buruk atau baik itu masih satu. Takdir
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari itu awal dari kisahku bersama mereka. Hari pertama saat aku bertemu denganya juga bertemu dengan dia. Saat itu, awal masuk pelajaran, seperti siswi baru pada umumnya, aku tidak mau terlambat dan menanggung resiko yang diberikan senior padaku. Jadi, aku mengecek sepedaku kemarin malam agar tidak terjadi insiden dadakan. Alhasil, sampailah aku tepat pada waktunya. Aku disambut dengan beberapa murid yang asyik mengobrol di mulut gerbang. Entah apa yang mereka bicarakan. Pertama kali masuk, kesan sekolah yang besar nan luas sudah terlihat saat mataku menatap enam menara di depan sekolah, serta lapangan yang beratusan hektar terhampar dimuka. Para murid baru memadati halaman parkir, memarkir kendaraan, atau hanya sekedar mondar-mandir, aku yang baru memarkir sepedaku lansung diarahkan seseorang ke aula tengah sekolah, sepertinya anggota osis.
Aula ini sangat luas, ventilasi udara terjajar rapi menempel di dinding-dinding yang berwarna biru kehijauan. Pintu yang besar dengan pahatan kuno peradaban, menyekat antara satu ventilasi dengan yang lainya. Kursi yang terjajar rapi sudah berdiri disana membawa nama seseorang. Aku berjalan kebelakang mencari namaku yang mengambang ditengah-tengah kursi. Aku duduk dikursi yang terdapat namaku, dengan cepat kursi itu memindai dataku lewat pendeteksi DNA yang menempel di lengan kursi. Ya, begitu mewah dan maju sekolah ini.
Saat semua kursi terisi, barulah alarm berbunyi, sepertinya alarm itu difungsikan untuk memberitahu apakah semua murid hadir, dengan keamanan yang tinggi seperti itu, pasti tidak akan ada yang berpikir untuk mengakali sekolah ini. Ya, aku hanya ketakutan akan peraturan di sekolah ini. Pas, setelah alarm berbunyi, laki-laki berbadan kekar naik ke panggung dan memberi sambutan kepada kami, para murid baru.
Acara penyambutan murid baru berjalan lancar, semua senior sangat senang mengetahui tidak ada satu muridpun yang tidak hadir, karena alarm penandanya sudah berbunyi tadi. Setidaknya yang dikatakan ketua osis itu membuatku lega karena, aku sama sekali tidak ingin menerima hukuman yang sedari awal sudah digembar-gemborkan oleh para osiss, ya,hukuman bagi siapa saja yang melanggar peraturan pertama dihari pertama “ satubison mati, yang lainpun akan mati. Karena mereka, hidup berkelompok”. Hingga tibalah bencana besar yang terlupakan bahwa ”bison tidak akan melewatkan rusa mati didepanya”. Beberapa anggota osis datang membawa satu siswa laki-laki. Seisi aula menatap mereka dan bertanya-tanya, siapa siswa itu? Kenapa datang bersama para aanggota osis?
Kelegaanku hancur seketika, jiwaku yang tadinya tenang, sekarang terusik akibat anak laki-laki itu, semua banyangan kesengsaraan menghampiri otakku. Dugaanku benar, saat ketua osis yang berdiri dipanggung berkata bahwa ia menemukan bibit jelek yang akan menghancurkan bibit unggul. Tapi, bagaimana bisa? Bukankah tadi alarm penanda sudah berbunyi? Itu artinyakan semua kursi terisi penuh, bagaiman dia bisa telat? Apa dia menggunakan rekayasa DNA? Bukankah itu terlalu ribet untuk alasan datang terlambat? Aneh. Semua orang menyayangkan hal itu, semua menatap tidak senang ke siswa laki-laki itu, begitu juga denganku. Tapi yang ditatap malah nampak biasa saja. Akibat ulahnya, kami semua mendapat hukuman.
“ayo, cabut rumputnya yang semangat. Linkungan bersih, belajar juga enak”
Memang benar apa yang dikatan anggota osis itu, tapi, sekolah ini besar tempat yang ditumbuhi rumput juga banyak.
“Harusnya dia saja yang dihukum! Kenapa kita semua? Peraturan menyebalkan!” ucap siswi disampingku.
“bukankah begitu? Ha?” ucapnya, meminta persetujuanku.
“iya” jawabku sambil terus mencabut rumput didepan mataku.
“hei, bukankah sekolah ini punya pemotong rumput? Kenapa tidak pakai itu saja? Merepotkan” gerutunya
Sekolah ini memang hidup akan teknologi, tapi sekolah ini juga akan melakukan apapun untuk mereka yang melanggar peraturan meski, sekolah ini tak butuh hal itu. Itu yang kupikirkan sedari tadi.
Acara memotong rumput selesai. Begitu pula dengan rangkaian penyambutan murid baru. Besok, proses sekolah akan berjalan seperti biasa.
Aku berjalan ke parkiran, hendak mengambil sepeda. Tapi, ada seseorang yang menaiki sepedaku. Seorang laki-laki yang benar-benar kuingat. Seseorang yang membuatku menerima hukuman.
“hei, awas. Ini sepedaku, Aku mau pulang” ucapku setengah membentak. Ya, aku masih kesal dengan anak ini.
Bukanya turun dari sepeda, dia malah menikmati jajan ditanganya.
“mau?” katanya, menyodorka jajan bekas gigitanya ke wajahku.
“tidak. Cepat, turun dari sepedaku!” ucapku tegas.
