Pagi ini, SMA Galaksi Angkara sedang mengadakan MOS untuk murid baru tahun ajaran 2018. Para anggota OSIS sibuk menyiapkan perlengkapan untuk acara MOS. Dimulai dari panggung acara, lapangan yang akan digunakan untuk pentas seni, band yang mengisi acara, serta keperluan yang lain.
Jam sudah menunjukkan pukul 06.30, yang berarti 30 menit lagi acara MOS akan dimulai. Namun, Fey masih mondar-mandir di dalam kamarnya sambil membawa keperluan MOS.
"Aduh.. apa lagi yang harus dibawa, ya?" Fey mengetuk-ngetuk dagunya berfikir sambil mengecek ulang catatannya.
Terdengar teriakan dari kakaknya yang berasal dari bawah, menuntut Fey untuk segera turun karena jam sudah menunjukkan hampir pukul tujuh.
"Woi!! Cepetan ini udah jam berapa?!!" karena kesal Fey tak menyahut, akhirnya Ares menyusul ke kamarnya.
"Bawel banget, sih! Tunggu aja dimobil, bentar lagi gue nyusul." ujar Fey sama sekali tak menoleh.
"Penting amat sih lo ngurusin MOS, Ketua OSIS bukan, Pengurus MOS bukan, apa lagi anggota OSIS" Ares merebut catatan keperluan MOS yang dipegang Fey.
"Balikin!!!" Fey berusaha mengambil catatannya tersebut namun nihil.
Ares pun menyerah dan mengembalikan catatan Fey. "Nih, gue tunggu lo sepuluh menit, kalo nggak turun juga, lo berangkat sendiri." ujar Ares lalu melenggang pergi keluar dari kamar Fey.
"IYA BAWEL!!!"
Fey langsung bersiap-siap mengenakan jas almamater berwarna putih kebanggaannya. Rambutnya yang berwarna coklat terang ia gulung setengah dan membiarkan sisanya tergerai. Memoleskan sedikit bedak dan lipgloss serta memakai jam ditangan kirinya. Tak lupa ia memakai parfurm beraroma manis sebagai cirinya yang khas. Ia pun turun dengan membawa peralatannya. Perfect!
"Pagi, Pa!" sapa Fey sambil mengecup pipi Jeremy.
"Pagi sayang, kamu mau sarapan dulu?" Jeremy menawarkan setangkup roti tawar dengan selai coklat kesukaan Fey.
"Aku mau langsung berangkat aja, Pa, keburu ditinggal sama kak Ares" Fey langsung mengambil bekalnya dan dimasukkan ke dalam tas.
"Ya udah, hati-hati dijalan." Jeremy mengecup kening Fey.
"Dah, Papa!" Fey melambaikan tangan dan melesat pergi ke sekolah.
~~~~~
Sesampainya di sekolah, Fey sudah melihat ratusan peserta MOS sedang upacara. Perhatian mulai tertuju pada Fey yang sedang melintas. Cantik, pintar, namun sayang, ia galak. Banyak yang menyukai Fey karena populer. Tak hanya itu, ia adalah cucu dari kakek buyutnya yang merupakan pemilik dari yayasan SMA Galaksi Angkara ini. Namun ada juga yang tidak menyukai Fey karena sifatnya.
Fey juga baik. Diam-siam ia sering membantu murid yang kurang mampu membayar uang sekolah. Tapi Fey tidak mudah untuk dimanfaatkan. Ia tahu bagaimana seseorang yang mendekatinya hanya untuk digratiskan uang sekolah. Ironis.
Fey terus berjalan tanpa memperdulikan tatapan yang diberikan oleh peserta MOS. Sesampainya di ruang OSIS, ia langsung mengambil tempat duduk dan beristirahat sejenak sambil menutup mata.
"Tumben lo telat, bahan-bahan yang gue minta udah lo siapin semuanya?" Indra mengecek keperluan yang dibawa Fey dengan kantong besar. Fey tetap diam tak bergeming.
"Kok banyak yang kurang, sih?" Fey membuka matanya dan menatap Indra, ketua OSIS.
"Yang gue beli emang adanya segitu, Ndra, lo nyuruh gue seenak lo, sementara gue juga bukan bagian apa-apa dari OSIS,"
YOU ARE READING
Inverted
FanfictionBagaimana rasanya jika kalian punya pacar galak? judes? atau cuek? Rasanya bakalan makan hati tiap hari. Vino, si cowok belasteran Spanyol-Indonesia yang tampan berhasil merebut hati Fey, si cewek yang terkenal kegalakannya di sekolah. Siapa yang t...
