"Kira!"
Kira menoleh kesamping, melihat temannya mendekat.
"Ada apa?"
"Lo disuruh remdial sama Bu Ningsih. Katanya nilai lo selalu di bawah kkm."
"Yaelah, kapan katanya?"
"Sekarang, suruh ngadep dulu. Sana Kir!"
"Iya iya."
Kira kesal selalu saja dirinya remedial padahal dia sudah belajar, maksud Kira belajar nyontek dengan profesional. Apa itu masih kurang puas Bu Ningsih itu? Nilai ia sudah besar jika ia menyontek begitukan? Dan tidak menganggu Kira dan Bu Ningsih untuk melakukan remdial. Kira sudah di ruang guru, ia mencari cari dimanakah guru itu berada, ingin tau apa yang sebenarnya yang terjadi. Karna kekesalannya sudah sangat dipuncak.
Nah, itu dia. Kata Kira dalam hati.
"Ada apa ya Bu? Memanggil saya kesini?" Tanya Kira pura - pura tak tahu.
"Kamu! Remedial!"
"Kok bisa bu? Kan itu udah betul semua, yakan?" Jawab Kira dengan kepedean dia.
"Emang benar semua, tapi ini bukan hasil belajar. Tapi hasil nyontek Kira! Kamu tahukan, kalau saya tidak suka dengan murid yang menyontek?"
"Iya, jadi apa bu remedial saya?" jawab Kira acuh.
"Kamu maunya remedial apa?" tanya Bu Ningsih dengan lembut.
Yaelah bu, sok manis. Batin Kira
"Ah, saya tau bu! Beli buku aja bu gimana?"
"Nggk, terlalu mudah itu. Kamu kerjakan saja soal yang saya berikan. 50 soal cukupkan?"
"Kan ibu tadi yang bilang, seterah saya. Kok sekarang ibu yang nentuin si? Nggk bisa ini bu. Saya maunya beli buku aja." Kira memprotes karena apa yang di katakan Bu Ningsih itu labil sekali.
"Suka suka saya lah," sambil membuka laci meja kerjanya "Ini kerjakan, waktunya 1 bulan. Kalau lewat dari itu, kamu tidak dapat nilai dalam matapelajaran kimia."
"Bu! Saya nggk terima, kata ibu seterah saya mau apa remedialnya, kok malah ibu yang ngatur?" mata Kira menajam saat Bu ningsih pergi dari hadapannya.
Kira kembali kekelas dengan wajah kusutnya, gila saja disuruh ngerjain50 soal dalam 1 bulan. Mana Kira nggk mengerti cara mengerjakan soal yang diberikan oleh Bu Ningsih.
"Kir, lo kenapa? Mukanya kusut amat?" tanya Theo-- Sahabat Kira.
"Iya lo kenapa dah? Tumben amat muka lo gak di setrika." tanya Cinta--Sahabat Kira. Dan ada satu lagi sahabat Kira yaitu Arga, yang sahabatan dari orok.
"Kalian tau gak si?..."
"Nggk, kan lo belum cerita." kata Cinta polos.
"Hue, gue belom selesai ngomong Cintaku!" Cinta hanya terkekeh melihat temannya makin marah. Menurut Cinta kalau Kira sedang marah sangatlah imut. Maka dari itu Cinta suka mengusilkan Kira.
"Ya jadi lo kenapa, Kir! Lama amat jawabnya" kata Theo kesal melihat tingkah keduanya yang seperti anjing dan kucing. Anjingnya Kira, kucingnya Cinta.
"GUE DISURUH NGERJAIN SOAL MEN! 50 SOAL!" Kira berteriak untuk melegakan perasaannya.
"Demi apa lo? Di kumpul besok?" tanya Theo.
"Nggk, satu bulan lagi. Gue ini gak ngerti caranya, bantuin gue sih kerjainnya! Please."
"Sorry, bukannya gak mau bantuin nih ya. Lo tau sendiri lah Bening itu gimana, ntar yang ada kita orang juga kena Kir." Tolak Cinta dengan halus.
"Bukannya nilai lo paling gede ya di kelas, kok bisa dikasih tugas?" tanya Arga.
"Lha, lo kemana aja? Kok baru muncul?" tanya Kira ke Arga.
"Gue dari tadi di belakang, lo aja yang gak liat."
"Bantuin gue aela, ngerjain aja. Nanti gue yang nulis. Ya ya ya?"
"Suruh guru privat lo dateng kerumah, lo samperin aja sekarang. Gue temenin nih, ayo!" ajak Cinta sambil menarik tangan Kira.
Kira membrontak, Kira nggk suka sama guru privatnya, di karenakan umur mereka hanya beda satu tahun.
"Nggk mau Cin," sambil melepaskan tangan Cinta dari tangannya. "Heh, kalian ayo bantuin gue! Jangan jadi penonton aja."
Theo dan Arga bukan melepas tangan Cinta tapi ikut menarik Kira untuk bertemu sang guru.
"Woi woi lepasin, sakit! Malu woi, gila si kalian ini, tega!" Kira berhenti membrontak pasrah apa yang di lakukan oleh teman temannya karna dia tak mau jadi tontonan para anak anak sekolah.
"Udah diem aja gak usah bacot," kata Arga.
"Fi, Raffi!" Cinta berteriak dari luar.
Maap ya, gue gantung. Karna lagi shebook 😂
See you guys!
YOU ARE READING
KIRA2FI
Teen FictionPemikiran orang itu berbeda bukan? Bahkan suami dan istri mempunyai pandangan berbeda walau pun mereka memiliki rasa cinta. Orang tua dengan anaknya pun memiliki pikiran berbeda, si anak ingin merasa bebas untuk bermain di luar rumah? Sedangkan piki...
