Kadar Peka yang Rendah

32 4 2
                                        

   "Ada atau pun tanpa gue, lo akan jadi Dira yang nggak akan pernah kenal apa namanya sakit. Apalagi di sakitin." Wira melihat sekilas ke Dira dengan senyuman penuh arti.
   Sakit yang di maksud Wira adalah sakit hati. Karena Dira adalah perempuan yang tidak mengenal cinta. Dira memang pernah menyukai seseorang, namun hanya sebatas itu. Selama ia hidup, Dira tidak pernah harus rasa memiliki seseorang. Katakanlah, Dira tidak pernah pacaran.
   Dira yang mendengar kata-kata Wira hanya tersenyum singkat. Mungkin bagi Wira, Dira tidak pernah sakit. Merasa sakit ataupun di sakiti hatinya, manusia mana yang tidak pernah merasakan semua itu? Dira memang tidak pernah pacaran, merasakan rasa untuk ingin memiliki seseorang pun Dira belum pernah merasakannya. Namun, bukan berarti dia tidak pernah merasa sakit ataupun di sakiti.
   "Hahaha, lo pikir gue gak punya hati?" pertanyaan itu di iringi gelak tawa oleh Dira.
   "Ya buktinya, lo gak pernah ngerasa sakit hati atau ngerasa di sakitin." sela Wira sedikit mendengus kesal karena sahabatnya ini selalu saja menanggapi hal apapun dengan santai.
   "Gue emang nggak pernah sakit hati, tapi kalau nyakitin. Mungkin sering." ucap Dira sesantai mungkin, namun jauh dalam hatinya, ia merasa sakit.
   "Nah, tuh ngaku. Hahaha." gelak tawa dari Wira itu di tanggapi senyum getir oleh Dira.
   "Sialan lo." sahut Dira di iringi pukulan pada bahu Wira, "eh, tunggu deh. Gue nggak pernah nyakitin lo kan?" tanya Dira memastikan.
   "Dira.. Dira.. Gitu aja masih tanya. Pikir aja sendiri." jawab Wira santai, kali ini pandangannya tertuju pada lampion-lampion di atasnya.
      "Emang gue pernah bikin lo sakit kayak gimana?"
   Pemandangan malam ini memang tidak jauh berbeda, hanya ada orang-orang yang berlalu lalang dengan pasangannya. Entah itu teman, sahabat, atau mungkin seseorang yang di jadikan pelarian. Ya, entah ada angin darimana pikiran Wira tiba-tiba berpikir sampai sejauh itu.
   Mata Wira kembali tertuju pada seorang perempuan di sampingnya.
   "Heh, lo dengerin gue gak sih?" tanya Dira kesal ketika kesadaran sahabatnya itu sudah tidak bersamanya.
   "Apa?" Wira menaikkan kedua alisnya, tanda bahwa ia tidak tahu apa yang di katakan oleh Dira.
   "Emang gue pernah bikin lo sakit kayak gimana?" untuk kesekian kalinya, pertanyaan itu Dira ulang. Ya, jika Dira sudah bertanya dan di 1 detik pertama belum di jawab, pasti ia akan menanyakannya terus menerus.
   "Hm, kasih tahu gak ya?" gaya bicara Wira saat ini mirip seperti perempuan yang sedang bercerita dengan tanggung-tanggung.
   "Tunggu, gue jadi mikir kalau lo itu.." Dira menggantung kata-katanya, tidak yakin akan ucapan yang akan ia lontarkan selanjutnya.
   "Apaan?" tanya Wira dengan tidak sabar.
   "Kata teman SMA gue, kalau cewe sama cowo sahabatan itu, nggak benar-benar murni sahabat. Lo ngerti kan maksudnya?" tanya Dira memastikan. Dan langsung di jawab anggukan oleh Wira.
   "Tapi, gue sih nggak percaya." kata Dira melanjutkan kata-katanya.
   "Kenapa? Kan emang faktanya gitu."
   "Tapi kita nggak. Iya kan?" Dira menatap mata sipit Wira dengan senyum, seolah apa yang ia tanyakan itu sebuah kepastian.
   Namun, bukan Wira jika tidak bisa membuat Dira puas. Wira selalu mengerti akan apa yang Dira mau, jawaban "ya" misalnya.
   Wira tahu, Dira bukan tipe perempuan agresif apalagi dia juga bukan tipe perempuan peka. Kadar kepekaannya sangatlah rendah, namun di sisi lain ketika Wira ingin mengatakan yang sebenarnya, Wira sadar bahwa Dira juga memiliki tingkat kepedulian yang tinggi. Bahkan, ada beberapa orang yang mengartikan kebaikan Dira dengan maksud yang lain.
   Namun, inilah Wira dan Dira dengan segala bentuk cerita persahabatannya.
    ***
   Pagi itu Dira dan Wira kembali pada dunianya masing-masing. Wira yang sudah melakukan kegiatannya dengan memulai pelajaran Olahraga di jam pelajaran pertama, Dira yang memulai pelajaran pertamanya dengan mata pelajaran Biologinya.
   Wira dan Dira tidak satu sekolah. Lebih tepatnya, saat Dira melanjutkan pendidikan SMA nya, Dira mendaftar ke SMA yang berbeda Kabupaten dengan Wira. Wira dengan jurusan IPS nya dan Dira dengan jurusan IPA nya.
   Mereka memang tidak setiap hari bertemu, namun terkadang Dira sering pulang setiap Minggunya. Kadang, Dira pulang ke rumah setelah pulang sekolah hari Sabtu. Atau mungkin, tidak pulang sama sekali. Dan Wira selalu menunggu. Tanpa pernah Dira tahu.

KosongStories to obsess over. Discover now