Prolog

105 7 4
                                        

PLAK!

Itu suara tamparan yang kesekian kalinya, suara bising dan suara lemparan barang memenuhi ruangan rumah bertingkat dua itu. Cacian, makian hingga hinaan bergabung memenuhi langit-langit atap yang membuat suasana menjadi panas. Gadis kecil itu masih meringkuk di bawah meja, ia menyaksikan bagaimana ibunya dibabat habis oleh Ayahnya.

"Kau wanita jalang!" Satu tendangan mendarat di perut ibunya, wanita setengah baya itu menahan sakit sambil mengusap dadanya. Ia hanya bisa menangis tanpa suara. Bibir penuh darahnya mulai terbuka, air mata mengering tercetak jelas di pipinya, matanya memancarkan sorot kebencian.

"Jika bukan kau yang menghamili ku dulu, aku tidak sudi menikah dengan mu!" Teriakan melengking yang menyayat hati itu akhirnya keluar, dibarengi bogem mentah dari suami brengseknya, ya memang itu salahnya. Sex bebas diwaktu muda membuat hidupnya menjadi kacau. Ia menangkap sorot ketakutan putrinya dibawah meja. Wanita itu tertawa pilu, ah.. kehidupannya yang malang.

"Ibu..." suara kecil itu memberhentikan pertengakaran yang berlangsung berjam-jam.

"Masuk kekamar sayang, ibu menyusul nanti" wanita itu tersenyum lembut. Senyum yang sangat tulus. Dan sebuah senyum terakhir yang ditunjukan untuk gadis kecil tersebut.

Mata gadis itu menatap nyalang pria berbadan besar yang sedang menusuk dada ibunya dengan pisau, ya dia tidak ingin memanggil pria gila itu Ayahnya.

"Aku membenci mu! Kembali kan ibu ku!. Aku benci laki-laki!!"

On PurposeWhere stories live. Discover now