Awal

26.7K 836 6
                                        

"Ada yang dikira indah, padahal setiap yang indah tidak pernah datang dengan mudah. Sejujurnya, kebaruan ini terlalu tiba-tiba. Setidaknya, untuk saya, Pak."

***

"Kamu belum punya pacar, kan?"

Gadis itu hanya diam. Namun, dalam bungkamnya, ia membatin kesal. Pacar? Dengan penampilan seperti ini? Wah, betapa lucunya dunia sekarang! Ingin sekali ia melengkingkan tawa, tetapi tentu itu hanya akan membuatnya disangka gila.

Pertanyaan barusan memang terdengar ironis dan cukup memuakkan. Orang-orang bumi, kebanyakan hanya paham menggeneralisasi dan membiakkan asumsi, tidak pernah benar-benar ambil peduli.

"Kamu mau menikah dengan saya, ... Nadira?"

Nadi-sapaan gadis dengan nama lengkap Nadira Aiza Nuha itu-terkesiap hebat. Jika ia menambah kecepatan gerak kepalanya sekian detik saja, bisa dipastikan tulang lehernya yang kaku diajak menunduk sedari tadi akan sakit seharian. Kemungkinan terburuk, kepalanya tidak lagi bisa kembali ke posisi semula. Baiklah, itu hanyalah racauan tidak jelas Nadi demi mengusir pusing yang mendadak merembesi kepala.

"Maaf, Pak? ... tiba-tiba?"

Selama tiga puluh detik, ia menatap lelaki di depannya dengan kerut di pertengahan alisnya. Merasa terlalu lancang dan hampir saja hanyut dalam obsidian milik lelaki itu, ia lantas menunduk kembali.

"Saya rasa, saya perlu memeriksa telinga saya yang sudah salah menangkap ucapan Bapak. Bagaimana bisa saya ... saya mendengar kata menikah, barusan?"

Gadis itu tertawa hambar. Telunjuk kanannya menggaruk pelipis salah tingkah. "Maaf, Pak, saya sudah lancang."

Nadi sontak menghentikan gerakan tangannya ketika embusan napas berat mampir di telinganya. Kamu tidak salah dengar. Diam-diam, ia melirik lelaki itu dari sudut-sudut matanya. "Saya serius mengajak kamu menikah."

"Tapi, kenapa?" Nadi tidak tahan untuk tidak protes. "Maksud Bapak ... apa, memanggil saya kemari dan mengatakan hal aneh seperti ini?"

Kini, gantian lelaki itu yang tertawa sinis. "Jadi, menurut kamu, mengajak menikah itu hal yang aneh, ya?"

"O, tidak, Pak! Bukan seperti itu! Sa-saya ..."

Gadis itu melarikan pandangan bingung. Sungguh, seharusnya ia sudah pulang ke rumah saat ini. Semestinya, ia sudah tenggelam dalam selimut paling nyaman sebelum sore datang. Kepalanya sudah cukup penuh oleh kekhawatiran perihal hasil UAS tadi. Alih-alih bisa istirahat dengan tenang, ia malah dihadapkan pada pertanyaan yang jauh lebih sulit daripada ujian Statistika beberapa menit lalu.

Nadi mengembuskan napas pelan. Ia mengeratkan pilinan kedua tangannya, mengatur posisi tubuh agar lebih tenang.

"Maaf, Pak, jika perkataan saya menyinggung perasaan Bapak. Saya hanya bingung, bagaimana bisa Bapak mengatakan hal seperti ini ke mahasiswi Bapak sendiri? Maksud saya, tidakkah ini kurang pantas menurut kode etik kampus?"

"Bahkan, memilih jodoh sekalipun bisa dianggap melanggar kode etik, ya?" balas lelaki itu tenang. Nada bicaranya memang teramat santai, tetapi kalimat barusan sudah cukup kuat untuk membuat seorang Nadi terintimidasi. Namun, ia tidak akan membiarkan dosennya itu menang dalam membuatnya kebingungan.

"Excuse me, Sir? Tidakkah Bapak hanya berputar-putar sedari tadi? Pak, saya hanya bertanya maksud Bapak melakukan hal ini." Nadi berusaha keras untuk menahan geram dalam nada suaranya. Sungguh, tubuhnya sudah sangat lelah untuk menghadapi ketidakjelasan dosennya ini.

Separuh LingkaranWhere stories live. Discover now