Allyn
Aku mahasiswa biasa dengan penampilan biasa. Aku pendiam dan lebih suka untuk sendiri. Aku tidak menyukai siapapun di sekolahku, lebih tepatnya aku benci dengan murid – murid popular yang setiap hari bersenang – senang dan menghaburkan uang. Aku hanya murid yang belajar di universitas swasta dan universitasku yang biasa saja itu memiliki rumah kaca di taman belakang. Tamannya terlihat sepi dan penuh daun berjatuhan, rumah kaca yang terlihat menyeramkan itu setidaknya membaik karena diriku yang rajin membersihkannya. Waktu yang selalu aku tunggu dalam hidupku. Setiap aku membuka pintu rumah kaca itu, aku menemukan arti kebahagiaan yang sebenarnya, menemukan arti keindahan yang sebenarnya. Tulip.
Rumah kaca yang dipenuhi dengan bunga tulip. Tidak ada yang lebih indah dari ini. Aku menanamnya dan merawatnya atas seizin yayasan universitasku. Setiap kelasku selesai aku menghabiskan waktu di tempat ini. Aku sangat menyukai bunga tulip. Tulip yang memiliki sebutan asli Tulipa ini adalah hal yang paling aku cintai di dunia. Bentuknya yang simple tapi elegant dengan warna yang beraneka ragam, namun tetap saja, tulip merah tetap favoritku. Warnanya indah dan tulip merah memiliki cerita sendiri, meskipun itu hanya dongeng tapi aku rasa cerita itu sangat bagus. Aku menatap tulip merah yang ada di depanku sambil tersenyum.
Aku terkejut saat pintu rumah kaca tiba - tiba terbuka. Aku menoleh dan melihat seorang mahasiswa memasuki rumah kaca dengan nafas tidak teratur. Ia menutup kembali pintu dengan cepat dan melihat keadaan di luar. Aku hanya terdiam. Ia tampaknya tidak menyadari kehadiranku sampai akhirnya ia menoleh ke arahku lalu terlihat bingung. Untuk sesaat kami saling terdiam dan hanya menatap satu sama lain dengan kebingungan. Aku tidak pernah melihat mahasiswa ini sebelumnya. Ia lebih tinggi dariku, rambutnya hitam dan pendek, terlihat berantakan. Ia memakai kaus hitam dan jeans biru tua yang dipadukan dengan sneakers hitam bergaris putih. Wajahnya bercucuran keringat dan ia sedikit kotor.
"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya"
Suaranya yang berat menyadarkanku, aku menatapnya ragu dan tersenyum canggung, "Aku juga"
Ia sekali lagi memastikan keadaan di luar sebelum melangkah ke arahku. "Aku baru tahu ada bunga di rumah kaca ini", ia menatap sekitarnya sebelum terfokus kembali padaku.
Aku hanya diam. Setelah beberapa lama menatapku, ia tertawa. Aku menatapnya bingung.
"Kenapa kamu hanya diam dengan wajah seperti itu?"
Sambil tergagap aku menjawabnya, "Aku tidak mengenalmu...dan aku baru pertama kali melihatmu, jadi aku tidak tahu harus bagaimana"
Ia menjulurkan tangannya sambil tersenyum, "Aku Nathan"
Aku menatap tangannya dan dengan ragu membalas jabatannya, "Allyn"
Nathan tertawa, "Kayak nama cewek"
Aku menatapnya kesal, baru aku ingin membalasnya, terdengar suara ribut dari luar,
"Nathan!"
terdengar teriakan yang penuh emosi. Nathan menatapku dengan senyum canggung, lalu pintu terdobrak. Beberapa mahasiswa lain dengan seragam baseball masuk sambil membawa baseball bat, tatapan mereka sangat ganas, mereka menatap Nathan emosi.
"Teman - teman...kita bisa bicarakan ini" Nathan berbicara canggung
"Lu udah sering bolos, gak bisa main, dan gara - gara lu kita selalu kalah terus sekarang lu ancurin salah satu fasilitas tim baseball kita, lu udah gak bisa di maafin"
Aku menatap Nathan dan sekumpulan mahasiswa itu sambil terdiam. Salah satu dari kumpulan mahasiswa itu menarik Nathan dan memukul wajahnya. Aku terdiam dan saat mahasiswa lain mulai memukuli Nathan. Aku mengepalkan tanganku.
