Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Dadaku sesak melihat kemunculan Suho yang baru datang, setelah beberapa hari ini sempat rehat dari pekerjaannya sebagai Dokter ahli kejiwaan. Aku mengharapkan senyuman atau sapaan darinya, tapi melihat air muka nya yang serius, harapan itu terpaksa ku kubur dalam-dalam. Suzy mengikuti arah pandangku dan mendesah pelan.
"Harusnya kau sadar.... " desah Suzy, aku hanya diam, menyaksikan sepasang manusia berbeda gender yang berjalan dengan mesra.
Aku tersenyum kecut, apa dunia yang suram ini tidak pernah memberikanku kesempatan menemukan seberkas cahaya ? That's funny.
"Kau hanya terobsesi, "
Aku tetap membisu, membiarkan Suzy berbicara sesuka hatinya. Membiarkan perasaan sesak ini berdiam diri tanpa tahu caranya dikeluarkan.
"Apa yang akan kau lakukan padanya? Menghancurkannya? " selidiknya sarkasme.
Mengapa ini terasa sulit, aku tidak pernah menginginkan seseorang sampai seperti ini. Apakah mereka tahu hatiku menangis dan memohon dengan sia-sia?
"Kenapa kau selalu berprasangka buruk padaku? " ujarku datar, Suzy terkekeh pelan dan memandangku sengit, seakan memberiku sebuah peringatan.
Suzy meraih bahuku dan menggenggamnya erat. Aku bisa merasakan aliran darahku berdesir ketika tatapan matanya berubah menjadi sendu.
"Aku sakit melihatmu terus bertahan dengan segala ketidakmungkinan, keluarlah dari dunia yang penuh sesak itu! Kau harus bahagia "
Aku tertegun mendengar pernyataannya, Suzy benar. Tapi aku benar-benar tidak bisa melakukannya. Aku mencintainya, dia harus menjadi milikku!
Suho harus menjadi milikku!
Bagaimanapun caranya.
🏥🏥🏥
Malam ini begitu indah dan terang karena terpaan cahaya bulan purnama, bentuknya yang bulat sempurna semakin mempercantik eksistensinya di galaxy bumi ini. Angin malam memcekam menerpa kulitku kencang. Sedangkan aku tak berkutik, memandang pahatan bulan purnama itu dari kejauhan dengan sendu.
Aku kembali menatap kedua tanganku dengan perasaan yang bercampuraduk, apa yang baru saja kulakukan? Air mata yang sedari tadi tertahan membasahi permukaan pipi ku yang berkeringat.
Sementara itu, Suho menatapku dengan rahangnya yang mengeras dengan tangan yang terkepal, mata indah nya memerah dengan tatapan mengintimidasi.
"Suzy, aku tidak melakukannya....." lirihku pelan, Suzy memalingkan wajahnya sambil terisak. Apa yang harus kulakukan? Semua orang bahkan mengataiku gila.
Aku tidak gila!
Aku hanya terjebak dalam pesona Suho, aku mencintainya! Kenapa semesta selalu tidak pernah mengizinkannya?!
Aku berjalan mundur dengan perlahan, ketika Suho menghampiriku dengan amarah yang menggebu-gebu. Dia seakan membunuhku dengan tatapan tajamnya.
"Dasar manusia gila!" desis Suho tajam. Tanpa ampun ia meninju hampir seluruh tubuhku secara brutal dan kesetanan, aku terbengkalai lemas diatas lantai bernuansa putih. Memikirkan berbagai cara untuk menghindari serangan Suho.
"Kau akan menanggung akibatnya!"
Aku menelan ludahku dengan susah payah, saat Suho hampir mendorongku ke ambang jendela. Dadaku berdetak tak karuan.
"Jangan membunuhku, kumohon...." aku berlutut pada Suho, meminta ampun dari segala kesalahan fatal yang kuperbuat hari ini.
"Kau telah membunuh Irene! Kau telah membunuh seorang wanita dalam keadaan hamil. Kau benar-benar gila!"
Aku membisu, Yeah....I had become the killer.
Aku tertawa keras mengingat Irene telah tiada, tubuhnya remuk dengan darah yang berlumuran di bawah sana, karena aku mendorongnya dari lantai 13. Mari kita rayakan ini...aku telah berhasil menyingkirkan benteng antara aku dan Suho.
Apa sesakit ini mencintai pria beristri?
Aku maju beberapa langkah sehingga membuat Suho terhuyung, ide gila muncul begitu saja. Aku mencium Suho, mencium bibirnya dengan kasar tanpa peduli kini ia tengah menggeram marah.
"Sadarlah Sehun, kau seorang pria!!!" seketika wajahku terbujur kaku, Suzy berteriak tepat didepan wajahku dengan wajah memerah.
Kini, aku tidak bereaksi. Hanya mematung dan terkatup seraya menangis pedih.
Kenapa seorang pria tidak bisa mencintai pria? Kenapa dunia ini tidak adil. Dan kenapa aku tidak bisa menghilangkan kelainan itu?
"Bawa dia ke ruangannya!"
Tubuhku bergetar hebat saat beberapa orang berpakaian serba putih menghampiriku, aku berlari sebisa mungkin mengitari seluruh ruangan menghindari mereka.
Aku tidak gila!
Aku hanya ingin terbebas dari Rumah Sakit Jiwa yang telah membunuhku secara perlahan selama 3 tahun.
🏥
Cerita dramatis ini terinpirasi dari Sehun-Suho couple.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.