Di dalam cermin hanya ilusi.
Itu yang sedari tadi diyakini Salsabila,atau yang biasa dipanggil Ila. Meyakini bahwa si buruk rupa yang berada di hadapannya ini hanyalah ilusi.
Kacamata tebal bertengger di hidung yang bahkan tidak bisa menyangga kacamata karena terlalu pesek,wajah yang bahkan tidak lebih putih dari pada para paskibra yang berpanas-panas di lapangan,dan juga rambut gelombang yang tidak pernah bisa ia sisir habis karena bertautan satu sama lain.
Beranjak dari cermin yang hanya membuatnya kecewa,Ila mengambil tas navy-nya dan keluar dari kamar,menjumpai keluarga kecilnya yang sedang tertawa di meja makan.
"Ila,duduk nak" suruh sang Ibu,sembari meletakkan roti bakar ke atas piringnya. Setelah memberi kecupan selamat pagi kepada Ibu dan Ayahnya,Ila menoel pipi adiknya,Zio,yang sudah menginjak kelas sepuluh.
"Ciee yang udah SMA!!" goda Ila kepada Zio yang dijawab dengusan.
"Eh Zio mukanya merah!" tawa di ruangan itu meledak tanpa bisa dicegah. Bahkan Zio ikut tertawa,padahal dirinya lah yang sedang ditertawakan.
"Ciee yang udah kelas tiga,tapi nggak cantik-cantik" balas Zio kepada Ila,membuat semua terdiam. Ibu dan ayah melirik Ila yang hanya terdiam dengan tatapan sulit diartikan. Sedangkan Zio,menyadari dirinya sudah salah berbicara,langsung memeluk sang kakak hangat. Tidak ada kecanggungan antara keduanya untuk berpelukan,bahkan Zio sekalipun.
Ila tersenyum,membalas pelukan sang adik.
"Jelek-jelek juga tetep kamu sayang 'kan? Ngaku" Zio terkekeh mendengar ucapan sang kakak. Zio tahu,sebenarnya Ila sangat minder dengan fisiknya. Zio juga tahu,Ila seringkali memaki dirinya sendiri di depan cermin. Dan Ila tidak memiliki satu pun teman.
"Udah sayang-sayangnya,nanti terlambat sekolah loh" sang ayah menginterupsi Ila dan Zio yang masih berpelukan,untuk segera sarapan.
Meja makan yang sebelumnya ramai,kini tak bersuara. Ila dan Zio berangkat sekolah dengan naik motor yang biasa dipakai Ila berangkat sekolah,agar tidak merepotkan sang ayah ataupun ibu mereka dengan mengantarkan mereka sekolah. Sedangkan Ayah sudah berangkat bekerja,begitupun Ibu yang pergi ke toko roti cabang baru di luar kota. Dalam hati,keempatnya saling mendoakan. Doa yang hanya diketahui Tuhan dan diri mereka sendiri.
Hanya Tuhan.
🌓🌗
"Zio,nanti kalau udah pulang chat mbak ya? Soalnya kadang kelupaan nongkrong di perpus" Zio mengangguk sembari melempar kunci motor yang baru saja dikendarainya kepada Ila.
"Satu lagi!," Zio yang sudah akan beranjak dari parkiran pun berhenti. "Kalo di sekolah bersikap kayak kakak kelas sama adik kelas aja ya" pinta Ila pelan. Zio yang tak paham,mengangkat alisnya.
"Kenapa?" Ila menggaruk tengkuknya. Bingung bagaimana menjelaskan kepada adiknya ini.
"Iyain aja biar cepet! Mbak duluan!" seru Ila dan segera berlari menuju gedung sekolah.
Zio menatap punggung Ila yang menjauh dari parkiran dengan pikiran berkecamuk. Apa yang sebenarnya terjadi?
Zio berjalan menuju kelasnya,saat tanpa sengaja, dirinya melihat sang kakak mulai menundukkan kepalanya. Tidak ada lagi wajah ceria,ataupun banyak bicara. Hanya menatap lantai koridor dan menggenggam erat pegangan tasnya.
