We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

MY PERFECT PHOTOGRAPHER

12 2 0
                                        

“aduuhh, mampus aku, mampus aku huaaaa!”

“sayang, kamu kenapa sih?”

“aduuuh ma, kenapa gak bangunin Karin sih? Karin hari ini kan ada photoshoot ma…”

“mama udah bangunin kamu sayang, tapi kamu gak bangun-bangun” kata Mama yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu kamarku.

Tidak peduli dengan keberadaan mama, aku langsung menuju ke kamar mandi, membasuh wajah dan sikat gigi, namun begitu aku keluar dari kamar mandi, mama menyuruhku masuk dan mandi.

“ya Tuhan! Kamu gak mandi? Jorok banget sih! sana mandi cepet”

“tapi ma, aku udah telat”

“mama manager kamu, ntar mama yang bilangin ke fotografernya deh”

Dengan langkah gontai, aku menuju ke kamar mandi dan melakukan ritual pagiku yang hampir aku lewatkan.
Ya, namanya juga perempuan, anak remaja lagi. Aku menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk bersiap-siap menuju studio foto. Mama mulai menceramahiku yang menurutku percuma saja, karena kalimat-kalimat mutiaranya tidak akan bersarang lama di kepalaku.

Hampir satu jam perjalanan karena macet, akhirnya aku dan mama sampai di studio foto terkenal, tiga lantai yang sudah sangat modern. Awalnya, aku sendiri tidak menyangka kalau aku akan menjadi seperti sekarang ini.
Hari-hariku yang disibukan dengan photoshoot, modelling, bimbel matematika, fisika, kimia karena aku sekarang sudah kelas dua SMA, tugas sekolah yang tidak ada habisnya, dan tentu saja kegiatan sekolahku yang tidak bisa kuabaikan. Semua itu terjadi begitu saja, ketika aku mengikuti lomba modelling di sebuah mall dan ada sebuah agency yang menawarkanku untuk bergabung didalamnya.

“ayo turun” kata mama yang membuyarkan pikiranku.

“iya iya”

“mama tinggal arisan dulu ya, tadi mama udah bilang ke Wahyu yang ngehandle photoshoot kamu sekarang kalau kamu sedikit telat” kata mama sambil melambai kepadaku.

Aku hanya tersenyum masam dan membalas lambaiannya. Meskipun di studio itu ada lift, tapi untuk hari ini, entah kenapa kakiku lebih memilih untuk menaiki tangga.

“permisi” kataku sambil mengetuk pintu ruangan yang akan kupakai untuk photoshoot.

“eehh, Karin udah dateng, sini masuk .” Kata Wahyu.

“ohh ya, ini fotografer baru yang kakak suruh gantiin Mas Udin karena beliau lagi pulang kampung”

“oh hai, kayaknya kamu masih muda ya?” tanyaku blak blak-an.

“iyaa, aku masih kelas tiga SMA kok, kalau ada waktu luang, aku jadi fotografer”

“Doni” katanya sambil menjulurkan tangan untuk berjabat tangan denganku.

“aku Karin” kataku sambil menarik tanganku kembali dari tangannya.

Doni bisa dibilang cowok idaman, dia tinggi, putih, dan sepertinya baik. Tapi, ada sedikit perasaan tidak nyaman ketika aku bersalaman dengan dia. Maka dari itu, aku cepat-cepat menarik tanganku.

“sudah cukup perkenalannya, sekarang kakak tinggal dulu, Karin kamu bisa ganti pakaian dan makeup artistnya juga udah ada di ruang sebelah, Doni, kamu persiapkan buat photoshootnya. Kalian jangan macam-macam ya, ada cctv di sini.”

Kami berdua mengangguk tanda mengerti. Aku segera menuju ke ruang sebelah untuk bersiap-siap.

Transparent boot, colorful stripes pants, crop top dan pom-pom jacket membuat penampilanku tampak sepuluh tahun lebih muda. Hehehehe… bercanda dong. Dengan look seperti itu, aku terlihat sesuai dengan umurku. Karena biasanya remaja jaman sekarang dengan outfit yang mereka kenakan terlihat jauh lebih tua.

Aku memasuki ruangan photoshoot dan melihat Doni sedang mengatur lighting.

“ekhem”

Dia menoleh dan tersenyum ke arahku. Tanpa basa-basi lagi, dia langsung menyuruhku untuk bergaya dan “jepret, jepret,jepret” aku tidak tanggung-tanggung untuk bergaya di depannya, dan diapun dengan sigap mengambil fotoku.
Setelah mendapatkan foto yang lumayan, kami memutuskan pergi ke roof top untuk beristirahat.
Tapi, terjadi sebuah musibah. Di sanalah aku mengerti, kenapa aku harus waspada terhadap Doni.

“wow mbak, mbak sengaja ya siram saya dengan kopi?” teriak Doni marah-marah.

“maaf den, saya gak sengaja. Saya akan ganti rugi kemejanya den” kata si mbak sambil menahan tangis karena takut.

“apa? Ganti rugi? Mbak gak tau kalau kemeja ini mahal?”

Aku berteriak sekeras mungkin dan orang-orang yang berada di sana langsung menghampiri kami. Aku melihat Doni mengambil sebuah pisau lipat dari saku celananya. Tanpa menunggu perintah, dua laki-laki yang ada di sana langsung memegang Doni dan berusaha menjauhkannya dari sana. Namun Doni terus melawan sehingga dia terbentur dengan tembok dan pingsan.
Wahyu dan aku berdiri di samping sofa sambil memantau keadaan Doni. Aku menceritakan secara rinci kejadian tadi ke Wahyu. Wahyu tertegun, bagaimana mungkin seseorang yang hanya tersiram kopi marahnya sampai ingin membunuh?

“hmmm, aku di mana? Bukannya tadi di roof top ya?”

“eng…” perkataanku dipotong oleh Wahyu.

“tadi kamu pingsan, mungkin karena kelelahan atau apa, jadi sebaiknya sekarang kamu pulang saja dulu, besok kita lanjutkan photoshootnya.”

Doni hanya menurut, dan tanpa rasa bersalah dia pulang. Namun, sepuluh menit kemudian terdapat kabar bahwa terjadi kecelakaan di dekat studio. Aku dan  Wahyu langsung menuju ke tempat kecelakaan itu terjadi karena ada orang studio yabg melihat kalau Doni terlibat dalam kecelakaan itu.

“entah kenapa, kakak ngerasa kalau Doni punya dua kepribadian”

“maksud kakak?”

“itu tadi waktu di roof top dia hampir membunuh orang dan dia lupa kalau dia sempat melakukan tindakan itu.”

Aku hanya diam dengan berbagai pikiran aneh yang memenuhi otakku. Dan benar saja, ternyata Doni terlibat dalam kecelakaan itu, untungnya tidak ada korban jiwa dan Doni hanya mengalami luka di kepalanya. Sekilas aku melihat Wahyu tersenyum sinis.

i want to write you a storyStories to obsess over. Discover now