Patah hati itu salah satu proses kehidupan yang pasti akan dialami oleh semua makhluk hidup, terutama manusia. Aku tidak tahu seperti apakah bentuk patah hati binatang mau pun tumbuhan, tapi aku yakin mereka pernah mengalami.
Patah hati juga merupakan salah satu proses pendewasaan. Setelah patah, hati kita akan belajar untuk menjadi lebih kuat. Ibarat sebelumnya patah hanya dengan satu kali pukul, besok dia akan patah jika dengan dua kali pukul.
"Kamu berapa kali patah hati?" Sebuah tanya mengawali perbincangan kami sore itu. Sambil ditemani oleh dua cangkir cappuccino dan dua buah cheesecake.
"Kalau kamu berapa kali?" Aku bertanya balik padanya, melihat lekat ke kedua matanya yang berwarna coklat.
"Aku kan yang nanya duluan, harusnya kamu yang jawab duluan."
"Banyak."
"Yang paling sakit?"
"Satu."
Ketika kita tengah membicarakan sesuatu dari masa lalu, mau tak mau memory kita akan menampilkan kenangan yang mungkin sebenarnya ingin kita kubur dalam-dalam. Memory itu berputar-putar di dalam kepala, persis seperti pemutaran film di bioskop. Bedanya adalah kita tidak bisa pergi meninggalkan tempat duduk kita, dan terjebak di dalamnya sampai film selesai diputar.
"Kenapa cuma satu? Yang lainnya nggak ada artinya buat kamu?"
"Semuanya berarti, tapi selalu akan ada satu nama yang terukir dalam di hati kamu. Dan biasanya orang inilah yang paling bisa membuat luka mendalam."
"Dan itu patah hati yang mana?"
"Ehm... Ya ada lah. Kalau kamu?"
"Sama mantan aku yang terakhir."
"Kenapa memang?"
"Gimana ya, sama dia itu aku ngerasa pas aja. Nggak kurang dan nggak lebih juga. Tapi ternyata itu bagiku aja, bagi dia enggak."
"Dan akhirnya dia selingkuh?"
"Iya."
Salah satu sifat dasar manusia adalah selalu ingin lebih. Ketika apa yang dimilikinya kurang, dia akan mencari cara agar bisa menambahnya. Dan hal itu juga berlaku dalam kisah cinta, yang biasanya berakhir dengan sebuah perselingkuhan.
"Tapi lucu ya, mau patah kayak gimana pun, hati kita nggak berhenti mencari seseorang buat mengisinya." Katanya kemudian, sambil memakan potongan besar cheesecake miliknya.
"Karena cinta, tanpa kita sadari, sebenarnya menjadi kebutuhan utama kita."
"Jadi kayak sandang, pangan, papan ya?"
"Iya, kalau itu kan lebih ke fisik, kalau cinta lebih ke batin. Tapi cinta kan nggak harus selalu dengan lawan jenis. Ada cinta dalam keluarga, sahabat dan hal lain, misal karya seni."
"Kayak kamu ya?"
"Apanya?"
"Jadi penyanyi, karena cinta kamu akan karya seni?"
"Bisa jadi. Tapi lagu yang ku buat itu cuma jadi media atas cinta yang sesungguhnya. Cinta dengan manusia lain yang mungkin nggak bisa diungkapkan secara langsung."
Dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian tangannya yang ramping dengan jari-jari yang kurus itu mengambil garpu kecil di piringnya dan mencomot potongan cheesecake terakhirnya untuk dimakan.
"Jadi, kenapa kita di sini? Ada sesuatu yang mau kamu bicarakan?" Katanya, masih dengan cheesecake dalam mulutnya.
"Iya, ada."
"Eh, sebentar. Sebelum kamu ngomong, aku mau kasih surprise."
Dia mengeluarkan sebuah benda tipis yang dibungkus plastik bening dari dalam tasnya. Benda itu berwarna coklat muda. Dengan senyum lebar, dia memberikan benda itu kepadaku.
"Datang ya!" Katanya.
Tanpa ku buka plastik yang membungkus benda itu, aku bisa melihat jelas dua nama yang tertulis di atasnya. Namanya dan calon suaminya. Dia akan menikah, dengan lelaki yang dia ceritakan kepadaku dalam beberapa bulan terakhir ini.
"Kaget ya? Aku memang sengaja diam karena mau kasih surprise ke kamu." Katanya lagi. "Mungkin terlalu cepat, tapi aku yakin dia bisa menjadi pendamping hidupku dan ayah yang baik untuk anak-anakku kelak." Dia berkata sambil menerawang, seakan sedang membayangkan masa depannya dengan pria itu.
"Eh, kamu mau ngomong apa?"
Aku mengeluarkan sebuah tiket dari dalam saku jaketku dan memberikannya kepadanya. Dia mengerutkan kening saat menerimanya. Tapi seketika ekspresi di wajahnya berubah begitu membaca apa yang tertera di tiket itu. Matanya berbinar dan memandangku penuh dengan rasa bangga.
"Konser kamu sendiri? Dalam rangka launching album?"
"Iya, datang ya, kan tiketnya VVIP."
"Pasti dong! Selamat ya! Kamu dari awal bikin lagu sampai album kelar nggak pernah kasih aku dengar ih."
"Besok kamu akan dengar semuanya." Aku tersenyum memandangnya.
Ya, besok dia akan mendengar semuanya. Termasuk lagu yang ku ciptakan khusus untuknya, lagu dengan namanya sebagai judul. Lagu yang menjadi media cintaku untuknya selama belasan tahun kami bersahabat. Lagu yang akan menjadi jawaban atas pertanyaannya, pertanyaan tentang patah hati paling menyakitkan yang pernah aku rasakan.
YOU ARE READING
Dari Hati
RomanceKumpulan cerita pendek tentang hati. Baik yang patah. Mau pun yang tumbuh.