Hati Zio teriris. Beginikah kakaknya ketika di sekolah?
🌗🌓
Ila meletakkan kacamatanya di sisi wastafel untuk mencuci wajahnya. Rasa segar langsung menyeruak di wajahnya yang sedari tadi panas-panasan setelah berolahraga di lapangan.
"Gue tadi liat anak baru ganteng banget!" seru seseorang yang baru masuk ke dalam toilet bersama temannya. Mendengar seruan tersebut,Ila memakai kembali kacamatanya dan bersiap keluar dari toilet.
"Eh ada Ila,hai La? Udah selesai pake kamar mandi?"tanya anak itu,Dewi,teman sekelasnya.
"I-iya udah" Ila langsung berjalan keluar toilet begitu selesai menjawab. Memegang dadanya yang berdegup kencang jika berpapasan dengan Dewi,sang ratu sekolah. Dirinya merasa kecil dan hina jika berada di samping Dewi.
"Ahahahahaa liat tadi? Wajahnya jadi merah gitu" suara Dewi keluar dari dalam kamar mandi,diikuti suara temannya.
"Masa? Emang keliatan ya? Orang item gitu"
"Ah iya! Kan ya gitu,jadi tambah item aja. Hahahahaa"
Ila meremas seragam olahraganya yang sudah terlipat rapi. Dadanya sesak dan nafasnya tersengal. Kata-kata seperti itu sudah biasa didengarnya,tapi setiap kali mendengarnya,hatinya masih saja sakit.
"Hahaa,apasih kayak mereka bilang yang nggak bener tentang lo aja. Mereka cuma bicara fakta kok La,lo nggak perlu marah ,oke?" kata Ila pada dirinya sendiri. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri,meskipun Ila tidak pernah percaya pada dirinya sendiri.
Melanjutkan jalannya menuju kelas,Ila terus menundukkan kepalanya,berjalan di depan adik kelasnya .
"Eh itu kak Ila" terdengar suara seorang adik kelas di sepanjang koridor.
"Siapa emangnya?" tanya seseorang di sampingnya.
"Kata kakak gue,dia itu orang ter-ti-dak percaya diri,ter-ti-dak-can-tik,dan ter-bu-ruk-ru-pa di sekolah ini" mereka tertawa mendengar penuturan temannya tentang kakak kelas mereka yang baru saja lewat itu. Tanpa perasaan memperkeras suara mereka.
Ila mempercepat langkahnya. Berbelok menuju taman belakang sekolah yang sudah lama tidak terjamah. Terduduk di bawah pohon mangga,tanpa perduli dengan rok abu-abunya yang kotor karena duduk tanpa alas.
Melepas kacamatanya dan menggerakkan jari telunjuknya di depan mata,berusaha mendapat titik fokusnya. Erangan frustasi sering kali terdengar dari mulut Ila ketika gagal mendapat titik fokusnya dan justru kabur dan membuat kepalanya pening luar biasa.
Ila tertawa sumbang menyadari dirinya tidak bisa menemukan titik fokus matanya tanpa kacamata tebal yang begitu mengganggu. Air matanya tanpa sadar terjatuh,suaranya tercekat. Ila menangis dalam diam,tanpa menyadari dari kejauhan dua orang sedang mengamatinya. Zio,dengan hati yang seolah diremas-remas melihat sang kakak yang terpuruk,dan seorang laki-laki yang sedang bingung menerka siapa seseorang yang berada di taman belakang sekolah dan duduk di bawah pohon mangga.
🌓🌗
A/N
Hai😂 ini cerita kesekian yang aku tulis,dan semoga tidak berakhir sama seperti cerita lain yang diunpublish😂😂
Dapet nggak feel-nya? Aku agak nyesek nulis ini(alay dikit cekrek😂)
Ahahaa yaudah lah,next gak? Next gak?(maksa) 😂
Follow ig aku (at)rizqiinayah_
Trmkasih
VOUS LISEZ
ALMOST
Roman pour AdolescentsSemua hal di dunia ini hampir. Layaknya aku dan kamu. Hampir sempurna dengan cinta.
