1

2 1 0
                                        

Kalian pernah tidak menjalin hubungan dengan lawan jenis, lebih dari sekedar teman. Benar, pacaran namanya. Jenis hubungan yang rumit tapi tak serumit jalannya labirin apalagi permasalahan ibukota.

Aku tidak mengerti apa kalian pernah berada didalamnya atau tidak tapi yang jelas aku pernah. Berada di titik itu dan kembali pada titik itu. Jika ada pepatah yang mengatakan hari ini lebih buruk dari kemarian maka kau adalah orang yang gagal. Dan akulah orangnya.

Saat itu aku berpacaran dengan seorang laki-laki teman sengakatan ku lalu kami putus, kudengar tak lama kami putus dia sudah menemukan yang baru. Ah benarkah, pikirku saat itu hingga kami berpapasan langsung di halaman masjid kampusku.

Aku melihatnya sendiri kok waktu itu, dia hanya sendiri tak ada yang lain lalu kemana ekhm.. Pacar barunya itu. Kupikir itu hanya bohong hingga ia mengatakannya secara langsung pada ku. Begini katanya

"Hi..Say" sapanya saat aku membuang muka didepannya. Iya aku sengaja melakukannya dan begitupun dia yang sengaja menyapaku hingga aku kembali melihat mata itu.

Aku terdiam sejenak dan kami saling memandang satu sama lain. Pikiran ku kosong, aku hanya ingin menatapnya.

" Ooh..ka...dal" ucap ku kikuk. Ah sudahlah biarkan saja toh dia juga pernah tahu diriku seperti apa. Tidak perlu ditutup-tutupi lagi.

" Kemarin band gue manggung" jelasnya yang entah sejak kapan sudah duduk disisi halaman masjid

" Oh..di Caffe Kemang ya" ucapku yang sambil mencari posisi untuk duduk lalu ia melihat ku kebingungan.

" Gak usah duduk Say" ucapnya yang membuat ku kaget

" Sebentar lagi cewek gue mau dateng, mendingan lu pergi sekarang aja" ucapnya lagi yang langsung membuat ku sedih. Sedih bukan karena ia menceritakan dirinya yang baru tapi aku sedih karena sikapnya yang menunjukkan jika aku yang kalah.

"Ooh..ya udah duluan ya" ucapku langsung bergegas pergi tanpa melihat lagi kebelakang.

Selepas hari itu aku sering melihatnya bersama pacarnya. Oh mereka dekat sekali kemana-mana selalu bersama dan tertawa bersama.

"Yang benar saja! Muak mbak" keluh ku pada mbak Sandra kakak tingkat ku yang sering mendengarkan keluh kesah ku dan curhatan ku tentang dia

" Ya udah terus kamu mau gimana?" tanya mbak Sandra untuk kesejuta kalinya

" Lelah aachu tuh" ucapku dengan nada manja sambil menumpu kepala ku pada gengaman jariku

" Udah kebaca pasti bakalan ngomong gituh" ucap kating ku ini

" Mbak..nonton yuk" ajakku mengalihkan topik kali ini.

" Besok lagi gua nggak mau denger curhatan elu lagi ah" kesal mbak Sandra untuk kesejuta kalinya

" Wok..wok..wok..apa kata lu aja dah"

Akhirnya kami pergi kesebuah kafe di daerah Kemang. Setelah perdebatan panjang kami mumutuskan untuk meminum secangkir kopi saja hari ini. Hari ini terlalu berat untuk kami lewati, sepertinya.

Kafe disini selalu ramai apalagi jam malam seperti sekarang. Kafe ini memang sering kudatangi hampir tiap weekend untuk apalagi kalau bukan menonton pertunjukkan band.

Senar gitar mulai dipetik, membuka jalnnya musik melantun. Sepertinya akan sangat menyentuh sekali lagu ini, pikirku saat mendengar sang vokalis bernyanyi.

