Prolog

117 13 5
                                        

Tiga tahun yang lalu...

"Kuning lagi?" Tanya laki-laki bermata sipit kepada perempuan yang baru saja masuk bangku SMP tersebut.

"Iya, memangnya kenapa?" Jawab perempuan berambut sebahu itu.

"Apa kamu tidak punya baju selain warna kuning Ara?"

"Kau juga sama."
"Apanya yang sama Ra?"
"Kau juga selalu pakai baju warna hitam. Apakah kamu tidak punya baju selain warna hitam Arkie?"
Balas Tamara, atau yang lebih sering dipanggil 'Ara' oleh Arkie.

"Aku suka warna itu Ra."
"Kalau begitu juga sama, jadi jangan tanya kenapa aku menyukai kuning. Karena aku memang suka warna itu."
"Kau pandai sekali membalikkan pertanyaan dan jawaban Ra." Ucap Arkie mengacak gemas rambut Tamara. Tamara hanya tersenyum. Gadis itu memang identik dengan 'senyuman'. Jadi pantas jika dia menyukai warna kuning. Warna kegembiraan.

"Kenapa kamu suka sekali membuat rambutku jadi berantakan Arkie?" Ucap Tamara sambil merapihkan rambutnya kembali.

"Karena itu adalah sesuatu yang aku sukai darimu."
"Apa yang membuatmu menyukai rambutku?"
"Warnanya."
"Hitam?" Tebak Tamara. Arkie mengangguk.

"Apa hanya rambutku saja yang membuatmu suka?" Tanya Tamara lagi.

"Tidak juga."
"Lalu?"
"Hatimu Ara, hatimu yang selalu cerah, secerah matahari. Karena dari situlah aku selalu melihat lengkungan dikedua sudut bibirmu." Jelas Arkie.

"Apa hanya senyum dan rambutku saja? Apa hanya dua itu?"
"Bukan dari jumlahnya Ra, tapi dari besar dampaknya untuk Arkie Hastin."

Jawab Arkie dengan tangan yang menunjuk dadanya. Tamara mencoba biasa-biasa saja kerena Arkie memang selalu mengucapkan kata-kata yang membuatnya lupa bahwa dia cuma gadis sederhana. Bersama Arkie, dia merasa menjadi wanita yang sempurna.

"Apakah kamu tidak mau tahu kenapa aku menyukai warna hitam Ara?" Tanya Arkie tiba-tiba yang langsung membuat Tamara menoleh dan penasaran.

"Memangnya ada apa dengan warna hitam?"
"Kalau kamu bisa memilih untuk menjadi apa saja. Kamu mau jadi apa?" Tanya Arkie lagi.

"Emm... Mungkin matahari."

"Kamu sayang aku gak Ra?"
"Kan Ara memang sayang sama Arkie."
"Itulah kenapa aku menyukai warna hitam." Ucap Arkie yang membuat Tamara tambah bingung.

"Aku tidak paham Arkie."
"Kan Ara menyukai warna kuning, Ara suka matahari kan? Ara suka dengan cahaya. Jadi Arkie menyukai hitam saja. Karena cahaya diciptakan untuk kegelapan bukan? Aku mau Ara diciptakan untuk Arkie." Jelas Arkie yang lagi-lagi membuat Tamara mematung.

"Kalau sudah terang kan tidak mungkin mendapat cahaya." Ucap Arkie lagi.

"Iya-iya. Aku paham kok Arkie." Jawab Tamara sambil mencoba menyembunyikan senyumnya.

"Jadi kamu sudah menyayangiku Ara?"
"Sudah. Tanpa kamu minta pun aku sudah memberikan cahayaku untukmu."

"Aku tau, jika Daisy diciptakan untuk Arkie." Ucap Arkie.

"Maksudmu?"
"Loh, kamu tidak tahu arti nama kamu?"

Tamara menggeleng.

"Tamara Daisy. Daisy itu matahari."
"Oh," Jawab Tamara singkat.

"Kamu mau tau kenapa aku memanggilmu 'Ara' saja?"

Tamara menggeleng lagi.

"Karena Tamara itu tidak pantas jika nama belakangnya Daisy."
"Loh, kenapa?"
" 'Tam' itu tidak pantas untuk Ara
yang menyukai cahaya. 'Hitam' dari situlah."

"Kamu ini terlalu berlebihan Arkie." Ucap Tamara.
"Oh, iya. Pasti kamu juga tidak tahu apa arti namaku kan?"
"Memang artinya apa?"
"Arkie itu hitam. Gelap. Dan Hastin itu redup. Jadi matahari itu diciptakan untuk kegelapan. Dan membuat yang redup kembali bercahaya. Seperti Daisy untuk Arkie."

*****

Sun RiseHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin