"Apa yang kau lakukan disini?!" bentak seorang pemuda yang sedang menahan serangan pedang dari seseorang yang terobsesi untuk membunuhnya.
"Hiks, aku ingin selalu bersamamu!" jawab seorang gadis sambil menangis tersedu-sedu.
"Kau seharusnya tidak datang kemari, Aline! Pergilah ke tempat persembunyian!"
Tubuh pemuda yang baru saja menyuruh seorang gadis bernama Aline pergi itu ambruk membentur tanah yang kering. Pedang yang berada dalam genggamannya pun telah terjatuh entah kemana. Dia mencoba untuk memfokuskan pandangannya yang berkunang-kunang.
"Herry!!!" jerit Aline menahan sesuatu yang menyakitkan, yang bersarang di dada kirinya. Dia meraba dada kirinya, terlihatlah sesuatu yang berwarna merah kental mengalir begitu deras.
"Hahahah! Lihatlah kalian berdua ini! Sungguh menyedihkan!" ejek seorang gadis berambut merah. Dia menginjak kepala Herry yang tergeletak lemas di atas tanah dengan tidak berperasaan.
"Kakak, bidikanku tepat sasaran kan?" ujar seorang bocah lelaki berumur lima tahun. Dia mendekati kakaknya dengan mata yang berbinar-binar.
"Tentu, Mark. Kau memang pemanah yang hebat!" jawab gadis berambut merah, dia mengelus-elus kepala bocah lelaki itu dengan sayang.
"Aaaaa!!!" Aline menjerit begitu ia merasakan sesuatu yang kembali menusuk jantungnya.
"Hahahahaha, kau begitu lucu!" bocah lelaki itu tertawa setelah kembali membidik anak panahnya pada Aline.
"Sudah! Cukup kalian berdua! Kalian benar-benar psikopat gila!" Herry kembali mendapatkan kesadarannya begitu ia mendengar jeritan melengking Aline.
Mata kuning kecoklatan milik si gadis berambut merah itu tampak berkobar marah. Dia mencoba menghunuskan pedang yang dipegangnya ke arah perut Herry, namun Herry begitu gesit sehingga kepala gadis berambut merah itulah yang sedang diinjak oleh kakinya sekarang.
Tanpa membuang banyak waktu, si bocah lelaki berusaha menyelamatkan kakaknya dengan membidik Herry tepat di jantungnya. Namun semua itu sia-sia, karena anak panah tersebut bukannya mengenai Herry, malah mengenai si gadis berambut merah. Karena Herry langsung mengangkat tubuh si gadis berambut merah, dan dijadikannya tameng.
Herry membuang tubuh tak bernyawa itu ke dalam jurang yang tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Si bocah lelaki itu pun segera berlari ketakutan.
Herry berlari menghampiri Aline yang sedang sekarat. Langkah kakinya semakin memelan seiring dengan mendekatnya ia pada tubuh yang sedang meregang nyawa tersebut.
Herry bersimpuh, kemudian memangku kepala Aline. "He... rry... ka-kau baik-bbaik saj... ja?" tanya Aline dengan terbata-bata.
"Kenapa kau menanyakan keadaanku?! Seharusnya kau memikirkan dirimu sendiri! Hiks, kenapa kita harus mengalami ini semua?! Kenapa?!!!" jerit Herry frustasi. Dan untuk pertama kalinya, Aline melihat sebulir air mata yang jatuh dari mata yang selalu dipujanya.
Aline mengangkat tangannya dengan perlahan, ia meletakan jari telunjuknya di bibir Herry. "Sssttt, ka-kau tid-dak bo-leh berk...kata seperti itu." bisik Aline pelan.
Herry menggenggam telapak tangan Aline yang berada di dekat bibirnya, kemudian menciumnya dengan penuh perasaan. "Jangan tinggalkan aku, Aline..." intonasi suara Herry melembut.
Aline tersenyum manis. "Per-percaya... lah. Wal-laupun kit-ta tidak ber-bera... da di dunia ya-yang sama, namun ki-ki-kita akan sel-lalu mera... sa bahwa, ki-ki... ta ini bersama. Disini..." telapak tangan Aline yang sedang digenggam oleh Herry, gadis itu arahkan ke dada sebelah kiri Herry.
Herry menatap Aline dengan sendu. Ia tak menyangka bahwa gadis yang selalu bertengkar dengannya dulu, yang sangat ia benci, yang selalu mengejeknya di setiap kesempatan yang ada, yang selalu meracuninya dengan racun yang membuat seseorang tidak bisa berbicara dalam waktu beberapa jam, dan gadis yang telah mebalikan hatinya, dari benci menjadi cinta, sekarang tengah meregang nyawa.
Herry menatap mata Aline dengan sorot terluka. "Aline, ak-aku mencintaimu."
"Ak-aku tahu it-tu. Ak-u jug-ga mencintai...mu." Aline tersenyum tulus.
Herry mendekatkan wajahnya pada wajah Aline, kemudian ia mencium kening Aline sambil memejamkan mata. Tanpa terasa, bulir-bulir air mata kembali jatuh dari kedua matanya. Dan tanpa ia sadari pula, sang pujaan hati juga telah menutup mata, untuk selamanya.
~°_°~
Huaaa😭 Aline, jangan tinggalkan daku... Eh, tapi gak papa ding. Biar Babang Herry-nya buat aku. Ahihihihi 😂
Gimana ceritanya menurut kalian?? Ini cerita pertama aku di akun ini.
#plakk!gaknanya!!😑
Ayok tekan ikon bintang di pojok kiri bawah yah... Dan jangan lupa comment. Biar aku tahu kekurangan cerita ini ada dimana. Hehew
Sampai jumpa lagi...😘
YOU ARE READING
Harry & Herry
FantasyHarryana Madeline Aku melihatmu. Seseorang yang telah lama singgah di hati, akan tetapi tak berani singgah di dalam memori. Siapa kau?? Kenapa aku merasa begitu mencintaimu?? Padahal sesungguhnya kita tidak saling mengenal. Dan kita hanya dipertemuk...
