Sebuah video ditampilkan agar bisa melihat, betapa perjuangan suku talang mamak untuk bisa bersekolah.
Kami adalah anak murid dari Suku Talang Mamak di daerah riau. Sebelumnya kami tidak tahu apa itu angka dan apa itu huruf. yang kami tahu hanyalah bertani, menangkap ikan, berburu dan mengurus adik-adik kami.
Setelah datang gerombolan orang-orang berpakaian rapi, dan mendirikan pondok kecil tempat kami belajar, barulah kami tahu apa itu huruf dan apa itu angka.
Mereka sangat baik kepada kami, senyuman mereka bagaikan malaikat di hati kami. Mereka memberikan semangat kepada kami, agar kami mempunyai mimpi. Mimpi untuk memperjuangkan suku kami.
Awalnya sekolah itu adalah hambatan bagi keluarga kami. Yang mana biasanya kami pergi berkebun dan berburu bersama keluarga, sekarang terpaksa pergi bersekolah.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Kehidupan kami berbeda dengan kalian teman, sebagian dari kami menempuh sekolah yang sangat jauh, menelusuri hutan dan sungai agar bisa belajar bersama teman-teman.
Sekolah kami pun tak seindah sekolah kalian, yang dilapisi dinding tebal dan atap yang kuat. Tetapi kami juga punya mampi teman, mimpi agar suku dan keluarga kami tak bergantung lagi kepada alam. Ini lah bentuk sekolah kami yang pertama teman.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Jangansia-siakanlangkahmu, yang begitujauhdansulituntukmenempuhnya. Sedangkanengkauhanyadatangbukanuntukbelajar, tetapihanyauntukbermain."
"Pandanglahwajah orang tuamu, biarengkautahubegaimanamelepaskantakdiritu. Takdir yang tidakpernahhilangdarisukumu."
Di sekolah adalah dimana tempat yang paling indah bagi kami, karena banyak kata yang kami temui.
Sebuah kata yang terbentuk dari hati, yang bisa kami ambil sebagai penyemangat diri.
Selain sekolah kami juga memilik musollah, tempat kami menuntut ilmu agama. Sebelum mengetahui agama, kami hanya percaya kepada hutan dan pokok kayu yang besar, begitulah kepercayaan suku kami yang berawal dari nenek moyang kami teman.
Musollah kami juga dibangun dengan sederhana, tak seperti tempat kalian, yang di lapisi dinding baja dan atap besi. Hingga akhirnya musollah kami rubuh diterpa angin dan hujan.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Sarana kami menuntut ilmu agama jadi terkendala, tak tahu lagi kemana tempat kami untuk mengadu.