Entah ini drama atau bukan tapi sepertinya ini memang drama, drama kehidupan ku lebih tepatnya. Seakan ada kilas balik yang berputar didepan mataku dari awal hingga akhir.

Salah deh gue dateng kesini, batinku sambil menyeka butiran air mata yang keluar.

"Benar ya kata lo hari ini berat banget" ucapku pada mbak Sandra setelah musik selesai dimainkan, mengulang perkataannya saat kami berdebat tadi.

" Itu sih buat lo bukan buat gua" ucapnya dengan nada perak

Aku yang mendengar tanggapannya itu hanya memutar kedua bola mataku dengan jengah.

Saat kami tenggelam dalam pikiran masing-masing, salah satu personil band tadi tiba-tiba berbicara yang membuat fokus kami pecah.

" Selamat malam semua pekernalkan kami dari..tadi..hehehe" pungkasnya dengan bercanda

Setelahnya personil band itu memperkenalkan bahwa mereka adalah band baru dengan jenre musik indi yang berkesempatan tampil di kafe tersebut berkat temannya. Kalian bisa tebak itu siapa. Yup, sang mantan-ku.

" Tambah berat deh hidup lo hari ini" ucap mbak Sandra sambil menepuk pundakku dengan tujuan mengutkanku ataumalah meledekku.

Selamat kawan hidup mu berakhir, ucapku begitu kami saling bertatapan. Elah! Kenapa beratatpan mulu sih! Kesalku.

Aku emang nggak lupa kalo Dan, ah aku malas menyebut namanya. Panggil saja Dan, dia memang mempunyai pengaruh di kafe ini begitupun aku tapi itu dulu enggak tahudeh sekarang. Walaupun kafe ini bukan miliknya tapi kami, mksudku dia sudah cukup kenal dengan ownernya. Merekapun menjadi kerabat dekat termasuk para pegawai disini begitupun aku tapi itu sih yang aku tahu dulu. Ya hanya dulu.

" Kok dia bisa disini?" tanya ku pada Ernes pelayan disini

" Ooh..itu, dia emang sering banget dateng kesini padahal lagi nggak ada manggung" jelasnya

"Mau menemukan masa lalu kaykanya" lanjutnya

"Asem!" ucapku kesal, sementara mereka berdua malah tertawa dengang bahagianya.

Semua orang disini tahu kalau aku dan Dan sudah berakhir, sebagai gantinya aku selalu mengajak mbak Sandra kesini mauapalagi aku hanya tidak ingin terlihat sendiri saat seperti ini, setidaknya ada seseorang disampingku. Aku memang lemah!

" Makasih semuanya udah pada hadir dihari yang sepesial ini" ucap Dan

"Hari spesial apa?" tanya ku pada Ernes yang sudah mengambil kursi di sampingku entah sejak kapan.

"Entah, mau ngelamar pacarnya mungkin" ucapnya dengan nada sungguh-sungguh

"Segitu seriusnya?" tanyaku penasaran. Baiklah jiwa korek-mengorek muncul.

"Entah" balasnya

"Lah emang ceweknya nggak pernah diajak gituh?" tanya lagi

"Pernah cuma jarang" balasnya

"Ooh..lah kok jarang emang kenapa?" tanya lagi

"Entah" balasnya

Enak sih ngomong apa aja sama Ernes cuma kalo dia jawab begini terus jiwa korek-mengkorek gua bisa memudar dengan sendirinya.

"Kayaknya lo harus kursus bahasa indonesia deh, biar perbendaharaan kata lu banyak" jawabku kesal

"Hahaha..lagi sih lo berisik kayak nyamuk, kan gua mau denger si Dan ngomong apa" jelasnya

"Gini nih orang yang minta dicubit ginjalnya"

"Weh..kalian berisik banget, daritadi diliatin tetus sama si Dan" ucap mbak Sandra.

Benarkah, batinku.

*
*
*
*
Makasih yang udah baca.

Saran gue bacanya pake google aja atau web serch biar bisa dengerin mulmetnya :)


Throw back Stories to obsess over. Discover now