Matahari sore di langit Seoul menerpa wajah Naura. Dia duduk manis di ayunan pelataran rumahnya yang besar. Sedari tadi dia menunggu pujan hatinya yang akan datang menemuinya sore ini. Naura tersenyum ketika mengingat nama dan wajah itu. Betapa wajah itu dia rindukan sekarang. Namun, mengapa Rendra belum datang juga?
Naura mulai merasakan semilir angin sore membelai wajahnya. Dia pun memainkan ayunannya dengan riang. Saat ini dia memang tak bisa melihat apa-apa di sekelilingnya. Dia hanya bisa merasakan semuanya melalui indra pendengarannya. Ya tapi ia yakin kalau Rendra memang belum hadir ke rumahnya. Naura mulai mendesah putus asa. Bagaimana kalau Rendra tak datang sore ini. Namun, langkah seseorang yang perlahan mendekat mulai menepis keraguannya. Dia yakin sekali kalau orang yang melangkah ke arahnya adalah Rendra, orang yang dia sayangi.
"Naura," Panggilnya lembut. Tanpa berkata, Naura beranjak dari ayunan. Setelah berada dihadapannya, Naura segera meraba wajah halus itu. Membiarkannya menebak-nebak bahwa benar dia tak salah orang.
"Katanya ada yang mau kau bicarakan, bicara saja," tukas Naura yang ingin tahu maksud kedatangan Ray sore ini. Rendra menelan ludah susah payah. Dia menarik napas dengan amat berat. Dia yakin, apa yang akan ia katakan nanti akan membuat perasaan gadis di depannya terluka. Sungguh, Rendra tak ingin melalukannya. Namun, bagaimanapun juga semua ini harus terjadi.
"Ren... " Naura berseru, menyadarkan Rendra dari lamunannya.
"Tiga hari lagi aku pulang ke Indonesia Na, dan mungkin untuk selamanya. Tak akan kembali lagi ke Korea," Ujar Rendra mantap dan suaranya berusaha ia buat tegar.
"Aku...aku tidak salah dengar kan?" Naura mulai shock. Seperti ada palu godam yang menghantam kepalanya. Apakah yang dia dengar dari mulut Rendra adalah sebuah pembenaran? Itu berarti... Rendra akan pergi dari sisinya.
"Benar Naura. Ini tak salah. Beberapa hari yang lalu ayahku bilang bahwa pekerjaannya di Korea sudah selesai. Nenekku yang tinggal di Jakarta juga sering sakit-sakitan dan memerlukan anak bungsunya.
"Kami akan pulang ke Indonesia Na, surat-surat kepindahan sekolahku telah diurus oleh ayahku beberapa hari yang lalu." Rendra kembali bertutur dengan lemah. Rendra berusaha tidak bersedih di hadapan Naura. Dia baru saja menyadari bahwa Naura terluka akan hal ini.
"Ren, aku tak menginginkan hal ini," kata Naura lemas. Hatinya hancur. Baru saja dia mendapatkan secercah kebahagiaan lantaran hadirnya Rendra yang dulu sempat ia benci. Tapi, sekarang harus berakhir.
"Aku juga tak menginginkan hal ini Na, sama sekali tidak!"balas Rendra menatap bola mata gadis di hadapannya.
"Ray, aku tak sanggup kehilanganmu, karena..." Naura berkata pelan dan terbata-bata. Rasanya dia sudah tak sanggup berucap. Beberapa kata yang tadi dia ucap malah terbenam karena tangisannya sudah keluar.
"Aku juga Na," timpal Rendra. Dia pun memeluk Naura, lalu mengusap pelan rambut panjang gadis itu. Naura merasakan keteduhan ketika berada dalam pelukan Rendra seperti ini. Namun sesaat, dia pun tersadar. Dia takkan mungkin bisa memeluk Rendra kembali setelah perpisahan mereka nanti.
"Ren, saranghae... " ucap Naura lemah di pelukan Rendra, dengan untaian air mata yang tak terbendung lagi.
Rendra tak bisa berkata-kata. Hatinya merasakan keperihan yang luar biasa. Dia hanya dapat mengusap punggung Naura. Dia membiarkan gadis itu rebah dan menangis di pelukannya.
🌸🌸🌸
Assalamualaikum. Beri komen dan vote pada cerita ini ya 😊 terima kasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Hidup untuk Naura
Fiksi RemajaNaura, gadis anak orang kaya yang sombong dan angkuh. Tapi emang cantik banget sih. Nggak sulit baginya untuk punya gebetan yang dimauinya. Yudha adalah cowok incarannya dan benar-benar berhasil dipacarinya dengan mudah. Meski ada Rendra, cowok asli...
