Bulatan embun menetes pada ujung daun dan rerumputan. Hawa dingin masih menyeruak masuk kedalam pori hingga ditulang. Seorang gadis tengah berdiri menghadap semburat kuning keemasan di cakrawala.
Gadis itu berjalan ditengah hawa dingin tanpa ekspresi yang berarti.
Kosong. Sepertinya memang begitu. Gadis itu berjalan dan berhenti didepan sebuah gerbang.
"Pagi." katanya datar dan melanjutkan perjalananya.
________________________________________________________________________
***
"Hey Iwa! lihat lihat... Cewek itu cupu banget ya?" bisik seorang gadis berambut coklat sebahu.
"Eh. .. Ara... Dia itu teman kita lho.." balas gadis yang bernama Iwa.
"Apa? Teman? Nggak mau ah! Dia itu bukan orang yang asik. Lihat aja rambutnya, pakaiannya, dan juga kacamatanya...." Ara berhenti bicara saat gadis yang dia maksud itu dicegat oleh tiga orang lelaki.
"Cupu... Lihat, ini bukumu jatuh lho..." tiga orang lelaki itu merampas tas gadis itu dan menyebar buku yang ada didalamnya.
"Ke-kembalikan." responnya sambil menunduk.
Iwa dan Ara hanya diam dan meninggalkan tempat itu. Mereka tidak mau berurusan dengan tiga lelaki tadi.
"Hah? Seperti biasa ya, cupu? Kenapa kau tak menatapku heh? Kevin, Jun, sebaiknya kita apakan dia?"
"Hah? Tumben tanya? Biasanya ajalah..." jawab Jun.
Kevin mengambil kacamata gadis itu dan mereka melempar tas gadis malang itu.
"Daaa... Cewek cupu!" seru mereka bertiga.
Gadis itu hanya diam dan memunguti buku yang besebaran dilantai.
"Hey, kau... Maaf ya? Mereka itu memang seperti itu." kata seorang gadis berkuncir kuda.
"Tidak masalah kok." Gadis itu mencoba tersenyum.
"Emm.. Namamu siapa? Em, aku Hana"
"Rin. Akatsuki Rin."
"Boleh kupanggil Rin?"
"Em." Wajah Rin memerah.
"Terimakasih..... Rin. Menurutmu, kenapa mereka melakukan itu?"
"...." Rin hanya menggeleng.
"Apa jangan-jangan karena kau cantik? Ah aku jadi iri. Rin, nanti kita kekantin ya?"
"Mmmmaaf, Hana. Aku... Aku harus keperpustakaan."
"Hah? Kenapa? Ada urusan penting kah?
"Penting sih..."
"Tapi, setiap istirahat kamu selalu berada di perpustakaan. Emang nggak bosen?" potong Hana.
"....." Rin menggeleng lagi.
"Ya kalau begitu aku kekelasku dulu ya? Sampai jumpa nanti."
Rin mengangguk dan percakapanpun berakhir.
Hana masih belum mengerti. Menurutnya, Rin itu terlalu menutup diri. Padahal kalau dia mau sedikit saja bergaul, Hana yakin Rin bisa langsung terkenal. Selain itu, bukan kah tanpa kacamata dia juga bisa melihat? Tapi kenapa ya dia selalu memakainya?
Tak dapat dipungkiri, Hana sebenarnya selalu memperhatikan Rin. Mungkin karena mereka beda tingkatan kelas, jadi ia tak tahu namanya. Hingga pada hari ini, ia berani bertanya namanya.
"Hey, Hana... Kau tadi sama si Cupu kan?" tanya Raka.
"Iya, emangnya kenapa?" jawab Hana lancang.
"Kau harus lebih berhati-hati." bisik lelaki itu.
Wajahnya memang tampan, tetapi ia memiliki aura yang sangat aneh. Mungkin lebih tepatnya menyeramkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Self : In The Shadow Of The Past
Mystery / ThrillerJika ada diri lain, mungkin itu bisa disebut sebagai merah dan kuning. Entah kenapa, tapi yang pasti mereka adalah sosok yang berbeda dari raga yang sama. ©Arcadia
