s.a.t.u

33 4 0
                                        

1.

Gila!

Pasti Bang Halu sudah gila. Tara sudah melakukan latihan beban selama tiga puluh menit tanpa berhenti, tapi menurut pelatihnya itu belum cukup. Meskipun Tara sudah sering melakukan latihan - latihan yang mengerikan ini, tapi hari ini Tara mau pulang dan bermain permainan yang baru dia dapatkan dari Daren, sahabatnya.

"Bang Halu!" Tara merebahkan dirinya diatas lantai gym yang dingin, "Udah, ah! Gue capek!"

"Lo bentar lagi mau ikut olimpiade lari! Performa lo harus oke." Tutur Halu sore itu.

Sumpah, deh! Tara sungguhan lelah kali ini. Mulai dari ujung rambut pendek berantakannya sampai ke ujung - ujung jari kakinya sudah terasa lelah dan malas bergerak. Tara berharap, sekali saja ada kelonggaran. "Masih tiga bulan lagi!"

"Itu bukan masih, Tar! Lo kayak gini gimana bisa dibilang atlet lari?"

Aduh, Tara itu paling malas kalau kakaknya yang merangkap sebagai pelatihnya ini mulai menceramahinya soal menjadi atlet lari yang benar. Menurut Tara, sih, tiga bulan itu masih lama. Masih ada dua belas minggu lagi. Atau sembilan puluh hari lagi. Bahkan masih dua ribu seratus enam puluh jam lagi! Lama banget!

Tara berguling ke kanan lalu mengangkat dirinya hingga berdiri dengan tegak. "Besok aja deh, bang! Mau istirahat gue." Tara lalu mengambil handuknya yang terjatuh di lantai dan berjalan ke ruang mandi disana.

Tara memang rewel dan susah sekali diatur. Rewelnya pun, nggak berhenti disitu saja. Sesaat setelah keluar dari gedung tinggi itu, Tara sudah mulai mengeluarkan kata - kata yang membuat telinga Halu sakit. "Bang, beliin makan dong! Gue laper." Atau mungkin dompet Halu ikut berteriak kesakitan. Kalau saja Tara ini bukan adik laki - laki Halu, saat itu juga Halu ingin sekali meninju Tara diwajahnya. Sekali saja, deh, cukup buat Halu. Nggak usah ribet - ribet, satu kali pukul juga sudah lega.

Tara tersenyum riang. "Biar abang nggak ngomel, gue kesana sambil lari. Abang naik mobil. Tapi kalau gue capek, angkut gue ya bang!" lalu Tara mulai berlari menuju kafe yang biasa dia datangi setelah latihan.

Halu, kakak laki - laki Tara, yakin dalam dua menit lari Tara sudah malas dan berhenti.

2.

Slurp!

Tara memakan spaghetti yang barusan dia pesan dengan lahap. Benar kata Halu, Tara baru berlari dua menit. Bahkan tidak sampai setengah jalan, Tara sudah mengeluh kakinya terlalu malas. Alasan yang Tara berikan : "Kalau kaki gue sakit, nanti gue nggak bisa ikut lomba."

"Abang terbaik di dunia, lah, pokoknya!" puji Tara sambil senyam - senyum menatap Halu.

Halu hanya menghela napas lelah. Terserah Tara.

Tara menikmati makanannya sambil memperhatikan sekeliling kafe. Ada beberapa perabotan baru sejak terakhir dia datang kemari, minggu lalu tepatnya. Ada beberapa lukisan baru, tambahan meja, bunga - bunga palsu di pojok kafe, dan yang paling penting ada pelanggan baru. Mungkin sudah sering kesini, tapi Tara baru saja lihat dari sekian lama ia menjadi pelanggan setia kafe ini di hari Kamis.

Pelanggan baru itu seorang gadis dengan mata teduh yang sibuk menyapu halaman buku di tangannya. Sebuah pelantang telinga biru muda menggantung di lubang telinganya. Waktu itu, yang terpikir di benak Tara pertama kali adalah ini : "Siapa?" lalu berlanjut pada "Dia lagi baca apa? Dengerin lagu apa, sih, kayaknya asik banget?" Selanjutnya pikiran Tara mulai acak menjadi seperti "Kira - kira kalau gue mau kasih hadiah ulang tahun buat dia, dia mau apa?"

Tara tersadar ketika Halu menyuruhnya untuk segera menghabiskan makanannya dengan berucap, "Woy, cepet elah abisin! Pake bengong segala!" Dengan itu Tara menghapus segala serampangan dari benaknya itu dan kembali fokus pada piring yang hampir bersih dihadapannya.

Tapi, berjuta kali Tara berusaha berhenti memikirkan gadis berambut kecokelatan tadi, berkali - kali lipat lagi pikiran tidak jelas muncul dikepalanya. Misalkan Tara tidak sengaja berpikir mungkin, kah, kalau gadis tadi melihat Tara, dia lalu tertarik sedikit? Bilang Tara absurd atau semacamnya. Tara sendiri juga berpikir mungkin dia agak sedikit miring karena pelatihan keras dari kakaknya.

Mungkin, hanya mungkin, kalau Tara melihat ke langit dan bersyukur bahwa hari ini dia masih sehat, Tara akan segera lupa dan merasa lega tanpa memikirkan gadis tadi. Tapi bahkan setelah melihat langit yang kemerahan itu, Tara malah tidak sengaja melihat mata berwarna cokelat madu yang juga melihat langit sebentar lalu berlari menembus udara hangat khas sore hari.

"Tar! Lo dari tadi bengong mulu, sih? Ngantuk lo?"

Tara menoleh ke arah Halu. Mungkin ini karena mengantuk. Mungkin ini karena Tara biasanya memang absurd. Mungkin juga ini karena Tara ingat bahwa besok ada ulangan matematika dan dia tidak ingat sudah mempelajari apa saja selama tiga pertemuan matematika di sekolah. Payah! Tara jadi ingat besok ulangan!

"Bang! Gue besok ulangan! Mampus gue," Tara berlari dan memasuki mobil hitam Halu, "cepet pulang, gue harus minta tolong Daren ngajarin gue atau adek lo ini nggak punya gambaran masa depan!"

Halu memutar kedua bola matanya malas, "Lo ngapain aja selama sekolah?"

Tara menoleh dan menyipitkan matanya, "Gue tau lo pinter dan semacamnya. Maaf, ya, gen bagus ayah sama bunda nggak ada yang turun ke gue. Udah lo embat semua!"

Halu terkekeh sambil menyalakan mesin mobil. "Makanya belajar, jangan main game doang!"

Tara hanya diam, kesal.

Lari!Stories to obsess over. Discover now