Chapter 1. Halte

144 16 0
                                        


Bagaimana kau bisa membuat jantungku berdebar dengan senyum tipis yang kau sematkan di wajah yang menahan rasa sakit itu?
-Park Yeol-

Pukul 23.15 KST, jarum jam sudah menunjukkan untuk Yeri bergegas meninggalkan ruang on air program good musics di Seoul Radio. Yeri menundukkan badannya tanda ia berpamitan dengan beberapa rekan kerjanya di ruang siaran.

Hari yang melelahkan dan cukup panjang bagi Yeri di setiap akhir pekan. Dari pagi hari pukul 10.00 KST sampai 23.00 KST Yeri melakukan berbagai siaran program musik dan remaja. Sengaja ia padatkan siaran di akhir pekan, tugas akhir di tahun terakhirnya di Fakultas Kedokteran di Sook Myung Woman University telah menyita banyak waktunya.

Bip.. bip..

Yeri keluar setelah menempelkan kartu anggotanya pada mesin yang berjajar di lobi kantor. 50 meter ia berjalan menuju halte Haengdang menunggu bus menuju Sangil dong di ujung Seoul, tempat pemberhentian terakir halte Korea. Beruntung, bus line 5 ini tidak memerlukan halte transit.

Triing...

'eodiya?' pesan singat dari Park Yeol.

'Buseu Halte' balasnya.

'Sebentar lagi aku selesei. Jangan tinggalkan aku'

'Neeeee'

Yeri menunggu Park Yeol sembari menonton video 'bedah perut' di halte bus. Hampir setiap akhir pekan mereka, ah tidak, Park Yeol meminta Yeri untuk menunggunya di Halte dan pulang bersama karena kebetulan rumah mereka tetanggaan.

"Aku tak bisa membiarkan adik kecilku berjalan sendirian di akhir pekan" ledeknya jika Yeri mulai uring-uringan menunggu Park Yeol yang suka sekali mengulur waktu pulangnya sampai pada bus terakhir.

Zrassss.......

Tiba-tiba hujan datang di langit Seoul di musim panas seperti biasa. Orang-orang yang berjalan di jalan khusus pejalan kaki berebut mencari tempat berteduh. Tak sampai satu menit, halte sudah penuh sesak dengan manusia-manusia bermata sipit.

Yeri menambah volume handphonenya di headset yang ia kenakan. Ia tak suka obrolan-obrolan tak penting dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Matanya masih terfokus pada layar handphone yang menampilkan video 'bedah' yang harus ia pahami untuk tugas akhirnya.

Park Yeol berlari ketika hujan yang tiba-tiba itu datang. Ekor matanya mencari sesosok Yeri. Lalu dia tersenyum dan berniat untuk mengagetkan Yeri yang asik memacari handphonenya.

Aaaww!

Suara seseorang sontak membuat Park Yeol mengurungkan niatnya, sebab ada sesuatu di pergelangan tangannya. Park Yeol berhenti, kemudian membalikkan badan. Benar saja, kancing jaketnya tersangkut dengan kancing jaket seseorang.

"Oh, Maaf" Park Yeol meminta maaf dan berusaha melepaskan kancing jaketnya yang tersangkut.

"Anda tak apa-apa?" tanya Park Yeol pada gadis yang masih meringis kesakitan.

"Emm.. tak apa-apa" jawab gadis itu yang masih menunduk meniup-niupkan lengannya yang tergores,

"Tangan anda terluka. Biarkan saya..." Suara Park Yeol terputus ketika gadis itu menatap Park Yeol seraya tersenyum.

Sepuluh menit telah berlalu, hujan yang tiba-tiba itu lama-lama menghillang dari langit Seoul yang membuat orang-orang yang berteduh di Halte semakin hilang dari pandangan.

Park Yeol masih menemani gadis yang tak bernama itu, masih merasa bersalah karena goresan kancing di lengan gadis itu, namun gadis itu masih tetap menolak untuk menerima bantuan dari Park Yeol, hingga akhirnya ia berpamitan pergi ketika bus datang.

Gadis dengan rambut terurai itu menundukkan kepala lalu berlari ke anak tangga bus. Tanpa pikir panjang Park Yeol mengikutinya di belakang.

"Sillyehabnida, kau juga di bus yang sama?" tanya gadis itu ketika Park Yeol dengan tanpa rasa bersalah duduk di belakang gadis itu yang membuat ia merasa tak nyaman.

"Emm. Tentu saja, bukankah hanya ada satu jalur bus di halte Haengdang?" Ucap Park Yeol meyakinkan agar gadis itu percaya Park Yeol tidak menguntitnya.

"Ah.. benar sekali" Gadis itu menjawab dengan rasa malu seraya menyimpan geraian rambutnya di belakang telinga.

Bus itu berhenti di halte selanjutnya, menampakkan pria tua yang sedang tertatih menaiki bus. Park Yeol dengan sigap berdiri dan mempersilahkan pria tua itu duduk di bangkunya. Park Yeol berdiri dan meraih tali pegangan tepat di samping gadis itu duduk.

"Semua bangku penuh dan pegangan yang paling dekat dengan bangku ku hanya di sini" Ucap Park Yeol dengan tatapan ke arah luar jendela bus.

Park Yeol mencuri kesempatan melalui jendela bus untuk melihat senyum gadis itu lagi, tapi sia-sia, gadis itu tak sedikitpun menarik bibirnya ke atas membentuk senyum tipis. Lalu tiba-tiba gadis menatap Park Yeol.

"Duduklah" ucap gadis itu dengan tenang.

"Duduklah disini" lanjutnya dengan tatapannya yang membuat Park Yeol keheran-heranan.

Setelah ada pemberitahuan pemberhentian, gadis itu berdiri.

"Kau turun disini?" tanya Park Yeol

"Emm.."

"Tapi apa aku boleh tau siapa namamu?" tanya park yeol dibalas dengan tatapan dari mata sipitnya.

Kemudian berjalan melewati Park Yeol tanpa menghiraukannya lagi.

Park Yeol menepuk jidatnya, bagaimana mungkin seorang gadis memberitahu identitasnya pada seseorang yang belum ia kenal.

Park Yeol menghempaskan dirinya di bangku tadi, dan menatap keluar jendela dengan rasa penasaran pada gadis itu yang berdiri di halte transit.

Aneh, rasanya Park Yeol pernah melihat dia, si gadis bersenyum malaikat itu entah dimana, rasanya taka sing dan tatapannya begitu hangat juga senyumnya, like the angel girl.

Pakkkk!!!

"YERI!!!" teriak Park Yeol menepuk jidatnya. Yeri tertinggal di Haengdang Halte.

MY WORLD is UCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang