°Jakarta!°

223 47 104
                                        


Sudah seminggu sejak aku memilih untuk merantau di Jakarta. Ini pertama kalinya, aku hidup di kota keras.

Tujuan utamaku merantau, ya dapat uang.Tau sendiri kan,remaja seumuran aku itu cuma butuh uang dan uang.

Eh,tapi juga butuh kepastian.

Entah kenapa aku lebih memilih buat merantau di Jakarta daripada harus terbang sampai ke Kalimantan.Mungkin takut,nanti ketemu mantan.

Orang tuaku asli orang Jawa.Ya,daerah Solo Raya.Kota jomblo yang dihormati.

Coba kalian semua main kerumah, gak bakalan gak dapet senyuman. Orang Jawa itu murah senyum dan ya gitulah sekali senyum bikin kita kepikiran terus.

Balik lagi ke diriku yang memilih untuk merantau diJakarta. Belum ada satu tempat kerja pun yang mau nampung.

Jakarta sangat ramai.Pantas saja,banyak yang menolak.Dari seberang terlihat cafe yang cukup elegan.

Kurang mewah sih,tapi kalo aku diterima kerja disana,mungkin cukup untuk bayar kos dan makan.

Aku bergegas menyeberangi jalanan, tak lupa menengok kanan kiri dan kanan lagi.

Keadaan cafe itu cukup ramai, ternyata cafe itu menjual berbagai macam varian cake dan coffee serta minuman lainnya.

Sepertinya, aku cocok berada di tempat se elegan ini.

Aku berjalan dan bertanya ke salah satu pelayan disana, "Permisi,Mba. Bisa saya bertemu dengan pemilik cafe?"

Pelayan itu heran lalu sedetik kemudian dia berkata, "Tunggu sebentar,saya panggilkan,"

Aku hanya mengangguk dan memilih untuk duduk di kursi yang sudah bersarang disana.

Cukup singkat waktu untuk menunggu sang pemilik cafe.15 menit,sama persis kaya kalian kalo lagi gambar alis.

Aku mendongak melihat pemuda yang saat ini sedang berada tepat di depanku. Kesan pertama yang aku lihat, dia itu cool.

"Alfarizi,senang bertemu dengan anda," ucapnya sambil mengulurkan tangan,lalu detik berikutnya dia menjatuhkan bokong ke kursi.

Aku mencoba tersenyum,seraya mengulurkan tangan, "Kanaya,senang juga bertemu dengan anda,Pak,"

"Ada perlu apa kamu sama saya?" tanya Alfarizi.

Aku menghembuskan napas sebelum berbicara, "Saya butuh pekerjaan.Kalau bapak bersedia menerima saya,itu sangat membantu,"

Alfarizi mengamati tubuhku hingga detail. Siapa coba yang ga bakal grogi dilihatin bos cafe. Apalagi,Alfarizi itu tipe orang yang kalem dan irit bicara.

"Saya butuh satu pelayan,bagian cake," ujar Alfarizi mantap.

Aku menelan ludah,bagian cake?Itu artinya memasak berbagai macam cake yang ada disana.

LAH! MASAK NASI AJA MASIH REMIDI.Bagaimana nanti,dengan cake?

Alfarizi,mengibaskan tangannya di hadapanku.Ternyata aku melamun.

"Gimana,kamu sanggup?" tanyanya.

Aku berpikir sebentar,kalau tawaran ini kutolak,harus cari kerja dimana lagi.

"Saya mau,Pak," ucapku sambil mengangguk mantap biar meyakinkan.

Alfarizi tersenyum simpul.Tampan sekali pria itu, "Baiklah,selamat bergabung," seraya mengulurkan tangannya untuk menjabatku.

Aku tersenyum dan menerima uluran tangan itu.

Sepertinya,lika-liku hidupku dimulai saat ini juga.

Gadis RantauStories to obsess over. Discover now