Tragedi Kali Angke, Oktober 1740. Sekelompok masyarakat keturunan Tionghoa mengangkat senjata melawan kebuasan pemerintah VOC. Mereka mencengram cangkul, bajak sawah, bambu, apapun yang bisa digunakan sebagai senjata. Sedangkan dari balik tembok benteng Batavia, barisan serdadu telah mengarahkan senapan dan mulut meriam. Perintah mereka jelas: bunuh siapapun yang melawan! Mayat-mayat bergelimangan. Tubuh-tubuh terpotong merangkak mencari pelarian. Keruh Kali Angke berubah merah bercampur darah.
Ratusan tahun berlalu. Pada sebuah pagi yang tadinya tenang. Semua mendadak berubah gempar. Kali Angke berdarah lagi!
Sirine belasan mobil polisi tak henti meraung mengagetkan hari Sabtu penduduk di sekitar Kali Angke. Kira-kira tiga kilometer dari pemukiman warga, di sebuah tanah lapang tempat pembuangan sampah penuh ilalang setinggi orang dewasa, aroma busuk menyengat dari sesosok tubuh yang telah menjadi mayat.
Puluhan polisi telah sibuk sejak pagi buta tadi ketika Zami, seorang warga sekitar, menelepon polisi dengan tergagap melaporkan bahwa dia menemukan mayat yang sangat menyeramkan. Kondisi tubuh tak bernyawa tak lazim itu akhirnya menarik perhatian banyak orang. Tidak hanya warga namun juga kuli tinta dari berbagai surat kabar. Tak ayal Polisi dibuat kerepotan untuk memasang police line dimana-mana.
Berita segera menyebar luas. Artikel-artikel di internet tentang kejadian ini muncul di seluruh media online. Tak ketinggalan koran-koran memampang berita ini pada halaman pertama. Publik gaduh. Kicau warganet silih berganti memenuhi kolom komentar. Semuanya seakan tidak percaya pada apa yang terjadi. Peristiwa ini dikatakan sebagai pembunuhan paling biadab yang bisa dilakukan manusia.
Di tengah keriuhan wartawan dan penduduk sekitar tempat kejadian, berhenti sebuah mobil sedan hitam yang terburu datang. Sosok berseragam turun. Kakinya menghantam bumi membuat semua mata tertuju padanya.
"Pak, apa benar korban adalah anggota kepolisian?" Tanya seorang wartawati sembari menyodorkan microphone pada Kombes. Alberto Cakrabuana yang baru saja tiba di tempat kejadian.
Dibalik kacamata hitam Kapolresta Tangerang itu semua orang bisa melihat kemarahan. Namun Berto, sapaannya, tidak ingin gegabah menjawab. Dia ingin mengetahui detail kejadian terlebih dahulu. Tanpa menjawab rangkaian pertanyaan dia segera melangkah ke lokasi yang berjarak 150 meter dari tempatnya berdiri sekarang.
Langkah tegaknya terburu. Ciri khas saat emosi sedang menguasai pikiran. Ia menyulut sebatang rokok untuk membuatnya lebih tenang sekaligus mengusir bau sampah. Ia tak ingin sarapannya pagi ini bermuntahan keluar karena aroma busuk sampah bercampur anyir mayat.
"Di sini, Pak." Suara seorang lelaki menyapa Berto. Dia adalah Ganesh, Kasatreskrim di kantornya.
"Bagaimana, Nesh?"
"Wah, susah kalau harus menjelaskan, Pak. Lebih baik Bapak melihat langsung saja."
"Benar dia anggota kita?"
"Sayangnya benar. Namanya Ramon. Bripda di Satlantas kita yang sudah tidak ada kabar sejak dua minggu lalu."
Langkah mereka berdua terhenti di depan sesosok mayat lelaki dengan kondisi mengenaskan. Mayat Ramon dipancang pada sebuah kayu salib pendek dengan posisi berlutut. Kedua bola matanya dicongkel keluar dan dimasukkan pada sebuah lubang yang dibuat pelaku di tengah dahi membuat mayat itu seakan-akan memiliki tiga mata. Alat kelaminnya dipotong lalu dimasukkan dalam mulut dengan lidah ditarik sampai menjuntai keluar. Sedangkan seluruh kulit kaki serta tangan hilang sehingga membuat otot-otot dan dagingnya terlihat jelas. Seluruh tulang belakang sampai tengkorak dibor pada kayu agar posisi mayat tetap tegak.
"Kurang ajar!" Berto menggeram. Ia melemparkan sisa puntung rokok lalu bercangkung di dekat mayat untuk memperhatikan lebih seksama.
Amarah semakin bertambah seiring sapuan matanya pada mayat itu. Dia melihat jelas bagaimana pelaku menyayat lutut dan pergelangan tangan korban untuk memotong urat nadi. Tiap potongan dan sayatan pelaku sangat rapi seperti pekerjaan seorang dokter bedah saat mengoperasi pasien. Tidak ada tanda-tanda kebrutalan, keliaran, bahkan tidak ada darah sama sekali. Semuanya bersih dan rapi. Jelas pelaku melakukan aksinya dengan tenang dan dia sangat terampil.
ESTÁS LEYENDO
Venganza
Misterio / SuspensoAbhivandya, seorang kriminolog Occultism Crime mengejar pembunuh tunangannya enam tahun silam. Lea, seorang Polwan yang ditugaskan menemani Abhi, mau tidak mau ikut terjun ke dunia bawah tanah tempat dimana banyak sekte tumbuh. Perjalanan mereka mem...
