Prolog

672 49 35
                                        

Aaaaaa!

Gadis itu menjauh dan meringkuk di sudut ruangan beralas tatami sambil sesenggukan. Ada rasa sakit yang menyengat dari tempat yang disentuh seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya dan menyerangnya.

Bukan! Orang itu bahkan tidak menyentuhnya. Tidak bisa menyentuhnya tepatnya. Tapi, kenapa gadis itu kesakitan?

Orang itu berjalan mendekat ke arahnya sambil menyeret kakinya dengan malas. Wajahnya menyeringai dan dia melempar seorang pria bertubuh gempal ke samping gadis yang gemetar ketakutan itu dengan mudahnya. "Siapa namamu? Naomi?"

Dari mana dia tau namaku?

Orang yang ternyata berjenis kelamin laki-laki itu membuka hood yang menutupi kepalanya sambil mengeluarkan suara yang seperti mendesis. "Kita bertemu dua hari yang lalu bukan?"

Gadis bernama Naomi itu menyipitkan mata dan mengamati laki-laki yang berdiri di depannya dengan tatapan tajam menusuk. Berusaha mengingat wajah yang rasanya tak asing itu juga aksennya yang bukan seperti orang Tokyo.

"Hei, jangan bilang kau sudah lupa? Lalu, apa yang membuatmu masih ada di dunia ini?"

Dendam!

"Ya! Dendam! Kau ingin balas dendam pada orang yang membunuhmu kan? Itu aku! Aku yang membunuhmu! Kau tidak ingat, bagaimana aku bermain sebelum kau bisa menjadi seperti ini?" Ada nada bangga dalam suaranya yang parau. Garis wajahnya yang tegas dan pembawaannya yang sedikit berwibawa tidak membuatnya terlihat sebagai orang jahat.

"Jangan main-main! Cepat habisi pria itu!" Sahut sebuah suara tidak sabaran.

Laki-laki itu menatap Naomi dengan matanya yang berwarna merah menyala. Senyum jahat tersungging di bibirnya.

Naomi menekap mulutnya tidak percaya. Dia ingat mata itu! Dia ingat suara itu! Naomi ingin sekali menangis, tapi air matanya tidak bisa keluar. Bagaimana dia bisa melupakannya?

"Apa aku perlu menunjukkannya lagi padamu supaya kau ingat?" Laki-laki itu menarik pria bertubuh gempal yang dilemparkannya tadi dengan satu sentakkan dahsyat. Pisau ditangannya sudah berlumuran darah. Entah darah siapa.

Jangan sakiti Otousan! Naomi bersujud di kaki laki-laki itu. Berusaha menyentuhnya.

Laki-laki dengan hood itu hanya menggerakkan kakinya sedikit dan Naomi sudah terpental ke belakang. Perutnya terasa sakit seperti habis ditendang. Padahal laki-laki itu sama sekali tidak menyentuhnya.

"Kau tau? Aku paling benci berurusan dengan arwah gentayangan!" Kemudian laki-laki itu menendang wajah pria bertubuh gempal tadi yang ternyata Ayah Naomi.

Naomi mendekati mereka dan melihat wajah Ayahnya sudah dialiri darah segar. Mata Ayahnya setengah terbuka dan Naomi yakin Ayahnya masih tersadar. Naomi mendongak dan melihat seringai di wajah laki-laki itu makin lebar. Dasar biadab! Dia bukan manusia!

"Apa yang kau lakukan! Cepat habisi pria itu!"

"Berisik!" Laki-laki itu menancapkan pisau yang dipegangnya ke bahu Ayah Naomi membuat gadis itu menjerit ketakutan dengan mata terbalalak dan menatap Ayahnya nanar.

Jangan! Tolong, jangan sakiti Otousan!

"Hei, bagaimana kalau kita hentikan saja? Mungkin Venus sudah tidak ada di Tokyo lagi." Sahut sebuah suara namun segera dibantah suara yang lain.

"Tidak! Dia masih disini!"

"Kubilang, berisik!" Teriak laki-laki itu lagi sambil menarik pisaunya dengan kasar. Darah segera muncrat ke jaketnya.

Tidak! Tolong jangan!

Naomi mengangkat wajahnya yang ketakutan dan memohon agar laki-laki itu tidak menyakiti Ayahnya.