"Hentikan!", aku sedikit kaget dengan suaraku sendiri. Aku tidak pernah mengeluarkan suara sekeras itu sebelumnya.
Sekumpulan mahasiswa itu menatapku lalu salah satu dari mereka menghampiriku dan meraih kerah bajuku
"Lu siapa?!"
Aku hanya terdiam.
"Dia...Allyn, Ri. Dia temen sekelas gue dulu pas di jurusan seni biarin aja...percuma buang waktu sama dia"
Suara itu tampak familiar, aku mengalihkan perhatianku, dan aku bisa melihat Rio. Yah, aku mengenalnya, kita bukan teman masa kecil atau sejenisnya, tapi aku mengenalnya, sebelum ia pindah jurusan, aku sempat berteman dengannya, tapi tidak bertahan lama. Rio pindah jurusan dan kami jadi menjauh. Mahasiswa yang dipanggil "Ri" itu melepaskan kerah bajuku dan berbalik, ia menendang Nathan, "Jangan pernah nunjukin muka lu lagi!" lalu ia pergi, diikuti oleh konco - konconya itu termasuk Rio.
Aku menghampiri Nathan yang sedari tadi hanya diam. Nathan menatapku lalu tertawa
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
Aku menatapnya kesal, kenapa dengan manusia ini? aku sebenarnya terhitung menolongnya, bukan?
Nathan tersenyum dan dengan susah payah duduk lalu menatapku, "Thanks"
Aku terdiam. Aku sebenarnya sudah menyadari ini sebelumnya, tapi aku pikir ini hanya perasaanku, dan sekarang saat aku melihatnya lagi, ternyata memang benar, senyuman Nathan terlihat sederhana tapi terkesan sangat hangat
"Apa mau aku antar ke ruang kesehatan?"
Nathan menghela nafas pasrah, "Tolong"
Aku tersenyum dan membantunya berdiri lalu menopangnya, "Kamu berat"
Nathan tertawa kecil, "Kamu yang terlalu lemah"
Aku hanya diam sambil mendengus kesal.
Nathan duduk di sofa ruang kesehatan dengan lukanya yang sudah di obati itu. Reaksinya lebih heboh dari yang aku bayangkan dan menurutku itu lucu. Aku masih bisa tertawa saat membayangkannya. Nathan menatapku jengkel, "Sudahlah, itu sudah berlalu"
Aku mengangguk - ngangguk sambil menahan tawa. Nathan hanya menghela nafas pasrah lalu menatapku, "Jadi kamu anak jurusan seni?"
Aku mengangguk.
"Kenapa kamu jarang berbicara? padahal aku bertanya" tanya Nathan heran
"Tidak juga" aku menjawab pelan
"Aku dari jurusan arsitektur"
saat mendengar Nathan aku menatapnya sedikit terkejut. Nathan yang melihat reaksiku, tersenyum,"Aku tahu...aku tidak terlihat seperti anak - anak di jurusan arsitektur, tapi faktanya aku di jurusan itu"
Aku menatap Nathan terdiam. Nathan memang tampak seperti murid yang sering terlibat dalam masalah dan dia sangat aktif, berbeda denganku, tapi ada sebuah kehangatan yang aku rasakan saat bersamanya. Kehangatan yang sangat sederhana tapi sulit untuk dijelaskan.
Aku tersadar dan berdiri saat sebuah pikiran melesat di pikiranku.
"Ada apa?" Nathan tampak kaget
"Rumah kaca" aku menjawabnya sambil berniat berlari pergi
Nathan menahan tanganku. Aku menatapnya lalu Nathan melepaskan tanganku sambil tertawa canggung, "Tidak, terima kasih untuk hari ini"
Aku terdiam sejenak lalu tersenyum dan pergi. Apa yang aku harapkan? Apa...barusan aku berharap sesuatu? ...
To be continued...
/// NOTE
Hello :)
its been a long time, but i hope you guys enjoy this story. As always, comment and some advice are welcome.
(Also all the image is from pinterest, I do not own them, so credits to all the rightful owner)
YOU ARE READING
Red Tulipa
RomanceLove is something fast, We don't know when it starts and when it ends, And we know we can't fight fate, We destined to fall in love but not destined to be together, Therefore we decide to follow our own path, Because we were to scared, Then we...
