Ketika kutersadar, ternyata semua yang terjadi selama ini hanyalah mimpi, aku hanya bisa membayangkan seandainya mimpi itu menjadi nyata. Impianku, aku akan berjuang untuk menggapaimu. Dengarlah, kita akan berjumpa.
'Benarkah?' tanyaku pada diriku sendiri. 'Kau tak seharusnya meragukan dirimu sendiri, dengarlah impian yang menggebu-gebu di selubuk hatimu itu. Berjuanglah untuk meraihnya.' Kata hatiku yang lain. 'Ya, apapun yang terjadi, impianku akan terwujud suatu saat nanti.' Kataku pasti.
"Hana bangun, hari sudah siang, kamu gak sekolah?!" Teriak Ibu dari luar kamarku yang mampu memekakkan telinga.
"Iya, aku sudah bangun." Jawabku pelan.
"Hana!!" Teriak Ibuku makin kencang.
"Aku sudah bangun, Bu." Jawabku dengan menambah volume suaraku.
"Cepat mandi, sudah jam enam seperempat tuh." Kata Ibu sebelum meninggalkan pintu kamarku.
"Apa?" Teriakku histeris. Buru-buru aku menuruni tempat tidurku yang berantakan, langsung kutarik handuk yang menggantung di belakang pintu kamarku, lalu kutuju kamar mandi tanpa peduli ada orangnya atau tidak.
'Jam enam seperempat? Duh, bayangin aja. Udah telat nih kayaknya.' Batinku gelisah.
"Kak, udah belum? Keburu telat nih." Teriak Ali, adikku yang paling nakal dari luar pintu kamar mandi.
"Bentar!" Teriakku balik.
Pagi itu rumahku yang sederhana dan terbilang kecil, ricuhnya minta ampun. Maklum, tidak ada alarm, bahkan Ibuku santai-santai saja melihat keributan pagi itu.
"Makanya, siapa suruh tidur malam, jadi kesiangan kan?" celotehnya santai.
Makanan sudah siap, berarti Ibu bangun pagi dan tidak membangunkan aku dan kedua adikku, Ali dan Izza. Sepertinya Ayah juga sudah berangkat subuh tadi. Ibu ini, keterlaluan sekali sama anaknya. Tidak dibangunkan awal-awal, saat sudah siang begini baru di bangunkan.
'Astaga, mati aku!' histerisku dalam hati.
Bagaimana tidak, hari ini ada les tambahan di SMA ku yang dimulai pukul setengah tujuh dan pembimbingnya Bu Sri yang galaknya minta ampun. Siap mental sajalah untuk menghadapi semua semprotannya yang menusuk hati itu. Lagipula, ini juga salahku, jadi terima saja apa yang akan menimpaku nanti.
Tok..tok..tok..
"Assalamu'alaikum." Ucapku sesampainya di depan kelas tanpa terlupa senyuman pasrah terukir di bibirku.
"Wa'alaikumsalam." Balas semua penghuni kelas. Senyumku tambah kecut saja saat melihat tatapan sinis Bu Sri. Sekarang sudah jam tujuh lebih beberapa menit. Maklum saja, rumahku terpaut jarak yang jauh dengan sekolahku.
Kuhampiri Bu Sri yang sudah siap melumatku sampai habis dengan kepala tertunduk. Astaga, entah apa yang bisa kulakukan, seharusnya aku tak perlu masuk saja.
"Hana, selamat ya." Ucapan Bu Sri mencairkan kegelisahanku dan mengubahnya menjadi heran.
"Loh, ada apa Bu?" tanyaku seperti orang linglung.
"Ibu akan memaafkan keterlambatanmu kali ini." Kata-kata Bu Sri dan senyumnya yang jarang atau bahkan tak pernah kulihat membuat tanda Tanya besar di otakku.
"Selamat karena kau akan mengerjakan semua bank soal ini di perpustakaan yang harus dikumpulkan sepulang sekolah nanti."
"Apa?" mataku terbelalak melihat setumpuk naskah beberapa tahun lalu yang tiba-tiba saja suadah berada di kedua tanganku.
"Kenapa kaget? Kau tidak tahu ya kalau kau sudah mendapatkan rekor siswa paling rajin terlambat semester ini dengan jumlah lima puluh kali. Beri tepuk tangan pada temanmu ini anak-anak." Kata Bu Sri diikuti tepuk tangan dan gelak tawa dari teman-teman sekelasku.
YOU ARE READING
Miracle Boy
Teen FictionBeberapa tahun lalu Hana jatuh cinta dengan seseorang. Seseorang yang hanya ia kenal dalam jangka waktu tak lama. Tapi ia benar-benar mencintainya. Berharap lelaki itu juga mencintainya seperti yang ia rasakan pada lelaki itu. Hingga takdir memperte...