Laki-laki itu duduk di samping Ayah Naomi dan membalas tatapan Naomi yang ada di hadapannya dengan mata merah yang menyalang di ruangan yang gelap itu. Lalu dia menusukkan pisaunya lagi ke tubuh Ayah Naomi. Kali ini dia mengincar bagian dada.

Naomi mengalihkan pandangannya sambil menjerit. Dadanya terasa sakit dan dia kesulitan bernafas. Bernafas?

"Tenang saja, aku tidak menusuk Ayahmu di bagian vital. Hal yang paling ku benci adalah membunuh sebelum puas bermain. Lihat! Ini tertusuk beberapa mili dari jantungnya."

Naomi menjerit frustasi meskipun suaranya tidak benar-benar keluar dari mulutnya. Dia tidak bisa melakukan apapun. Bahkan menangis saja dia tidak bisa.

"Aku tidak suka mengulangi kata-kataku! Kau masih ingat kan apa yang harus kau lakukan?"

Naomi harus pergi tapi dia tidak bisa meninggalkan Ayahnya. Entah apa yang akan dilakukan laki-laki itu pada Ayahnya jika dia pergi. Tapi, semuanya juga tidak akan berbeda jika dia bersikeras untuk tetap tinggal. Dasar bajingan! Naomi menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.

Laki-laki itu bersiul kemudian mengerlingkan matanya. "Aku suka tatapan itu! Seharusnya sebelum kau mati, kau berikan tatapan itu, supaya aku lebih puas bermain denganmu."

Naomi menggeram tanpa mengalihkan pandangan dari mata laki-laki itu dan dengan putus asa, Naomi menganggukkan kepalanya. Apa lagi yang bisa dilakukannya? Naomi bahkan sama sekali tidak bisa menyentuhnya sementara laki-laki itu dengan mudahnya melakukan apapun yang dia mau terhadapnya.

Laki-laki itu diam saja ketika Naomi berlalu dari hadapannya. Wajahnya tanpa ekspresi.

"Oh, tidak!" Sebuah suara tiba-tiba memekik dengan suara melengking. "Apa dia sudah mati? Apa kita yang melakukannya?"

"Berhenti menangis dan lakukan saja!" Sahut sebuah suara yang lain dengan nada sinis.

"Apa aku aku boleh bermain dulu sebelum membunuhnya? Lihat iris matanya yang berwarna kelabu! Dia orang Perancis?" Laki-laki itu merobek kelopak mata pria gempal yang setengah sadar itu dan mencongkel bola matanya keluar. "Wah, sekarang berwarna merah sepertiku!"

"Dasar, idiot!" Celetuk sebuah suara.

"Kurang ajar!" Laki-laki itu kemudian menyayat dada Ayah Naomi dengan bentuk garis lurus. Ia menarik pisaunya dari leher sampai perut dan merobek dagingnya. Seketika darah menciprati wajahnya dan mengalir membuat genangan di bawahnya. Ia menarik keluar semua isi perutnya sebelum melempar pisaunya kesal sambil bergumam, "tidak seru!"

"Kenapa kau turunkan gelombang otaknya kalau tidak menarik?" Balas suara lain terdengar kesal.

"Supaya tidak berisik! Seharusnya tadi kurobek saja pita suaranya. Bermain tanpa reaksi apapun seperi ini tidak ada bedanya dengan boneka. Tidak menarik!" Laki-laki itu mengambil bambu runcing yang tertinggal di depan rumah kemudian menusukkannya ke leher sampai menembus bagian belakang tubuh Ayah Naomi yang sudah tidak bernyawa lagi. Darah segar mengalir deras dari lubangnya.

Laki-laki itu tertawa puas memandangi hasil karya yang menurutnya menakjubkan.

"Kita harus menemukan Venus sebelum ritual berakhir!"

Laki-laki itu menghentikan tawanya sambil berkernyit heran. "Jadi, kenapa aku tidak boleh membunuh si cewek Pandora? Dia benar-benar gadis yang mena-"

"Awas saja kalau kau berani menyentuhnya!" Tukas sebuah suara dengan nada tinggi yang menakutkan.

"Sialan!" Sahutnya sambil membanting tubuh Ayah Naomi ke belakang. Kemudian dia keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi.

_____________________

Maaf!! Cerita indigo yang sebelumnya author unpub dan author remake. Nggak banyak yang berubah sih, juga urutan chapternya diganti. Sekali lagi, author minta maaf 🙇

Semoga feelnya tetap dapet di cerita remake ini 🙏

IndigoStories to obsess over. Discover now