu satunya hal yang di tinggalkan masa lalunya.
Cahaya bulan membuat liontin biru itu terlihat hidup. walau sudah 6 tahun berlalu liontin itu tetap cantik tanpa karat. Mungkin itulah yang di inginkan. Masa lalu yang tidak akan pernah karat.
Gadis itu menaruh kembali liontin itu di saku jaket navy nya. ia memasukan kembali kue strawberry yang masih utuh kedalam kotaknya. Malam ini ia tidak akan memakan nya. Sudah beres membersihkan yang ia bawa, ia mulai berdiri dan membersihkan sisah pasir yang menempel di belakang gamisnya.
Kembali ia tatap bulan di atas ombak. Merasa cukup tenang, ia tersenyum.
"ma.. Nahda pergi ya"
YOU ARE READING
With Broken Wings
Teen Fiction"Di atas hamparan pasir putih, ombak terus menggeliat tidak peduli. remang remang cahaya matahari mulai memamerkan pesona nya, Pesona yang tidak akan di tolak sang penikmat senja. Angin pantai Dengan genit menyibakkan jilbab birunya, tapi gadis itu...