“ kau ini, pelit sekali! Dengan mata kecil seperti itu kau memelototiku dengan tajam di aula. Bagaimana bisa? Apa kau mengerahkan semua ototmu? Hahaha” ucapnya menertawaiku
“aku tidak memelototimu, tahu! Sudah turun sana!” jawabku, aku benar-benar ingin menjambaknya jika dia berdebat lagi denganku. Salah siapa datang terlamabat. Lagi pula, yang memelototinya aku yakin banyak, bukan aku saja.
“nah…seperti ini..seperti ini saat kau memelototiku tadi” jawabnya, dengan telunjuk yang teracung ke wajahku.
“terserah, aku akan mengadukanmu ke satpam karena menahan sepedaku” ucapku, berjalan meninggalkanya. Sebenarnya, aku tidak tahu apakah sekolah ini masih menggunakan jasa satpam, atau tidak karena tadi pagi aku tidak melihat satpam berdiri di depan gerbang. Lantas, bagaimana jika tidak ada satpam, mau ditaruh dimana mukaku. Aku berjalan terus hingga ke depan gerbang. Ah, untunglah ada satpam disana. aku menjelaskan soal keinginanku pulang. Mulutku sibuk bercerita ke pak satpam.
“jadi, adek ingin pulang tapi dicegat?” simpul pak satpam
“ia pak. Lagi pula aku tidak men___
Belum sempat aku meneruskan. Dia menghampiriku dengan sepedaku, lalu menarik tanganku dan membuatku terduduk tepat di boncengan belakang.
“kita pulang…sampai jumpa pak” ucapnya sambil tersensum lebar dan melambaikan tangan ke satpam
Dia mengayuh sepeda dengan cepat, membuatku harus menunggu untuk mengomel padanya soal dia menarikku dengan cepat. Bagaiman jika aku terjatuh tadi? Bagaimana jika perhitunganya soal menarikku tidak tepat? Dan, malah membuatku duduk diposisi yang salah? Tapi itu semua harus kusimpan, karena sekarang aku harus mencari pengangan agar tidak jatuh akibat gaya sepedaanya yang membelak-belokkan setir. Akhirnya, dia memelankan kecepatan gayuhanya setelah membuat jarak jauh dengan sekolah. Ini kesempatanku berbicara.
“he__
Belum sempat meneruskan dia kembali lagi mempercepat gayuhanya. Lebih cepat dari yang pertama.
“apa yang kau lakukaaaan…” teriakku
Lebih dari 15 menit aku terombang-ambing di tengah si gila ini menjadi nahkoda. Tiba-tiba dia menghentikan sepeda tepat didepan rumah besar yang megah nan mewah. Ya, aku lumayan sadar untuk mengakui itu saat ini. Kepalaku yang pusing dan sorot mata yang layu samar-samar melihat seorang laki-laki keluar dari rumah itu. Dan semua mendadak hitam.
***
“alhamdulillah. kamu sadar ayo minum dulu” ucap mama yang menyodongkan segelas air kepadaku
Aku tidak bertanya apa-apa, dan mama sudah menjelaskan bahwa aku tadi pingsan.
“untung saja temanmu baik, karena mau mengantar kamu. Jangan lupa besok bilang teimakasih ya! soalnya mama tidak sempat bilang” jelas mama
Teman? Teman yang mana? Aku kan belum punya teman di sekolah itu? Apa si gila itu yang mengantarku?dari mana dia tahu rumahku?
“cowok ma?mama Tanya namanya?” tanyaku.
“tidak lah. Mana sempat mama Tanya namanya, bilang terimakasih saja tidak” ucap mama.
“kalau sudah enakan dimakan ya” kata mama menunjuk makanan yang ada di atas meja. Aku mengangguk mengiyakan
Telepon yang berada didalam tas ranselku bordering, eh, nomor tidak dikenal. Siapa?
“halo, siapa?” tanyaku
“ah, kau sudah siuman rupanya, kalau begitu ya sudah ya. Aku mau makan” jawab seseorang dari seberang sana
“tunggu sebentar, anda siapa? Maaf sebelumnya, tapi dari mana anda dapat nomer ini?”tanyaku. seumur hidup aku tidak pernah menyimpan kontak anak laki-laki di handphoneku.
Terdengar tawa dari seberang sana
“hahaha, kau bilang, anda? Lucu sekali. Hei, dia sangat lucu. Baru tadi pagi dia memarahiku, sekarang sikapnya benar-benar sopan. Kau lupa? Aku ali, yang tadi siang mencegat sepedamu” serunya
Ah, si gila itu. Dari mana dia dapat nomerku?
“pantas saja, saat aku mendengar suaramu, tubuhku langsung merespon tidak enak. Ah, langsung saja. Kau dapat nomerku dari mana? Ha?”tanyaku, mengintimidasi
“tenanglah, aku tidak membuka macam-macam diponselmu” jawabnya
Ehm…ponselku?
“kau…kau mengambil nomerku tanpa ijin dariku? Sebentar, bagaiman kau bisa membuka ponselku? Kau tahu sandiku?” tanyaku
“paling tidak jangan tunjukan kebodohanmu, memakai nama panggilan sebagai sandi, cih. Aku sarankan pakai nama-nama yang tidak pernah diduga orang, seperti kayu.” Jawabnya
“hei, kenapa malah menasihatiku? Kau yang salah, sembarangan mnegambil nomer orang, harusnya kau__
“sudahlah, aku meneleponmu bukan untuk mendengar ocehanmu” jawabnya
Ha? Dimatikan? Bisa-bisanya dia mematikan panggilan saat seseorang sedang mengomel. Dasar tidak sopan.
“Aaahh…dasar!” teriakku
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Abu-Abu
Genç Kurgubagaimana jika aku salah mencintai? seseorang yang tidak ditakdirkan kucintai. aku malah mencintainya. dan, bagaimana jika yang ditakdirkan padaku, seseorang yang telah tiada?
